Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Menemani Farel


__ADS_3

Farel melepaskan pelukan tersebut dan menatap tajam kearah sekretaris perempuannya, "Kenapa kamu gak bilang kalau ada yang mencari saya, kamu tahu siapa dia?" tanya Farel.


"Maaf Tuan, saya salah. Saya tidak tahu perempuan itu siapa," ucap sekretaris perempuan tersebut.


"Huh, dia itu istri saya dan untuk semuanya saya katakan kalau istri saya datang ke kantor dia tidak perlu meminta izin untuk bertemu saya, dia bebas keluar masuk ke ruangan saya bahkan saat saya tidak ada di kantor hanya istri saya yang boleh masuk, paham," ucap Farel dan diangguki para pegawainya yang ada di lobby.


"Wah! keren Bu Bos," ucap Evan.


"Iya, dong," ucap Raila.


"Kamu juga, kamu itu baru dua Minggu di sini, tapi sudah membaut kesalahan yang cukup fatal, kalau kamu sudah tidak mampu bekerja di sini, kamu bisa ajukan surat pengunduran diri ke bagian HRD," ucap Farel.


"Maafkan saya Tuan. Saya salah, saya akan perbaiki sikap saya untuk kedepannya dan untuk Nona saya juga minta maaf karena telah membuat kesalahan pada anda," ucapnya.


"Hem." Raila tidak melihat ke arah sekretaris tersebut karena masih marah.


"Yaudah, kalau gitu kita ke ruanganku," ucap Farel dan menggandeng tangan Raila menuju ruangannya dan tentuanya diikuti Evan dan sekretaris perempuannya.


Sesampainya di ruangan Farel, Raila pun duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, "Aku kok baru lihat sekretaris kamu yang tadi sih, emangnya dia masih baru ya di sini?" tanya Raila.


"Iya, dia baru kerja dua Minggu," ucap Farel.


"Lah! Gea kemana?" tanya Raila.


"Dia udah gak kerja di sini soalnya dia udah nikah sama tentara dan dia pindah ke luar kota," ucap Evan, yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Tadi lo gak diapa-apain sama pegawai sini kan?" tanya Evan.


"Gak kok, ya cuma sekretaris barunya aja yang gak ngebolehin masuk," ucap Raila.


"Kenapa kamu telpon aku kalau kamu udah sampe?" tanya Farel.


"Aku lupa gak bawa handphone, aku rencananya mau langsung ke ruangan kamu, tapi gak enaklah," ucap Raila.


"Terus kenapa resepsionis itu gak suruh kamu masuk sih, tapi malah nanya ke sekretarisku?" tanya Farel dengan kesal.


"Resepsionisnya gak salah kok,dia malah tanah sama aku, ya walaupun kelihatan juga sih kalau dia gak suka sama aku. Tapi, dia gak sampe ngomong kasar gitu kok ke aku, lagian nih ya dia kan cuma ngejalanin tugasnya. Nanti kalau sembarangan orang yang masuk ke ruangan kamu juga dia pasti yang di salahin," ucap Raila.


"Tapi, ini kamu loh yang mau ketemu sama aku, kamu itu istriku," ucap Farel.


"Iya, aku tahu, tapi resepsionisnya gak tahu kalau aku itu istri kamu, jadi wajarlah kalau dia gak nyuruh aku masuk," ucap Raila.


"Hah! masa dia gak tahu siapa lo sih," ucap Evan.


"Iya, dia gak tahu. Orang tadi pas aku habis teriak ke Farel, dianya malah nasehatin aku katanya jangan teriak-teriak soalnya aku bakal kena masalah gitu," ucap Raila.

__ADS_1


"Ya, bener sih kata resepsionis lo nanti bakal kena masalah kalau teriak ke Farel. Tapi, karena lo istrinya jadi kayaknya gak ada masalah deh," ucap Evan.


"Merasa terhormat loh aku diperlakukan istimewa," ucap Raila.


"Kamu makan," ucap Farel.


"Gak ah, aku tadi sebelum ke sini udah makan. Oh iya, aku tadi juga siapin buat Evan kok, karena aku tahu pasti kalian belum makan, ini tadi aku juga siapin buat Gea. Tapi, ternyata dia udah gak kerja, jadi aku kasih ke sekretaris kamu yang baru aja kasihan dia pasti juga belum makan," ucap Raila.


"Biar aku aja yang kasih, Rai," ucap Evan.


"Gak usah, biar aku aja," ucap Raila, lalu keluar dari ruangan tersebut.


"Hai!" sapa Raila, pada sekretaris baru Farel.


"Nona," ucap sekretaris tersebut.


"Nama kamu siapa?" tanya Raila.


"Nama saya Adlin Nona," ucap Adlin.


"Nama yang bagus, kenalkan saya Raila," ucap Raila.


"Maaf Nona karena saya tadi anda menunggu lama Tuan Zergan," ucap Adlin.


"Udah gapapa, aku gak mau bahas masalah itu juga kok. Aku ke sini cuma mau ngasih ini aja, tadi aku bikin untuk semuanya. Aku kira Gea masih kerja di sini, tapi ternyata dia udah gak kerja di sini lagi makanya makanan ini aku kasih ke kamu semoga suka ya," ucap Raila dan diangguki Adlin.


Setelah memberikan makanan tersebut Raila pun masuk ke dalam ruang kerja Farel, "Loh kalian kok belum makan," ucap Raila.


"Nih cowok lo katanya nungguin lo, gue udah laper mau makan eh nih cowok malah ngelarang gue makan," ucap Evan.


"Yaudah, aku udah di sini sekarang kalian berdua makan gih," ucap Raila.


"Ayo kita makan berdua," ucap Farel.


"Tapi, aku tadi udah makan," ucap Raila.


"Pasti makannya cuma dikit," ucap Farel dan memakan makanan yang Raila bawa tadi dan setelah itu ia juga memberikan makanan tersebut pada Raila.


"Tapi, aku tadi beneran udah makan loh," ucap Raila.


"Gapapa sayang kamu makan lagi," ucap Farel.


"Kayaknya gue harus pergi deh dari sini, bisa-bisanya gue jadi nyamuk di sini, gue pergi dulu ya. Thanks ya Bu Bos udah kasih makanan," ucap Evan, lalu pergi dari ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian, Farel dan Raila pun selesai dengan acara makan mereka. "Kamu mau pulang Yang?" tanya Farel, karena melihat Raila yang ingin mengambil tasnya.

__ADS_1


"Iyalah, aku kan ke sini cuma mau bawain kamu makan siang," ucap Raila.


"Pulangnya nanti aja loh bareng aku," ucap Farel.


"Gak mau ah, kamu kalau pulang malem," ucap Raila.


"Gapapa Yang, aku bosen kerja loh," ucap Farel.


"Kalaupun ada aku juga percuma soalnya aku gak ada gunanya di sini," ucap Raila.


"Kata siapa, kalau ada kamu. Aku malahan semangat kerjanya, soalnya ada pemandangan indah di ruanganku," ucap Farel.


"Kamu gak cocok banget gombalin aku," ucap Raila.


"Aku lagi gak gombalin kamu loh Yang," ucap Farel.


"Udah ah, aku mau pulang aja," ucap Raila.


"Yaudah, kalau gitu aku pulang juga," ucap Farel.


Raila yang melihat gerak gerik Farel pun menahan tangan Farel, "Kamu itu harus kerja selesain semua pekerjaan kamu, katanya kamu mau segera pindah ke Belanda. Kalau kamu gak selesain pekerjaan kamu gimana mau pindahnya," ucap Raila.


"Habisnya kamu gak mau nemenin aku, aku itu pengen banget loh kerja sama kamu," ucap Farel.


"Ck, yaudah aku gak pulang, aku bakal temenin kamu," ucap Raila.


Akhirnya Raila pun memutuskan untuk menemani Farel di kantor hari ini, walaupun Raila sangat malas karena ia pasti akan bosan nanti.


"Kalau gitu kamu duduk di sebelahku," ucap Farel.


Farel menarik kursi yang ada di depan meja kerjanya ke samping kursi kebesarannya, "Kamu duduk di sini," ucap Farel.


Raila pun menuruti apa yang diperintahkan Farel, "Terus aku ngapain di sini. Ya masa aku cuma nonton kamu kerja sih," ucap Raila.


"Kamu bisa main game," ucap Farel.


"Kan ponselku ketinggalan Farel," ucap Raila.


"Hehehe, iya lupa. Kalau gitu pake ponselku," ucap Farel.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2