
Sudah seminggu semenjak kepergian Papa Alvan dan Mama Sena, selama itu pula Raila sedikit berubah. Saat ini Raila jarang menunjukkan senyumannya pada semua orang, "Sayang, makan yuk," ajak Farel.
"Aku tadi udah makan kok sama Mama," ucap Raila.
"Beneran udah makan?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Yaudah, kalau gitu gimana kalau kita jalan-jalan aja," ajak Farel.
"Boleh, kemana emangnya?" tanya Raila.
"Kamu maunya kemana?" tanya Farel.
"Kan kamu yang ngajak aku, jadi aku gak tahu mau kemana," ucap Raila.
"Gimana kalau kita ke festival musik aja kayaknya di sana seru," ucap Farel.
"Boleh, kalau gitu aku siap-siap dulu," ucap Raila dan diangguki Farel.
Beberapa saat kemudian, Raila pun selesai bersiap dan begitupun dengan Farel, "Udah ayo berangkat,' ajak Farel.
"Kita naik sepeda motor aja gimana?" tanya Raila.
"Iya sayang," ucap Farel.
Farel dan Raila saat ini berada di salah satu festival musik yang ada di kota, sejujurnya Raila masih terpuruk karena kepergian Papa Alvan dan Mama Sena, tapi bagaimanapun Raila tidak ingin mengecewakan Farel yang sudah berusaha untuk membuatnya tersenyum.
"Giman seru gak?" tanya Farel.
"Iya, seru kok," ucap Raila.
Kurang lebih selama 3 jam mereka berdua asik menonton festival musik tersebut, mereka berdua pun memutuskan untuk jalan-jalan ke sekeliling tempat festival yang ternyata di sana juga terdapat stand makanan.
"Kamu mau makan yang mana?" tanya Farel.
"Aku gak tahu, aku masih belum lapar sih. Tapi, aku haus," ucap Raila.
"Yaudah kalau gitu ayo mau beli minuman apa?" tanya Farel.
"Hem, air putih aja deh. Aku lagi gak kepengen minum-minuman yang ada rasanya," ucap Raila.
"Yaudah deh kamu tunggu di sini aja biar aku beliin minum dulu ya," ucap Farel dan diangguki Raila.
Farel pun pergi meninggalkan Raila, saat sedang menunggu Farel tiba-tiba dua orang duduk di kursi yang ada di depannya, "Gue denger bokap sama nyokap lo udah gak ada ya, gue turut berduka cita ya. Gue gak nyangka kalau kalua mereka bakal cepet meninggalnya. Kalau tahu gitukan gue bakal minta tandatangan buat rumah mereka, lumayan kan gue dapat rumah gratis," ucap Angel.
Raila tidak mendengar perkataan Angel, ia hanya menatap bergantian antara Angel dan perempuan yang duduk di sebelah Angel, "Kayaknya lo lagi jalan-jalan ya sama sahabat lo," ucap Raila.
Angel menoleh ke perempuan yang duduk di sebelahnya dan ia lun tersenyum, "Iya dong. Gue kan punya sahabat gak kayak lo yang gak punya apa-apa, sekarang kan lo itu cuma sebatang kara. Kakak lo pergi ke luar negeri, adik lo entah kemana," ucap Angel.
"Terima kasih udah ngingetin status sebatang kara ke gue," ucap Raila.
__ADS_1
"Sama-sama," ucap Angel.
"Oh iya, gue lupa anggota keluarga Laksani pasti gak ada yang datang di pemakaman keluarga lo ya, pasti itu soalnya keluarga Laksani itu kan gak pernah nganggep keluarga lo itu termasuk bagian dari keluarga Laksani, jadi wajar dong kalau keluarga Laksani gak datang," ucap Angel.
"Bukannya keluarga Laksani gak datang soalnya perusahaan mereka yang terancam bangkrut karena banyak investor yang membatalkan kerjasamanya," ucap Farel, yang membawa dua minuman dan duduk di sebelah Raila.
Farel menatap tajam kearah Angel dan perempuan yang ada di sebelah Angel, "Bukannya dia itu mantan sahabat kamu ya?" tanya Farel.
"Iya, dia itu mantan sahabat aku, tapi dulu," ucap Raila.
Ya, perempuan yang datang bersama dengan Angel adalah Vanya.
"Ada apa kalian ke sini? kalau kalian ke sini cuma ingin membicarakan hal-hal yang gak penting mendingan kalian pergi sana," ucap Raila.
"Lo tenang aja kita di sini cuma mau ngucapin belasungkawa atas meninggalnya bokap sama nyokap lo," ucap Angel.
"Gue gak butuh ucapan belasungkawa dari lo berdua," ucap Raila.
"Padahal kita niatnya baik loh," ucap Angel.
"Udah deh kalian pergi sana ganggu gue sama suami gue yang mau pacaran tahu gak," ucap Raila.
"Oke, gue sama Vanya bakal pergi," ucap Angel.
Angel pun berdiri. Namun, bukannya pergi Angel justru mendekati Raila dan berbisik pada Raila, "Lo harus segera temuin Lexa si adik biadab lo itu, gara-gara dia bokap lo jadi sakit," bisik Angel.
Raila dapat melihat wajah Angel yang sangat tidak bersahabat, Angel dan Vanya pun akhirnya pergi dari tempat tersebut.
"Dia tadi bilang apa ke kamu?" tanya Farel.
"Udah gak usah dibahas dianya, dia itu gak penting," ucap Raila dan diangguki Farel.
"Haus banget," ucap Raila, setelah menghabiskan air putih yang tadi di belikan oleh Farel.
"Mau aku beliin lagi?" tanya Farel.
"Gak perlu, sekarang kita pulang aja gimana, aku capek banget pengen tiduran," ucap Raila.
"Yaudah, ayo kita pulang," ucap Farel dan menggenggam tangan Raila.
Beberapa saat kemudian, Farel dan Raila pun sampai di rumah, "Kakak darimana aja kenapa gak ngasih tahu Lea?" tanya Lea.
"Kencan dong," ucap Farel.
"Ish, Kakak mah. Padahal Lea juga pengen jalan-jalan loh, Lea denger dari Mama katanya Kakak ke festival musik," ucap Lea.
"Iya, tadi kita ke sana," ucap Raila.
"Kenapa gak ngakak Lea sih, Lea tuh pengen banget ke festival musik, tapi gak pernah kesampaian," ucap Lea.
__ADS_1
"Kan Kakak bilang mau kencan artinya hanya berdua dong sama pasangannya Kakak. Kalau kamu pengen ke sana ta kamu ke sana aja mumpung acaranya masih ada sampai nanti malam," ucap Farel.
"Ish, gak mau. Orang Lea akunya sama Kakak juga," ucap Lea.
"Udah Kakak ngantuk, kapan-kapan Kakak ajak kamu ke sana," ucap Farel.
"Kapan?" tanya Lea.
"Ya, kapan-kapan," ucap Farel dan menggenggam tangan Raila lalu menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Raila pun membersihkan tubuhnya dan setelah itu Farel. Saat Farel keluar dari kamar mandi Raila sedang berada di balkon sehingga tidak mendengarnya.
Farel sendiri yang tidak melihat keberadaan Raila sempat panik, tapi saat melihat bayang Raila, ia pun segera menghampiri Raila dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa hm?" tanya Farel.
"Gapapa kok. Kamu mau aku siapin makanan?" tanya Raila.
"Gak perlu, aku masih kenyang kok," ucap Farel dan diangguki Raila.
"Kalau gitu sekarang kita bahas masalah kita," ucap Farel.
"Masalah apa?" tanya Raila, yang akhirnya membalikkan tubuhnya menghadap Farel.
"Masalah kepindahan kita, kamu udah siap pindah atau kamu perlu beberapa waktu lagi buat pindah?" tanya Farel.
"Emangnya harus banget ya pindah?" rabat Raila.
Farel hanya tersenyum mendengar pertanyaan Raila lalu ia pun menganggukkan kepalanya, "Iya, sayang harus banget. Lagipula kita ini udah nunda selama satu Minggu loh," ucap Farel.
"Aku mah ngikut kamu aja deh," ucap Raila.
"Kalau kamu memang butuh waktu, aku bakal kasih waktu mungkin beberapa hari lagi untuk kamu di sini dan aku bakal ke Belanda sendiri dulu karena perusahaan di Belanda emang bener-bener harus segera aku tangani," ucap Farel.
"Aku ikut kamu aja, aku gak mau terus terpuruk. Aku juga yakin Papa sama Mama juga bakal sedih kalau ngelihat aku kayak gini," ucap Raila.
"Kalau gitu kita pindah dua hari lagi, kamu gak masalah?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Terus masalah Lexa, kamu udah ada kabar?" tanya Raila.
"Masih belum sayang, tapi kamu gak perlu khawatir aku akan pastiin anak buahku menemukan Lexa ya," ucap Farel dan diangguki Raila.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1