
"Sayang, harusnya kamu cium aku itu pas kamu gak kedatangan tamu, kalau kayak gini kan aku juga yang tersiksa!" teriak Farel dari luar kamar dan Raila hanya tertawa mendengarnya.
Setelah membersihkan dirinya Raila pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap, saat ia keluar dari kamar mandi Raila melihat Farel yang tidur di kasur, "Ck, kalau kayak gini pasti Farel males mandi," gumam Raila.
Raila pun menghampiri Farel dan membangunkannya, "Rel, bangun ih kamu belum mandi nanti kamu bau loh, kalau kamu gak mandi aku gak mau ya tidur sama kamu," ucap Raila.
Namun, semua usahanya tidak membuahkan hasil karena Farel tidak bergeming sama sekali, "Ini Farel tidur apa latihan mati sih kok gak bangun-bangun, mana dari tadi posisinya tengkurap gini gak sakit apa badannya," ucap Raila.
Raila tetap berusaha untuk membangunkan Farel karena Raila memang orang yang tidak suka jika tidur belum mandi baik itu dirinya ataupun orang yang akan tidur dengannya.
"Ish, kamu marah nih kalau kamu gak bangun. Farel bangun!" teriak Raila.
Farel tetap tidur dengan tenang di kasur tanpa tahu jika saat ini Raila frustasi karena dirinya, "Fa - farel bangun, hiks hiks hiks," ucap Raila dan akhirnya tumpah sudah air mata yang sejak tadi ia tahan untuk turun.
Farel memang peka sekali jika mengenai tangisan Raila, buktinya saat ini Farel merasa terganggu dengan suara isak tangis seseorang dan dengan cepat Farel membuka matanya dan betapa terkejutnya saat melihat Raila yang menangis di sampingnya.
"Loh, sayang kok kamu nangis, kenapa hm? siapa yang buat kamu nangis kayak gini bilang ke aku biar aku hajar orangnya? berani-beraninya buat kamu nangis kayak gini," tanya Farel.
"Kamu orangnya," ucap lirih Raila, yang masih sesenggukan.
"Aku? aku memangnya ngapain kamu kok sampe kamu nangis kayak gini?" tanya Farel.
"Aku daritadi bangunin kamu, tapi kamunya gak bangun-bangun. Aku capek tahu harus bangunin kamu, hiks hiks," ucap Raila.
"Maaf, aku capek banget. Kenapa kamu bangunin aku hm?" tanya Farel.
"Kamu mandi terus tidur," ucap Raila.
"Iya, sayang. Maaf ya karena aku gak bangun-bangun waktu kamu bangunin aku," ucap Farel dan diangguki Raila.
"Yaudah, kalau gitu aku mandi dulu ya," ucap Farel.
Sebelum pergi Farel terlebih dahulu mengecup kedua mata Raila dan menghapus air matanya, "Udah ya jangan nangis lagi," ucap Farel.
Farel pun beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi, "Lama-lama gue bisa spot jantung kaku deket sama Farel, padahal gue udah ngelakuin hal lebih intim sama Farel. Tapi, kenapa kok gue tetep deg-degan kayak gini ya," gumam Raila.
Beberapa saat kemudian, Farel pun keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Raila. Setelah semuanya selesai Farel pun merebahkan tubuhnya di samping Raila dan memeluk Raila yang tidur membelakanginya.
"Udah mandinya?" tanya Raila dan membalikkan badannya.
"Kamu belum tidur, aku kirain udah tidur," ucap Farel.
Bukannya merespon perkataan Farel, Raila justru berdiri dan beranjak pergi dari kamarnya. Hal itu tentunya membuat Farel bingung dengan Raila.
"Kamu mau kemana?" tanya Farel.
"Ck, aku daritadi itu nungguin kamu loh buat makan browniesnya," ucap Raila.
__ADS_1
Farel menepuk jidatnya karena lupa jika ada brownies yang tadi dibuat para perempuan di rumahnya, "Astaga! lupa aku," ucap Farel.
"Aku mau keluar, mau makan browniesnya kalau kamu mau di kamar juga gapapa sih, aku gak ada masalah," ucap Raila.
"Ayo, aku juga ikut keluar kok," ucap Farel dan menggenggam tangan Raila.
Mereka berdua pun keluar dari kamar dan menuju dapur, "Kamu cari browniesnya ya sayang?" tanya Mama Aurel.
"Iya, Ma. Browniesnya masih ada kan?" tanya Raila.
"Ada dong, Mama gak bolehin semuanya makan kalau kamu belum makan," ucap Mama Aurel dan membuat Raila tersenyum bahagia.
"Kalau gitu Raila mau makan browniesnya," ucap Raila.
"Sebentar ya Mama ambilin dulu, mendingan kamu nunggunya di ruang tamu aja," ucap Mama Aurel.
Raila pun keluar dari dapur dan menuju ruang tamu lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, beberapa saat kemudian Mama Aurel pun datang membawa satu loyang penuh brownies.
"Ini browniesnya sayang," ucap Mama Aurel dan menaruh brownies tersebut di atas meja.
"Raila kayak tuan putri aja harus di alami kayak gini, Ma. Hehehehe," ucap Raila.
Mama Aurel tersenyum kearah menantu kesayangannya itu, "Kamu itu memang Tuan putri dirumah ini," ucap Mama Aurel.
"Makasih, Ma," ucap Raila dan diangguki Mama Aurel.
"Karena Kak Raila udah makan browniesnya berarti sekarang Lea boleh makan browniesnya juga kan?" tanya Lea.
"Sebentar kamu Mama ambilin browniesnya," ucap Mama Aurel.
"Loh, kan ini ada brownies, Ma," ucap Raila.
"Brownies ini khusus untuk kamu, kalau untuk yang lain Mama ambilin dulu di dapur," ucap Mama Aurel dan pergi meninggalkan semua orang yang ada di sana.
"Mama ini gak adil deh," ucap Lea.
"Kalau gitu ini kamu makan punya Kakak, lagian Kakak juga gak bakal habis kalau makan brownies sebanyak ini," ucap Raila.
"Oh tidak bisa, ini browniesnya," ucap Mama Aurel dan menaruh satu loyang penuh brownies di depan Lea.
"Buat Farel?" tanya Farel.
"Kamu ambil sendiri di dapur," ucap Mama Aurel.
"Buat Papa?" tanya Papa Aaron.
"Papa juga ambil sendiri di dapur," ucap Mama Aurel.
__ADS_1
"Farel sama Papa ini habisin aja punya radial, lagian Raila cuma tiga gigit aja udah kenyang," ucap Raila.
"Loh, sayang kamu gak habis," ucap Mama Aurel.
"Ini banyak banget loh, Ma," ucap Raila.
"Lea aja udah mau habis," ucap Lea.
Semua orang yang ada di sana pun menoleh ke arah Lea dan benar saja jika browniesnya tinggal setengah. Sedangkan, Raila bahkan sepertiga saja belum habis.
"Lea, kamu bisa habisin itu semuanya, wah! keren," ucap Raila.
"Kalau Kakak gak habis biang aja ke Lea, ini perut Lea yang kiri belum ke isi kok," ucap Lea.
"Jangan banyak makan manis-manis gak bagus loh buat kesehatan kamu," ucap Mama Aurel.
"Hehehe, habisnya enak banget sih browniesnya," ucap Lea.
.
Malam harinya semua keluarga Revion sedang menonton televisi yang berada di ruang tamu, "Besok keluarga Tante Gea bakal tinggal di sini," ucap Papa Aaron, yang memecahkan keheningan yang ada di ruang tamu.
"Loh! kenapa?" tanya Mama Aurel.
"Ya gapapa sih, tapi sekali-kali lah adikku tinggal di sini," ucap Papa Aaron.
"Yeah! Naomi ikut dong artinya Lea bakal ada temen begadang," ucap Lea.
"Jangan suka begadang gak baik untuk kesehatan kamu," ucap Mama Aurel.
"Terus Frans tahu kalau mereka bakal tinggal di sini? dia kan lagi di Jepang," tanya Mama Aurel.
"Frans tahu dan dia tidak mempermasalahkannya," ucap Papa Aaron.
"Tapi kan Thalita lagi sakit, Pa. Emangnya gapapa kalau Thalita keluar dari rumah?" tanya Raila.
"Gapapa kok, lagipula kasihan kalau Thalita ditinggal sendirian di rumah," ucap Papa Aaron.
Farel hanya diam karena ia sudah tahu hal tersebut dari Papa Aaron tadi saat mereka berada di ruang kerja dan memberitahukan semuanya pada Om Frans dan Om Frans pun menyetujuinya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1