
Farel saat ini berada di kamarnya dan memeluk Raila yang tengah terlelap, Farel tidak berhenti mengusap lembut tangan Raila. Farel tahu Raila pasti kesakitan karena perilaku Calista padanya, bahkan Farel dapat melihat luka lebam yang ada di lengan Raila. Sudah lebih dari 5 jam Raila tidur dan hari pun mulai sore.
Farel mengusap lembut pipi Raila dan hal itu berhasil membuat tidur Raila terganggu dan mengerjapkan matanya, "Engggghh," lenguh Raila dan mulai membaik matanya.
"Ganggu ya," ucap Farel. Raila tidak merespon perkataan Farel justru Raila memeluk Farel dan mencari kenyamanan pada dada bidang suaminya itu.
"Mau makan?" tanya Farel.
"Gak mau," ucap Raila, dengan suara khas bangun tidurnya.
"Udah sore loh, kamu belum makan siang nanti kalau perut kamu sakit gimana hm," ucap Farel dan mengusap pelipis Raila.
"Tapi, aku ngantuk banget," ucap Raila.
"Nanti habis makan tidur lagi ya," ucap Farel.
Raila pun akhirnya membuka matanya dan mengerucutkan bibirnya, "Kenapa hm?" tanya Farel.
"Kamu mah ganggu aku tidur," ucap Raila dengan kesal.
Farel hanya tersenyum dan memeluk sayang Raila, "Kan aku khawatir kalau kamu laper pasti kamu belum makan nasi kan daritadi pagi," ucap Farel.
"Yaudah, ini aku mau mandi dulu," ucap Raila.
"Ayo," ucap Farel.
"Ayo kemana?" tanya Raila.
"Mandi," ucap Farel.
"Aku bisa mandi sendiri kok," ucap Raila.
"Kita mandi bareng, udah lama loh kita gak mandi bareng," ucap Farel.
"Lama apanya kayanya kemarin kita mandi bareng deh," ucap Raila, dengan kesal.
Tanpa banyak omong lagi Farel menggendong Raila menuju kamar mandi dan Raila hanya pasrah karena sekuat apapun Raila memberontak tetap saja ia akan kalah.
Setelah mandi dan kegiatan yang melelahkan bagi mereka di dalam kamar mandi, Farel dan Raila pun keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk keluar dari kamar. Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju meja makan, di sana semua orang sudah berkumpul dan saling mengobrol.
"Loh, udah bangun kamu sayang. Kalau gitu makan ya," ucap Mama Aurel.
"Hehehehe, iya Ma. Maaf ya baru bangun Railanya jadi gak bisa bantu Mama," ucap Raila.
__ADS_1
"Iya, gapapa kok sayang," ucap Mama Aurel.
Farel dan Raila pun menikmati makan sore dan selesai itu mereka mengobrol di meja makan dan saat mereka tengah asik mengobrol tiba-tiba mereka mendengar suara tamparan membuat mereka terkejut dan melihat ke ruang tamu.
"Sekarang kamu saya pecat! saya menyesal telah menerima kamu dan polisi ini ke sini untuk menangkap kamu yang telah berkhianat pada keluarga Revion!" bentak Papa Aaron, pada seorang perempuan yang menggunakan pakaian pelayan.
"Maafkan, saya Tuan," ucap perempuan tersebut.
"Kau pikir saya tidak tahu hah! kamu yang udah bekerjasama dengan Calista! apa maksud kamu kerjasama dengan dia hah!" bentak Papa Aaron.
"Maksud Papa apa? dia kerjasama sama Calista kok bisa?" tanya Mama Aurel.
"Tanya langsung ke dia apa alasan dia kerjasama sama Calista," ucap Papa Aaron, yang benar-benar menakutkan bagi Raila.
"Apa benar kamu bekerjasama dengan Calista?" tanya Mama Aurel.
"Maafkan saya nyonya, hiks ... hiks," ucapnya.
"Apa alasan kamu bekerjasama dengan Calista?" tanya Mama Aurel.
"Saya takut anak saya terluka karena saya menolak ajakan dari Nona Calista, hiks ... hiks," ucapnya.
"Bu Yeni," panggil lirih Raila.
"Ma, apa tidak ada cara lain selain di pecat, kasihan Bu Yeni dia sudah tidak punya pekerjaan lagi?" tanya Raila.
"Rai!" bentak Marvel.
Ini adalah pertama kalinya Raila dibentak oleh Marvel dan rasanya benar-benar menakutkan, Marvel menatap tajam Raila dan Raila hanya meneguk ludahnya.
"Jangan tatap Raila kayak gitu," ucap Farel, dengan dingin dan memeluk Raila.
"Ini udah keputusan Mama Rai, gimanapun juga dia tetap salah karena berkhianat," ucap Mama Aurel.
Raila tidak bisa mengatakan apapun dan akhirnya menyetujui apapun yang Mama Aurel katakan. Raila menghampiri Bu Yeni, "Kenapa Bu Yeni tega ngelakuin ini semua? kenapa Bu Yeni gak bilang ke Raila atau ke keluarga Mama Aurel?" tanya Raila, yang masih sopan.
"Maafin ibu Rai, ibu gak tahu harus gimana lagi. Ibu terpaksa karena perempuan itu mengancam akan melukai Bagas dan Citra," ucap Bu Yeni.
"Maafin Raila Bu, Raila gak bisa pertahanin Bu Yeni di rumah Yeni," ucap Raila.
"Gapapa nak harusnya ibu yang minta maaf karena telah membuat keluarga suami kamu seperti ini," ucap Bu Yeni.
"Jujur Rai kecewa sama Bu Yeni, tapi bagaimanapun Raila gak bisa berbuat apa-apa, Raila berharap Bu Yeni menyesal dengan perbuatan Bu Yeni dan mendapatkan hidup yang lebih baik lagi nantinya," ucap Raila dan diangguki Bu Yeni.
__ADS_1
"Makasih nak Raila selama ini ibu dan anak-anak ibu bisa hidup layak karena nak Raila dan keluarga suami nak Raila," ucap Bu Yeni.
"Terus Bagas sama Citra ikut dengan ibu?" tanya Raila.
"Mama akan bawa mereka ke panti asuhan," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
"Pak, kalian bisa bawa Bu Yeni," ucap Raila.
Setelah Bu Yeni di bawah oleh para petugas Raila pun melihat Bagas dan Citra, "Kalian Kakak bawa ke panti asuhan gapapa?" tanya Raila.
"Gapapa Kak, maafin ibu ya Kak," ucap Bagas.
"Iya," ucap Raila.
Akhirnya terselesaikan sudah masalah yang sebenarnya tidak terlalu rumit hanya saja ketidaktahuan itulah membuatnya seolah rumit. Setelah semuanya selesai mereka saat ini berada di ruang tamu, "Tapi, kenapa ada nama rumah singgah bunda ya?" tanya Joven.
"Karena ibu Calista punya cita-cita buat rumah singgah, tapi karena tidak pernah terealisasikan akhirnya rumah keluarga mereka dulu dibuat sebagai rumah singgah, tapi tidak ada yang mau ke sana jadilah rumah itu hanya nama," ucap Nenek Vina.
"Tapi, kenapa nama itu ada di batu nisan?" tanya Evan.
"Ibunya Calista itu kena gangguan jiwa, dia anggap dengan mengubur semua itu maka impiannya mendirikan rumah singgah pun hilang, tali nyatanya justru Calista yang meneruskan impian itu, tapi sayang impian itu tetap tidak pernah terwujud," ucap Nenek Vina dan diangguki orang-orang yang ada di sana.
"Tunggu, sampai lupa. Kenapa Nenek bisa ada di sini? bukannya kondisi Nenek tidak ada perkembangan sama sekali?" tanya Lea.
"Kata siapa?" tanya Nenek Vina.
"Kata Papa sama Kak Farel, tunggu! Papa sama Kak Farel bohongin Lea!" pekik Lea.
"Kakak gak pernah bohongin kamu kok orang setelah ngomong kalau nenek gak ada perkembangannya Kakak bilang itu bohong, tapi dalam hati," ucap Farel, dengan santainya tanpa merasa bersalah.
"Ck, itu sama aja tahu. Terus Papa juga sama kayak Kak Farel," ucap Lea.
"Ya, Papa mah ikut apa kata Farel," ucap Papa Aaron.
Benar-benar aneh harusnya Farel yang mengikuti Papa Aaron, tapi ini justru Papa Aaron yang mengikuti Farel.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1