Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Dalang Dari Semuanya


__ADS_3

Saat ini Farel berada di ruang kerja Papa Aaron, ia tidak sendirian melainkan di sana ada Joven, Evan dan juga Om Zack, "Kamu yakin nomor ini yang tadi ngehubungin Raila?" tanya Om Zack.


"Iya, Farel yakin," ucap Farel.


"Ada yang aneh," ucap Om Zack.


"Aneh? aneh apa Pa?" tanya Joven.


"Sinyal dari nomor ini ada di rumah ini," ucap Om Zack, yang tentunya membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut terkejut.


"Apa maksud Papa?" tanya Joven.


"Lihat ini, sinyal nomor ini justru ada di rumah ini," ucap Om Zack dan menunjukkan layar laptopnya.


"Dimana sinyal itu sekarang? lebih tepatnya dimana sinyal itu sekarang?" tanya Papa Aaron.


"Sebentar," ucap Om Zack.


Beberapa saat kemudian, Om Zack pun mengarah kembali layar laptopnya, "Sinyalnya berasal dari kamar Fa ... rel," ucap Om Zack.


"Hah! kamarku," ucap Farel, lalu berlari menuju kamarnya dan diikuti semua orang yang ada di sana.


Farel membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Namun, ia justru melihat pemandangan yang justru membuatnya emosi, dimana Farel melihat tangan Raila yang diikat ke belakang dan bukan hanya tangan melainkan kakinya juga di ikat di pinggi ranjang dan mulutnya yang ditutup oleh kain.


Farel berlari menuju Raila dan membukakan ikatan yang ada di tangan dan kaki Raila, setelah ikatan tersebut terlepas. Raila pun memeluk Farel dan menangis sejadi-jadinya di dalam dada bidang Farel.


Farel pun membalas pelukan tersebut dan mengusap punggung Raila, "Maaf, sayang," ucap Farel.


Farel tak lelah mengucapkan kata 'maaf' karena ia tidak ada saat Raila membutuhkannya. Di dalam kamar tersebut tidak hanya ada Farel dan juga Raila, tapi di sana juga ada Papa Aaron, Om Zack, Joven dan Evan.


Mereka semua terkejut saat masuk ke dalam kamar Farel dan melihat Raila yang sudah terikat, "Rel," panggilin lirih Raila.


"Kenapa sayang?" tanya Farel.


"Takut," ucap Raila, dengan nada bergetar.


"Kamu gak usah takut sekarang ada aku," ucap Farel dan semakin mengeratkan pelukannya.


Om Zack yang melihat ke sekeliling kamar Farel pun menemukan sebuah ponsel yang berada di atas ranjang, "Sepertinya ponsel ini yang sudah menelpon Raila," ucap Om Zack.

__ADS_1


"Rel, kamu tenangin Raila dulu, nanti kalau Raila sudah tenang baru kita minta radial ceritain semuanya. Papa tunggu di ruang kerja Papa, ayo semua kita keluar dari sini biarkan Farel menenangkan Raila dulu," ucap Papa Aaron dan diangguki semua orang yang ada di sana.


Setelah semua orang pergi dari kamarnya, Farel pun membawa Raila untuk duduk di sofa dan memeluknya lagi, "Tenang sayang, ada aku di sini. Kamu gak perlu takut lagi," ucap Farel.


Punggung Raila masih bergetar yang menandakan jika Raila saat ini masih menangis bahkan suaranya isakannya pun masih terdengar meksipun tidak sekeras tadi.


Selang beberapa menit kemudian, Raila pun melepaskan pelukan tersebut dan menatap Farel yang saat ini juga tengah menatapnya, "Kenapa hm?" tanya Farel, dengan menghapus air mata yang ada di wajah Raila.


"Takut," ucap Raila dan menundukkan kepalanya.


"Gak usah takut sayang, ada aku di sini. Maaf tadi karena aku gak ada di saat kamu butuh aku," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Mau cerita?" tanya Farel dan kembali diangguki Raila.


"Mau cerita sama Papa, Om Zack di ruang kerja Papa atau mau cerita sama aku aja di sini?" tanya Farel.


"Hem, di ruang kerja Papa aja, aku masih takut di sini," ucap Raila pelan dan untungnya Farel memiliki telinga yang tajam sehingga ia dapat mendengar ucapan Raila yang sangat pelan bahkan terkesan berbisik.


"Yaudah, kalau gitu kita ke ruang kerja Papa aja ya. Biar masalah ini terselesaikan," ucap Farel.


Farel dan Raila pun berjalan menuju ruang kerja Papa Aaron, "Loh! kenapa Rai juga di bawa ke sini?" tanya Papa Aaron.


"Mau cerita sekarang atau nanti aja?" tanya Farel.


"Sekarang," ucap Raila dan diangguki Farel.


## Flashback On ##


Setelah Farel pergi dari kamar Raila memutuskan untuk duduk santai dan menonton televisi tiba-tiba saja seorang perempuan berpakaian pelayan masuk ke dalam kamarnya.


"Maaf, Nona. Ini Tuan Zergan menyuruh saya untuk membawakan anda jus dan juga buah," ucap pelayan tersebut.


Raila tidak pernah melihat pelayan tersebut selama tidak tinggal di sini, "Maaf, kamu pelayan baru di sini?" tanya Raila.


"Iya, saya baru bekerja hari ini," ucap pelayan tersebut dan diangguki Raila.


"Kala begitu nanti akan aku minum sekarang kamu boleh pergi," ucap Raila.


"Tapi, Tuan Zergan mengatakan jika saya harus memastikan Nona meminum jusnya langsung," ucap pelayan tersebut.

__ADS_1


"Nanti pasti aku minum kok," ucap Raila.


"Tapi, saya takut karena ini perintah Tuan Zergan," ucapnya.


Raila yang melihat raut wajah ketakutan pelayan tersebut pun akhirnya meminum jus tersebut sampai habis, "Udah habis kan," ucap Raila.


"Baik, kalua begitu saya permisi Nona," ucapnya dan diangguki Raila.


"Aneh, tumben banget Farel nyuruh gue minum jus," gumam Raila.


Raila akhirnya kembali menonton televisi yang ada di kamarnya, hingga beberapa saat kemudian Raila merasakan pusing, "Kok tiba-tiba pusing kayak gini ya," gumam Raila, dengan memegang kepalanya.


Raila tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Namun, sebelum ia kehilangan kesadarannya ia melihat seorang perempuan yang berpakaian pelayan masuk ke dalam kamarnya. Raila tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah dari perempuan tersebut karena ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


Saat bangun Raila merasa sakit di sekujur tubuhnya, dan saat ia ingin menggerakkan tangan dan kakinya ternyata tidak bisa, Raila merasakan jika tangan dan kakinya diikat kencang bahkan mulutnya pun tertutup kain.


Raila mengedarkan pandangannya hingga matanya tertuju pada seorang perempuan yang tadi mengenakan baju pelayan dan memberikan jus padanya. Namun, kali ini perempuan tersebut tidak mengenakan pakaian pelayan melainkan sebuah dress yang terlihat elegan untuknya.


"Sudah bangun ternyata," ucapnya.


Raila mencoba untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Namun, tidak berhasil bahan tangan dan kakinya saat ini merah akibat ulahnya sendiri.


'Siapa dia? kenapa dia ngelakuin ini ke gue?' tanya Raila, dalam hati.


"Santai saja, aku akan memperkenalkan diri kalau begitu, kenalkan aku Calista. Kalau Farel sih biasanya manggilnya Tante Calista, tapi kalau kau terserah sih mau manggil apa," ucap Tante Calista.


Ya, dalang dari semuanya adalah Calista.


Raila tidak bisa mengatakan apapun karena mulutnya yang tertutup kain, "Kenapa gak bisa bicara ya, kasihannya keponakannya Tante ini, tapi Tante mau terima kasih loh ke kamu karena kamu, Farel mau menunjukkan identitas aslinya. Sebenarnya Tante tahu dari dulu siapa itu Tuan Zergan, tapi Tante ingin publik mengetahuinya dan setelah itu barulah Tante akan melakukan tugas Tante," ucap Tante Calista.


Tante Calista berjalan maju menghampiri Raila dan mencekik leher Raila, Raila yang kesulitan bernapas pun langsung menendang perut Tante Calista dengan kedua kakinya yang terikat hingga Tante Calista terduduk.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2