
Farel dan Raila saat ini sudah berada di rumah, tadi saat mereka baru saja sampai di rumah, Mama Aurel sudah berada di depan pintu dan membantu Farel untuk masuk ke dalam rumah lalu mendudukkan Farel ke sofa yang ada di ruang tamu.
"Ini kenapa sampe bisa kayak gini sih?" tanya Mama Aurel.
"Farel bisa jalan, Ma. Orang yang ketusuk cuman tangan doang bukan kaki ngapain sampe di jalan aja di pegangin sih," ucap Farel.
"Ya, tetep aja Mama khawatir tahu gak, kamu itu jarang bahkan gak pernah sampe luka tusuk kayak gini," ucap Mama Aurel.
"Namanya juga laki-laki Ma, udah Farel gapapa kok, jadi Mama gak perlu khawatir. Tapi, siapa yang ngasih tahu Mama kalau Farel luka? apa Lea yang yang udah ngasih tahu?" tanya Farel.
"Lea aja belum pulang dari tadi, padahal katanya dia mau jadi asisten pribadinya menantu Mama," ucap Mama Aurel.
"Hah! Lea belum pulang, tadi Farel udah nyuruh dia pulang padahal," ucap Farel.
"Pasti dia lagi jalan-jalan sama temen-temennya," ucap Mama Aurel.
"Terus Mama tahu darimana?" tanya Farel.
"Dari Evan, tadi katanya Evan nelpon kamu, tapi gak bisa gitu terus nelpon Mama deh dan pas Mama batu aja angkat teleponnya tiba-tiba Evan tanya keadaan kamu? luka tusuknya udah di obati apa belum gitu yaudah deh dari situ Mama tahu kalau aku luka," ucap Mama Aurel.
"Kamu gapapakan sayang?" tanya Mama Aurel, pada Raila yang berada di samping Farel.
"Raila gapapa kok, Ma. Untung ada Farel yang tadi bantu Raila," ucap Raila.
"Tapi, Farel kok bisa kamu di kantornya Raila yang dulu? bukannya kamu hari ini ada urusan ya?" tanya Mama Aurel.
"Urusannya selesainya cepet kok, Ma. Makanya Farel langsung samperin Raila, ya walaupun sedikit telat, tapi Farel masih bisa selametin Raila," ucap Farel.
"Syukurlah kalau gitu, padahal Mama udah khawatir banget loh," ucap Mama Aurel.
"Papa kemana, Ma?" tanya Farel, karena ia tahu jika hari ini Papa Aaron tidak berangkat ke kantor.
"Papa kamu lagi di ruang kerjanya, kenapa emangnya?" tanya Mama Aurel.
"Ada yang Farel mau omongin sama Papa soalnya," ucap Farel.
"Yaudah, kamu masuk aja lagian Papa kamu juga udah lama banget di ruang kerjanya," ucap Mama Aurel dan diangguki Farel.
"Kamu mau aku anterin ke kamar atau gimana sayang?" tanya Farel.
__ADS_1
"Raila di sini aja loh temenin Mama, Mama gak ada temennya soalnya, tapi kalau emang kamu capek yaudah gapapa kamu ke kamar aja istirahat," ucap Mama Aurel.
"Aku mau di sini aja nemenin Mama," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu aku ke Papa dulu ya, kalua ada apa-apa kamu panggil aku," ucap Farel dan diangguki Raila.
Farel pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Papa Aaron, tak lupa sebelum masuk ke dalam Farel terlebih dahulu mengetuk pintu tersebut dan setelah mendapat jawaban dari Papa Aaron barulah Farel masuk ke dalam ruang kerja tersebut.
Farel yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Papa Aaron pun terkejut karena mendapat tatapan tajam dari Papa Aaron, Farel merasa Papa Aaron saat ini ingin tahu sesuatu darinya. namun Farel pura-pura tidak mengetahuinya dan bersikap cuek sebelum papa Aaron yang bertanya secara langsung.
"Gimana bisa?" tanya Papa Aaron, secara tiba-tiba.
"Gimana? maksudnya?" tanya Farel.
"Gak usah pura-pura gak tahu, gimana bisa kamu bongkar semua kebusukan Gantari lebih tepatnya pegawai Gantari yang ngebuat Raila menderita, padahal Papa udah berulang kali meminta anak buah Papa untuk mencari kelemahan Gantari?" tanya Papa Aaron.
"Dalam kasus ini diperlukan otak para pemuda dan untuk Papa masih belum bisa bergabung dalam kasus ini," ucap Farel.
"Ck, gak usah berbelit-belit sekarang bilang gimana caranya kamu bisa dapet informasi itu?" tanya Papa Aaron.
## Flashback On ##
"Kenapa?" tanya Farel.
"Gue tahu satu kejahatan yang udah dilakukan si Dandi dan gue yakin setelah ini bakal banyak yang gak suka sama sama dia dan mungkin aja Gantari bakal bangkrut," ucap Rafka.
"Gue bakal ke tempat lo sekarang," ucap Farel.
Setelag memutuskan sambungan telepon tersebut, Farel pun meminta izin ke Raila untuk menemui sahabat-sahabatnya karena ada urusan pekerjaan yang harus mereka rencanakan.
Raila tidak merasa curiga sama sekali dan akhirnya memperbolehkan Farel untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Lagi pula Raila tidak ingin mengekang Farel untuk tetap tinggal di rumah bukan.
Setelah mendapatkan izin dari Raila, Farel pun menuju tempat ia dan para sahabatnya berkumpul yaitu apartemen milik Joven. Saat sampai di apartemen tersebut hanya ada Joven dan Rafka.
"Kita sambung cerita lo tadi," ucap Farel.
"Oke, jadi gini gue baru tahu tadi malem kalau ternyata pihak Gantari itu ngejual identitas para pembaca dan penulis dan setelah gue selidiki ternyata yang ngelakuin semua itu adalah cowok yang udah nuduh Raila nyuri," ucap Rafka.
"Kalau gitu kita bisa buat si cowok kurang ajar itu dapet balesan yang setimpal," ucap Farel.
__ADS_1
"Tapi, kita ada satu kendala, Rel," ucap Joven.
"Kendala? kendala apa?" tanya Farel.
"Gue belum punya bukti yang lengkap buat buktiin kalau si cowok itu pelakunya, kalau untuk masalah Raila mungkin semuanya udah gak ada masalah karena bukti yang kita pegang udah ada dan tentunya bukti itu kuat. Tapi, untuk bukti di web itu gue belum bisa dapet bukti lengkapnya," ucap Joven.
"Kalau masalah itu mah gampang, liat bisa andelin Gio lagian gue juga sekarang Gio mulai ngejalanin semua rencananya," ucap Farel.
"Gercep juga tuh anak," ucap Rafka.
"Kalau gitu lo, suruh Gio secepatnya buat bertindak," ucap Joven.
"Gue udah suruh Gio bergerak lo gak usah khawatir, lagian kalau dari kacamata pengamatan gue, Gio udah berhasil jebak Dandi," ucap Farel.
"Tapi, emangnya Dandi gak inget Gio apa, Gio itu orang yang udah buat dia kehilangan semua hartanya," ucap Rafka.
"Buktinya sekarang dia udah mulai akrab dengan Dandi bahkan gue denger kalau Dandi mulai terbuka mengenai keluarganya, bukannya orang yang udah terbuka mengenai keluarganya itu berarti orang itu ada orang kepercayaannya," ucap Farel dan diangguki Rafka dan Joven.
"Emang lo suruh Gio ngapain?" tanya Joven.
"Gue suruh Gio jadi temennya Dandi terus gue juga suruh Gio buat korek semua rahasia dari Dandi dan kita tunggu aja gimana selanjutnya," ucap Farel.
"Gue yakin banget pasti si orang itu bakal malu," uacp Rafka.
"Ya, kalau dia waras kalau ternyata di gak waras gimana kan itu artinya dia gak punya malu," ucap Joven.
"Lo lagi bercanda ya, candaan lo garing tahu gak, gue jadi gak paham," ucap Rafka.
"Gue gak bercanda b***," ucap Joven.
"Ya kan gue kirain," ucap Rafka.
Meskipun belum tahu hasilnya seperti apa mengenai rencanya ini, tapi Farel mulai menemui titik terang setelah mendengar mengenai kebusukan yang dilakukan Dandi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc