
'Akhirnya gue bisa teriak ke Dandi,' ucap Raila dalam hati.
Dandi salah satu karyawan yang ditakuti di kantor karena auranya yang tegas dan terlihat cuek terhadap sesuatu, makanya banyak yang takut jika harus berbicara dengan Dandi. Selain itu juga, Dandi merupakan ketua untuk tim editor di Gantari sehingga banyak yang hormat ke Dandi.
"Kalian pacaran?" tanya Isna yang cukup terkejut dengan teriakan Raila.
"Hehehe, iya," jawab Vanya.
"Demi apa!" teriak Isna lalu pergi.
"Dasar aneh," gumam Dandi.
.
Raila sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan pasangan baru yang tadi pagi ia goda, "Kenapa?" tanya Raila.
"Kok lo tahu kalau gue sama Vanya baru ngelakuin itu?" tanya Dandi.
"Ck, tuh lehernya Vanya banyak banget bekas lo," ucap Raila yang membuat sepasang kekasih tersebut melihat tanda yang memang cukup banyak di leher Vanya.
"Tuh kan pasti tadi banyak yang lihat deh, gimana nih malu banget gue," ucap Vanya lalu menuju meja kerjanya.
"Dasar pasangan baru," gumam Raila.
Raila teringat akan kejadian tadi pagi, Raila segera mengambil ponselnya dan menghubungi adiknya.
"Halo," ucap Lexa melalui sambungan telepon.
"Apa maksudmu bilang kalau Kakek sakit?" tanya Raila.
"Oh itu, gue juga gak tahu, gue cuma di suruh sama si Henry buat ngasih tahu kalau Kakek sakit ke lo," ucap Lexa.
"Ck, ngapain lo turutin omongan tuh orang sih?" tanya Raila.
"Ya, karena gue udah dibeliin tas mahal lah," ucap Lexa.
Raila tidak bisa mengatakan apa karena saingannya adalah tas mahal, keluarganya akan hilang kendali jika diberikan barang-barang bermerek, uang dan lainya yang bernilai tinggi.
"Tapi, Mama sama Papa tahu kan kalau Kakek emang beneran di rawat di rumah sakit?" tanya Raila.
"Tahu soalnya si Henry yang bilang," ucap Lexa.
"Kalian udah jenguk Kakek?" tanya Raila.
"Belum, kita ini lagi sibuk, udah ya jangan ganggu gue lagi, lo itu udah bukan keluarga Laksani," ucap Lexa lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
"Astaga, keluarga gue pada minim akhlak semua," gumam Raila.
"Rai," panggil Dahri.
"Kenapa, Ri?" tanya Raila.
"Lo udah bicara sama Rosalina soal novel dia yang katanya di plagiat sama penulis lain itu gimana jadinya?" tanya Dahri.
"Gue udah coba chat ke dia, tapi katanya dia lagi liburan ke Belanda makanya dia gak bisa bahas soal ini," ucap Raila.
"Lo belum tahu kabar soal dia?" tanya Dahri.
"Kabar? maksudnya? kabar apa emangnya?" tanya Raila.
"Rosalina udah gak ada," ucap Dahri.
"Hah! maksud lo Rosalina udah meninggal, gak mungkinlah orang kemarin malam dia masih chat gue dan dia bilang bakal pulang seminggu lagi kok," ucap Raila.
"Nih, coba lo baca berita," ucap Dahri dengan menunjukkan berita yang ada di ponselnya.
"I - ini gak mungkin, Ri."
"Lo harus ikhlas, Rai. Sekarang kita siap-siap ya buat ke rumah duka," ucap Dahri.
Seluruh tim editor Gantari saat ini sedang berada di rumah duka, "Rai, lo gapapa?" tanya Vanya saat melihat Raila yang menangis melihat jasad Rosalina. Raila hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Rosalina akan di kremasi setelah ini, lo mungkin mau bilang sesuatu ke dia," ucap Dahri.
"Lo tega ninggalin gue, katanya lo mau kita jadi sahabat, katanya lo janji setelah lo liburan lo bakal keliling jalan-jalan bareng gue, katanya lo mau jadi pelakor di rumah tangga gue, mana janji lo," lirih Raila.
Rosalina merupakan salah satu penulis di Gantari dan Raila menjadi editornya, sudah lebih dari 1 tahun Raila dan Rosalina bekerjasama sehingga mereka akrab, Rosalina memang sempat mengatakan jika ia iri dengan Raila karena mendapatkan pasangan yang perhatian seperti Farel. Rosalina beberapa kali menjalin hubungan dengan pria, tapi sayang semuanya tidak berjalan lancar, Rosalina selalu merasakan patah hati dan karena itu ia mencurahkan segala masalah percintaannya ke dalam novelnya.
.
Setelah jasad Rosalina di kremasi, Raila pun bertemu dengan keluarga Rosalina, "Tante yang sabar ya, Rosalina itu perempuan yang baik banget dan Raila yakin Rosalina sekarang sedang tersenyum bahagia bersama Tuhan di surga," ucap Raila.
"Raila, maafin Rosalina ya, dia pernah bilang kalau dia pernah punya salah sama kamu," ucap Mama Rosalina.
"Gak Tante, Rosalina gak pernah punya salah ke Raila kok justru Raila yang sering buat Rosalina tertekan," ucap Raila dan Mama Rosalina menggelengkan kepalanya.
"Rai, sebelum Rosalina meninggal dia bilang untuk ceritanya kamu tamat-in saja atau kalau gak biarkan saja ceritanya di plagiat sama penulis lain," ucap Mama Rosalina.
"Rai, akan berusaha buat tamat-in ceritanya sesuai dengan draf yang pernah Rosalina kasih ke, Rai," ucap Raila.
"Rai, ayo balik," ucap Isna dan diangguki Raila.
__ADS_1
"Tante, Raila balik dulu ya, nanti akan Raila kabari Tante soal pendapatan yang di dapat sama Rosalina," ucap Raila.
"Iya, Rai. Makasih ya," ucap Mama Rosalina.
.
Malam harinya Raila berada di kasur dan enggan untuk bergerak batang sedikitpun dari kasur sederhananya yang sialnya sangat nyaman. Raila terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak ia perlukan hingga Raila tidak menyadari kedatangan Farel.
Farel yang baru saja datang pun bingung karena tidak mendapat sahutan dari Raila, Farel melihat Raila yang membuat matanya dan menatap langit-langit kamar bahkan Raila pun berkedip yang menandakan jika Raila masih hidup, Farel mendekat ke arah Raila dan me-manggil-manggil nama Raila. Namun tetap tidak ada sahutan dari Raila.
"Sayang, kamu kenapa? kamu gak kesurupan, kan?" tanya Farel.
Karena tetap tidak mendapat jawaban dari Raila, Farel pun selain mendekat dan menindih tubuh Raila hingga saat ini tubuh Raila berada dalam lingkungan Farel. Raila sendiri yang awalnya fokus dengan pikirannya pun lantas melihat ke arah Farel yang tepat berada di atasnya.
Kamu kenapa, hem?" tanya Farel yang merebahkan tubuhnya di samping Raila dan memeluk erat istrinya itu.
"Hiks - hiks - hiks." Raila tidak menjawab pertanyaan Farel, ia hanya menangis dalam pelukan erat suaminya itu.
Kepergian Rosalina membuat Raila melupakan segalanya bahan sang suami, Raila merasa gagal karena tidak memperhatikan Farel yang tidak salah apa-apa, harusnya Raila tidak larut dalam kesedihannya.
"Maaf," lirih Raila.
"Maaf, kenapa?" tanya Farel yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba istrinya itu meminta maaf padanya.
"Aku udah gagal jadi istri," lirih Raila yang masih dapat di dengar Farel.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu?" tanya Farel.
"Aku lupa nyambut kamu, aku lupa perhatiin kamu," ucap Raila.
"Kamu gak gagal dan aku gak ngerasa gak di perhatiin, aku malah sangat bahagia bisa sama kamu," ucap Farel.
"Kamu udah bisa cerita kenapa kamu kayak gitu tadi?" tanya Farel.
"Rosalina meninggal," lirih Raila.
"Kok bisa?" tanya Farel.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1