
"Aku gak akan miskin kalau cuma ngasih saham ke kamu," ucap Farel.
"Gak kamu, gak Lea sama-sama sombong," ucap Raila.
"Bukan hanya aku sama Lea, tapi Papa juga," ucap Farel.
"Kamu nih."
Mobil yang dikendarai Farel akhirnya berhenti di depan gedung megah yang termasuk ke dalam gedung terbaik di Asia. Bukan hanya karena modelnya yang bagus, tapi juga fasilitas penunjang yang ada di gedung tersebut.
Baru saja keluar dari mobil Farel dan Raila sudah di sambut beberapa karyawan, mereka menunduk hormat pada Farel dan Raila. Raila sedikit tidak enak karena ia melihat wanita yang usianya lebih tua darinya harus menunduk padanya
"Nona Raila sangat cantik ya," bisik para karyawan dan masih dapat didengar Raila.
"Terima kasih," ucap Raila, dengan tersenyum.
Karyawan tersebut pun terkejut karena Raila merespon ucapannya dan ia tersenyum cerah kearah Raila.
Masuk ke dalam gedung tersebut Raila dapat melihat resepsionis yang waktu pertama kali Raila ke kantor ini, Raila tersenyum kearah resepsionis tersebut dan dibalas olehnya.
Farel dan Raila pun menggunakan lift khusus petinggi menuju lantai ruang kerja Farel, saat lift terbuka Raila dapat melihat bagian sekretaris sekaligus resepsionis di lantai tersebut.
Raila melihat Adlin yang terkejut dengan kehadirannya dan setelah itu ia lun menunduk hormat pada Raila dan Farel.
Raila hanya menganggukkan kepalanya sebentar lalu kembali berjalan menuju ruang kerja Farel. Sesampainya di ruang kerja Farel, Raila pun duduk di sofa dan memejamkan matanya tanpa menunggu perintah dari Farel.
"Kenapa hm? capek ya?" tanya Farel, lalu duduk disamping Raila dan mengusap pelipis Raila dengan lembut.
Raila merasa tenang dengan tindakan Farel, bahkan Raila rasa ia bisa tertidur jika Farel terus mengusapnya, "Kau mau keliling perusahaan kamu, tapi aku ngantuk banget gara-gara kamu kayak gini," ucap Raila dan masih memejamkan matanya.
"Kalau gitu kamu tidur aja di kamar, nanti kalau aku udah selesai kerjanya biar aku yang bakal nemenin kamu keliling perusahaan," ucap Farel.
Kegiatan Farel terhenti lantaran Raila membuka matanya dan menatapnya, "Gak mau, aku mau keliling perusahaan kamu sendirian aja, aku mau lihat gimana perusahaan kamu secara langsung," ucap Raila.
"Gak boleh, kamu harus sama aku atau gak sama sekretarisku," ucap Farel.
"Tapi, aku pengen sendiri lagian aku juga bisa jaga diri kok. Karyawan kami kan tahu siapa aku, masa mereka aku nyakitin aku sih," ucap Raila.
"Tapi, sayang tetep aja, aku khawatir loh sama kamu. Nanti kalau kamu tersesat gimana," ucap Farel.
__ADS_1
"Gak bakal Farel, gini ya perusahaan kamu itu banyak karyawannya dan kalau pun aku tersesat pasti bakal ketemu. Di perusahaan kamu itu sistemnya canggih, jadi kamu gak perlu khawatir," ucap Raila.
"Huh, yaudah. Tapi, kamu bawa ponsel kamu dan jangan pernah lepasin anting kamu," ucap Farel, yang akhirnya harus mengalah meskipun sebenarnya ia enggan untuk mengizinkan radial pergi sendiri.
"Makasih, tapi aku kelilingnya nanti dulu. sekarang aku mau istirahat sebentar aja," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu kamu istirahat di kamar aja ya biar enak daripada di sini nanti yang ada badan kamu pegal-pegal lagi," ucap Farel.
"Gak usah, aku di sini aja lagian istirahatku cuma sebentar kok," ucap Raila dan diangguki Farel.
Farel kembali ke pekerjaannya dan Raila sedang mengistirahatkan tubuhnya di sofa, saat sedang fokus dengan berkas-berkasnya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu Farel pun segera menyuruh masuk orang tersebut.
"Ada apa?" tanya Farel, dengan pelan sehingga terkesan berbisik.
"Hah!"
"Ck." Farel berdecak dan menyuruh orang tersebut untuk mendekatinya menggunakan tangannya.
"Ada apa?" tanya Farel.
"Oh! ini gue dapat kabar kalau si Angel sama si Henry terkena kasus bullying terhadap model yang deket sama mantan pacarnya si Angel," ucap Evan.
"Hush, jangan keras-keras," ucap Farel.
Farel tidak mengucapkan apapun mengenai pertanyaan Evan, ia hanya menunjuk arah belakang Evan dengan dagunya. Evan pun mengikuti arah mata dan dagu Farel, lalu melihat seorang perempuan tengah tertidur dengan posisi yang meringkuk bahkan Evan tidak menyadari karena tubuhnya tertutup oleh sofa yang cukup besar itu.
"Dia daritadi di sini?" tanya Evan, dengan pelan agar tidak membangunkan Raila.
Farel hanya menganggukkan kepalanya atas pertanyaan dari Evan tadi.
"Dari jam berapa kok gue gak tahu?" tanya Evan.
"Udah dari tadi sih, mungkin jam 10 atau 11," ucap Farel dan diangguki Evan.
Akhirnya mereka pun mulai membahas beberapa hal mengenai keluarga Raila.
Saat sedang memeriksa berkas yang tadi di bawa Evan tiba-tiba suara lenguhan seorang perempuan membuat dua pria yang sedang sibuk itu lun menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah sofa. Benar saja Raila menggeliat bahkan merentangkan tangannya dan karena itu membuat bajunya tersingkap dan memperlihatkan perut ratanya.
Farel yang melihat hal tersebut pun terkejut bahkan ia lebih terkejut saat melihat Evan yang masih menatap Raila dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan. Farel melemparkan sebuah pulpen yang sejak tadi ia pegang ke kepala Evan dan karena hal itu mampu membuat Evan mengadu kesakitan.
__ADS_1
Setelah melemparkan pulpen kearah Evan, Farel pun beranjak dari kursi kebesarannya dan menuju kearah Raila, semakin dekat dengan Raila dan Farel dapat melihat mata Raila yang mulai mengerjapkan menyesuaikan pandangannya.
"Udah bangun, sayang," ucap Farel dan menurunkan baju Raila sehingga perut ratanya Kun tertutup bahan Farel bukan hanya menutup saja, tapi ia juga memberikan kecupan berkali-kali di seluruh wajah Raila.
"Udah jam berapa?" tanya Raila.
"Masih jam setengah 1 kok," ucap Farel.
"Hah! aku lama banget dong tidurnya kalau gitu. Kamu pasti belum makan ya gara-gara aku," ucap Raila.
"Aku masih belum lapar kok, nanti aku makan. lagian nih ya kamu itu tidurnya gak sampe 24 jam jadi gak lama," ucap Farel.
Farel yang melihat Raila ingin duduk pun membantunya, "Mau sesuatu?" tanya Farel.
"Hem, aku gak mau apa-apa kok," ucap Raila.
"Beneran?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Tapi, ini udah waktunya istirahat, jadi kita cari makanan ya biar kamu gak sakit atau bahan laper," ucap Raila dan diangguki Farel.
"Gue ikut dong," ucap Evan, yang berada di belakang Farel.
Raila baru sadar jika sejak tadi di ruangan tersebut bukan hanya ada dirinya dan juga Farel, tapi juga ada makhluk yang tak kasap mata yaitu Evan.
"Ck, ganggu aja lo. Cari makan sendiri sana," ucap Farel.
"Biasanya kalau gak ada radial aja lo sampe maksa gue buat nemenin lo makan. eh giliran ada Raila gue di lupain," ucap Evan.
"Ya iyalah orang istri gue ada kalau gak ada ya lo sebagai sekertaris harus temenin," ucap Farel.
"Udah sih kalian ini, ayo Van ikut aja," ucap Raila.
"Yang, kok dai boleh ikut sih," ucap Farel.
"Cuma makan aja loh, lagian bener kata Evan tadi, kamu itu jangan pas ada butuh doang inget sama Evan, takut pas udah gak butuh kamu lupain Evan. Gak baik tahu kalau kayak gitu," ucap Raila.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.