
"Gue cuma kasih tahu aja ke lo gimana gue sebenernya sebelum ketemu Raila, Raila yang berhasil merubah gue dan gue gak akan biarin siapapun ngerebut dia dari gue," ucap Farel.
"Gue bakal jauhin Raila, tapi tolong lepasin gue. Gue masih mau hidup, gue harus selamatin ibu gue dari Papa," ucap Dahri.
"Gue kasih kesempatan untuk hidup, tapi kalau sampai lo buat gue marah lagi, jangan salahin kalau Farel yang dulu bakal lo temui," ucap Farel.
Dahri yang melihat tatapan menakutkan dari Farel pun meneguk ludahnya, "Janji, gue gak bakal lagi ngelakuin hal yang buat lo marah," ucap Dahri.
"Gue bakal lepasin lo, tapi lo punya tugas setelah lo pergi dari ruangan ini," ucap Farel.
"Tugas? tugas apa?" tanya Dahri.
"Pancing Dandi untuk ketemu gue," ucap Farel.
"Dandi? maksudnya Dandi temen kerja gue?" tanya Dahri.
"Hem,"
"Gimana caranya gue mancing Dandi buat ketemu sama lo?" tanya Dahri.
"Itu tugas lo, yang jelas gue kasih waktu lo dua hari dan jika dalam dua hari lo gak bisa bawa Dandi ke gue, maka gue akan publish wajah ibu lo," ucap Farel.
"Oke, gue bakal bawa Dandi. Tapi, lo jangan publish wajah ibu gue," ucap Dahri.
"Kalau masalah itu gampang," ucap Farel.
Farel pun pergi dari ruangan tersebut dan mengendarai mobilnya pulang ke rumah keluarga Revion. Farel memang memutuskan untuk tetap tinggal bersama orangtuanya meskipun ia memiliki rumah sendiri, tapi Farel tidak ingin pergi meninggalkan rumah keluarga Revion karena ia takut jika orangtuanya sendirian.
Farel pernah mendengar saat Mama Aurel menangis karena ia merasa kesepian jika di ruang sendirian, apalagi Papa Aaron termasuk workholic. Raila pun tidak mempermasalahkan jika harus tinggal di rumah keluarga Revion karena ia jika mereka menempati ruang Farel, maka nantinya Raila juga akan merasa kesepian jika Farel kerja.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh akhirnya Farel pun sampai, saat masuk ke dalam rumah, Farel dapat melihat beberapa orang duduk dengan sopan di sofa ruang tamu.
"Ada apa ini?" tanya Farel, dengan nada tidak bersahabat.
"Eh, menantu Mama udah dateng," ucap Mama Sena, yang terlihat senang saat melihat Farel.
"Jelaskan ada apa?" tanya Farel kembali.
"Tidak, kita hanya ingin menjenguk Raila dan juga keluarga menantu keluarga Laksani," ucap Kakek Daffa.
"Heh, memangnya Raila keluarga kalian," ucap Farel.
"Tapi, Raila itu masih anak Mama loh," ucap Mama Sena.
"Ma, Raila dimana?" tanya Farel, pada Mama Aurel.
"Raila ada di kamar mungkin bentar lagi dia turun," ucap Mama Aurel dan diangguki Farel.
Farel pun menaiki tangga untuk menuju kamarnya, sesampainya di depan kamarnya Farel pun membuka kamar tersebut dan terpampanglah wajah cantik istrinya yang berada tepat didepannya.
Raila memang akan keluar dari kamar tersebut, namun belum sempat ia memegang gaggang pintu tiba-tiba pintu terbuka sendirinya dan ternyata Farel yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Raila, yang melihat Farel terus menatapnya.
"Mau kemana?" tanya Farel.
"Ke bawah," ucap Raila.
"Di bawah ada mantan keluarga kamu," ucap Farel.
"Iya, aku tahu kok," ucap Raila.
"Terus ngapain kamu ke bawah kalau tahu ada mantan keluarga kamu?" tanya Farel.
"mau ketemu aja," ucap Raila.
"Gak boleh," ucap Farel.
"Kenapa kok gak boleh sih?" tanya Raila.
Farel hanya diam dan menatap Raila dengan intens," Kenapa kok gak boleh?" tanya Raila kembali.
"Karena mereka gak penting," ucap Farel.
"Tapi, aku mau nagih sahamku ke mereka," ucap Raila.
"Katanya kamu kirim perwakilan kamu," ucap Farel.
"Rencananya gitu, tapi mereka tiba-tiba ke sini yaudah sekalian aja nagihnya sekarang," ucap Raila.
"Tapi, aku pengen ketemu mereka. Aku mau ngelihat gimana wajah mereka yang selama ini ngehina dan ngerendahin kamu," ucap Raila.
"Udah gak usah dilihatin gak penting," ucap Farel.
"Ck, tapi aku pengen ke bawah," ucap Raila.
"Huh, yaudah deh kamu boleh ke bawah, tapi nanti berang sama aku," ucap Farel.
"Yaudah, kalau gitu ayo kita ke bawah sekarang," ucap Raila.
"Nanti dulu ke bawahnya, sekarang aku baru pulang jadi aku harus mandi," ucap Farel.
"Berarti aku harus nunggu kamu mandi dong," ucap Raila dan diangguki Farel.
"Yaudah, kalau gitu kamu mandi sana," ucap Raila.
"Kenapa kamu duduk di sofa?" tanya Raila.
"Kan, kau nunggu kamu mandi," ucap Raila.
"Kamu nunggunya jangan duduk di sofa," ucap Farel.
"Hah! terus aku duduk dimana kalau gak di sofa?" tanya Raila.
__ADS_1
"Kamu nunggunya di dalam kamar mandi dan mandi bareng aku," ucap Farel.
"Gak mau, enak aja kalau itu mah maunya kamu," ucap Raila.
"Ya, emang itu maunya aku," ucap Farel.
"Aku gak mau, aku tadi udah mandi. Masa harus mandi lagi sih," ucap Raila.
"Gapapa sayang, lagian kita juga udah lama gak mandi bareng," ucap Farel dan tanpa persetujuan dari Raila, Farel pun menggendong Raila dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu mah kebiasaan!" teriak Raila, Farel hanya tertawa mendengar rengekan dan teriakan Raila yang lucu bagi Farel.
Setelah acara mandi bersama yang dilakukan Farel, saat ini Raila berdiri pun sudah berganti pakaian dan segera keluar kamar bersama Farel.
"Lama banget sih, ngapain aja tuh di dalem kamar," goda Lea, yang sedang duduk santai di meja makan.
"Biasalah kalau suami istri di kamar ngapain aja, makanya cepet cari pacar terus ngelakuin yang kayak Kakak lakuin," ucap Farel.
"Tenang Lea udah punya pacar bentar lagi juga bakal dateng kok," ucap Lea.
"Iya, pacar halu!" teriak Mama Sena, yang berada di ruang tamu bersama dengan keluarga Laksani.
"Mama harusnya itu dukung Lea, ini malah ikut ngejek, Lea!" teriak Lea.
"Udah kayak di hutan aja teriak-teriak," ucap Farel.
Farel dan Raila pun menuju ruang tamu dan setelah itu Raila duduk di samping Mama Aurel, "Maaf ya Ma lama," ucap Raila.
"Iya, gapapa sayang," ucap Mama Aurel.
"Raila," panggil Nenek Maria, dengan lembut.
"Ada apa ya Nyonya Maria?" tanya Raila.
"Sayang, kamu lupa sama Nenek, dulu kan kamu sering banget jalan-jalan sama Nenek ke taman dekat danau," ucap Nenek Maria.
"Raila tentunya ingat dong, kan Raila hampir aja mati gara-gara Raila jatuh ke danau, tapi gak ada yang bantu Raila dan malahan Nyonya Maria ngambil tas bermerek Raila dulu terus Raila di bantu sama orang yang Raila gak kenal bahkan setelah itu Raila gak di bawah ke rumah sakit," ucap Raila.
"Sayang, waktu itulah Nenek khawatir makanya Nenek gak bisa bantu kamu, tapi Nenek selalu berdoa kamu diberikan kesehatan loh sayang," ucap Nenek Maria.
"Untuk dijadikan tumbal balik untuk bisnis keluarga ya jelas Raila harus sehat terus dong," ucap Raila.
"Raila, jaga bicara kamu!" bentak Mama Sena.
"Jangan bentak menantu kesayangan saya," ucap Mama Aurel.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.