Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Bom Bunuh Diri


__ADS_3

"Baiklah, saya di sini sebenarnya tidak mau bertele-tele saya ingin bekerjasama dengan anda bagaimana menurut anda?" tanya Cristian.


"Saya sangat terhormat karena anda mengajak saya bekerjasama secara langsung, tapi bukankah jika bekerjasama dengan anda harus mengorbankan sesuatu yang saya punya," ucap Farel.


"Anda benar dan tawaran saya adalah, bagaimana jika kita barter istri?" tanya Cristian.


Senyuman yang sedari tadi melekat pada wajah tampan Farel tiba-tiba luntur dan tergantikan dengan raut wajah datar, "Saya sangat berterima kasih dengan tawaran anda, tapi sayangnya saya sangat mencintai istri saya. Saya berjuang mati-matian untuk bisa bersama dengannya sampai saat ini dan akan terlihat tidak tahu diri dan bodohnya saya jika ahrus melepaskannya apa yang sudah saya perjuangkan bukan," ucap Farel.


"Tapi, istri saya cantik bahan tubuhnya lebih seksi daripada istri anda," ucap Cristian.


"Saya menikahi istri saya bukan karena fisik, tapi karena memang dialah takdir saya," ucap Farel.


"Itu artinya anda menolak secara langsung tawaran kerjasama dari saya?" tanya Cristian.


"Ya, bisa di bilang begitu, saya percaya jika saya tidak kan rugi hanya dengan menolak tawaran kerjasama dari anda bukan dan kalaupun saya mengalami kerugian setidaknya saya masih memiliki istri bukan," ucap Farel.


Meskipun Farel menolak kerjasama tersebut, tapi mereka berdua tetap mengobrol santai dan seperti tidak terjadi apa-apa antara mereka.


## Flashback Off ##


"Kalian kenapa bisik-bisik gitu?" tanya Rafka.


"Lo gak perlu tahu, ini masalah bos sama bawahan," ucap Farel.


"Gue kok kesel ya kalau di sebut bawahan," ucap Evan.


"Sekarang gue tanya lo kerja ama gue sebagai apa?" tanya Farel.


"Asisten pribadi," ucap Evan.


"Nah asisten pribadi itu termasuk bawahan gue apa bukan?" tanya Farel.


"Ya, termasuk sih," ucap Evan.


"Kalau gitu gue salah apa gak bilang kalau lo bawahan gue?" tanya Farel.


"Gak sih, udah ah jangan bahas itu gak penting banget sih," ucap Evan.


Perayaan ulang tahun pernikahan Papa Aaron dan Mama Aurel berjalan dengan lancar bahkan acara malam kemarin sampai di liput beberapa media nasional dan menjadi topik pembicaraan terutama karena akhirnya keluarga Revion yang selama ini sangat tertutup mengenai kehidupan pribadi mereka berani mengungkapkan identitas asli mereka. Saya ini seluruh negeri tahu bagaimana rupa dari keluarga Revion bahkan nama keluarga Revion menjadi perbincangan, banyak masyarakat yang dengan sengaja mencari akun media sosial milik dari anggota keluarga Revion dan hal itu membuat media sosial dari masing-masing anggota keluarga Revion menjadi salah satu akun yang paling banyak diikuti.


Bahkan banyak dari masyarakat yang mulai mencari identitas Raila sebagai anggota baru keluarga Revion dan banyak pula yang akhirnya menyalahkan keluarga Laksani yang telah memperlakukan Raila secara tidak adil, banyak masyarakat yang lebih berpihak pada Raila daripada keluarga Laksani.


Karena hal itu juga banyak perusahaan yang menarik kembali investasi pada Laksani grup, "Gue gak nyangka dengan berita ini Laksani grup bakal hancur," ucap Evan.

__ADS_1


"Lo tahu kan penilaian masyarakat itu penting di dunia bisnis kita dan sekarang Laksani grup sudah tidak memiliki nama lagi untuk menarik simpati masyarakat," ucap Farel.


"Emang gak salah sih kalau orang-orang bilang lo itu kejam," ucap Evan.


"Gue gak kejam, Van. Gue cuma nunjukin ke mereka apa yang disebut dengan balas dendam," ucap Farel.


"Balas dendam lo itu gila tahu gak," ucap Evan.


"Gue tahu itu," ucap Farel.


"Gimana sama Papa dan Mama mertua gue?" tanya Farel.


"Hem, mungkin bentar lagi berita tentang mereka bakal tayang," ucap Evan.


"Gue udah gak sabar buat lihat beritanya," ucap Farel.


"Kalau Raila tahu dia pasti bakal benci sama lo," ucap Evan.


"Nah maka dari itu kita buat Raila gak tahu, kalau sampai Raila tahu, lo yang bakal gue habisin pertama kali," ucap Farel.


"Serem amat bos," ucap Farel.


Saat mereka sedang membahasnya beberapa hal tiba-tiba ponsel Farel berdering, "Siapa?" tanya Evan.


"Raila," ucap Farel.


"Coba lo nyalain televisinya," ucap Farel.


Benar saja, berita yang sejak tadi Farel nantikan telah muncul di televisi yang artinya Raila juga sudah menonton berita tersebut, "Lo gak angkat telepon dari Raila," ucap Evan.


"Tenang, gue bakal angkat kok," ucap Farel.


Beberapa saat kemudian, Farel pun mengangkat sambungan telepon dari Raila, "Halo kenapa sayang?" tanya Farel.


"Rel, hiks ... Papa sama Mama ... hiks hiks," ucap Raila, melalui sambungan telepon.


"Sayang," panggil Farel, karena Raila tidak melanjutkan perkataannya.


"Rel, Raila pingsan kamu cepet pulang ya," ucap Mama Aurel.


"Iya, Ma. Farel pulang sekarang," ucap Farel.


Farel lun memutuskan sambungan telepon tersebut dan bersiap untuk pulang karena ia merasa khawatir dengan kondisi Raila.

__ADS_1


"Lo mau pulang?" tanya Evan.


"Hem, Raila pingsan," ucap Farel.


"Raila kayak gini juga karena lo b***," ucap Evan.


"Lo urus semuanya, gue pergi dulu," ucap Farel, lalu pergi dari ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian, Farel pun sudah sampai di rumah dan ia segera berlari masuk ke dalam rumahnya, "Ma, Raila mana?" tanya Farel.


"Raila ada di dalam kamar, dia masih belum sadar," ucap Mama Aurel.


Farel pun menuju kamarnya dan ia segera masuk untuk memastikan keadaan Raila, saat ia masuk ke dalam kamar. Farel dapat melihat Raila yang tengah terbaring lemah bahkan ia melihat mata Raila yang bengkak karena menangis.


"Sayang, kenapa kamu nangis kayak gini, aku gak tahu kalau kamu bakal kayak gini. Tapi, aku gak pernah menyesal melakukan ini karena mereka pantas mendapatkannya," gumam Farel, dengan mengusap tangan Raila dan sesekali mengecupnya.


Kurang lebih 15 menit Farel terus mengusap tangan Raila dengan lembut dan berharap Raila bangun, akhirnya Raila membuka matanya dan hal itu membuat Farel bahagia.


"Sayang, kamu udah bangun," ucap Farel.


"Rel," panggil lirih Raila.


"Iya, kenapa sayang?" tanya Farel, dengan lembut.


"Papa sama Mama, Rel. Mereka pergi ninggalin aku hiks ... hiks," ucap Raila.


"Hush, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Papa sama Mama masih dalam pencarian jadi kita harus tetap berpikir positif dan kita harus percaya bahwa Papa sama Mama itu kuat mereka pasti bisa bertahan ya," ucap Farel.


"Kamu tahu saat pertama kali lihat berita itu aku langsung mikir bahwa ini adalah karma yang udah aku dapatin karena udah sia-siain Papa sama Mama, saat aku pengen berbakti justru tuhan ambil semuanya," ucap Raila.


"Ku gak salah. Kamu jangan pernah berpikir kayak gitu, anggap ini takdir," ucap Farel.


"Tapi, takdirku terlalu berat untuk aku hadapi Rel, aku padahal aku sama orangtuaku udah damai, udah gak ada lagi adalah antara kita, tapi tuhan justru seolah tidak menyukai perdamaianku sama keluargaku," ucap Raila.


"Kamu gak bole berpikiran kayak gitu kita harus tetep optimis dan yakin bahwa mereka selamat," ucap Farel.


"Aku pengen juga gitu, tapi gak mungkin semua penumpang pesawat itu gak selamat," ucap Raila.


Ya, pesawat yang ditumpangi Papa Alvan dan Mama Sena untuk pengobatan ke Belanda terjatuh, dari berita yang tersebar dalam pesawat tersebut terdapat seorang perempuan yang membawa bom dan berhasil membuat pesawat itu meledak di udara dan menurut berita seluruh penumpang tidak ada yang selamat karena pesawat hancur lebur karena bom bunuh diri tersebut.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2