Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Di Usir


__ADS_3

"Saya pemilik perusahaan penerbitan ini dan jika memang Raila tidak bersalah saya akan dengan senang hati menerima tuntutan anda, tapi jika memang Raila yang bersalah maka saya akan meminta tiga kali lipat dari yang diambil oleh Raila dan untuk saat ini masih untung Raila hanya saya pecat tidak saya penjarakan karena saya kasihan dengannya yang baru saja di usir keluarganya," ucap Pak Gibran.


"Setuju, kalian harus siap-siap untuk menutup perusahaan ini dan kalian semua pegawai di sini tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dimana pun ingat kata-kata saya ini," ucap Farel.


"Tunggu, tadi anda bilang anda suaminya, tapi anda tidak tahu kalau istri anda sudah di pecat dari kantor ini bahkan nada tidak tahu kalau istri anda itu mencuri?" tanya Pak Gibran.


"Ya, anda benar saya tidak tahu dan alasannya tidak perlu saya beritahukan pada anda bukan," ucap Farel.


"Iya, anda benar walaupun saya sangat penasaran, tapi saya tidak akan menanyakannya lagi," ucap Pak Gibran.


"Bagus, memang seharusnya begitu," ucap Farel.


"Saya ingin bertanya sejak kapan Raila anda pecat?" tanya Farel.


"Sudah dari 5 hari yang lalu kalau gak salah," ucap Pak Gibran dan diangguki Farel.


"Oh iya untuk ancaman anda tadi saya sangat menunggunya loh, saya sangat tidak sabar, tapi anda jangan sampai kecewa kalau ternyata istri anda sayang salah," ucap Pak Gibran.


"Tidak akan, bagaimanapun nantinya saya yang tidak sabar karena akan melihat anda dan karyawan anda yang sudah menuduh istri saya memohon pada saya," ucap Farel lalu memilih pergi dari tempat tersebut.


Lama-lama di tempat tersebut membuat Farel merasa khawatir dengan istrinya. Namun, sebelum pergi Farel menatap tajam ke arah Vanya, "Gue kecewa sama lo, Van. Gue bisa terima kalau lo ngehina atau ngejelekin gue, tapi gue gak bisa terima karena lo udah ngomong yang gak-gak soal Raila, lo itu udah dianggap sahabat bahkan keluarga sama Raila, tapi ternyata sikap lo saat Raila ada masalah kayak gini membuktikan kalau lo itu sahabat munafik dan gak tahu diri," ucap Farel dan benar-benar pergi dari tempat tersebut.


"Maafin aku sayang, aku harusnya ada di samping kamu saat ini, aku sayang kamu, Rai. Kamu harus bisa hadapi semuanya," gumam Farel dan mengendarai sepeda motornya menuju suatu tempat.


Farel saat ini sudah sampai di kosnya, ia segera turun dan menuju kamarnya dan mengetuk pintu, ia yakin jika Raila saat ini berada di dalam. Sudah beberapa kali Farel mengetuk pintu kamarnya, tapi masih belum di buka oleh Raila. Akhirnya Farel pun mengambil kunci miliknya sendiri dan membuka kamarnya. Namun, baru saja membuka kamarnya ia di kejutkan dengan keadaan kamarnya yang berantakan bahkan banyak barang-barang yang pecah.


Farel mencari ke seluruh tempat yang ada di kamarnya, ia berharap Raila berada di sana. Namun, semuanya sia-sia karena ia tidak melihat Raila yang membuat Farel bingung ialah karena semua barang milik Raila masih ada hanya saja beberapa batang memang rusak dan pecah, tapi tidak ada yang hilang. Apalagi saya melihat ponsel dan dompet milik Raila yang berada di atas meja kamar tersebut yang menandakan jika Raila tidak membawa barang-barang miliknya.


Farel mengambil dompet milik Raila dan melihat isi di dalamnya dan betapa terkejutnya karena semuanya masih utuh bahkan kartu kredit dan KTP miliknya masih ada di dompet.


"Raila kemana? kenapa dia gak bawa barang-barangnya terus ini ke apa kamar hancur kayak gini?" tanya Farel pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nak Farel ya?" tanya seorang perempuan.


"Iya, Bu," jawab Farel.


"Saya Bu Farah tetangganya nak Farel, saya cuma mau ngasih tahu pasti nak Farel cari istrinya ya," ucap Bu Farah.


"Iya, Bu. kalau boleh tahu istri saya dimana ya, Bu. Kok gak ada dia terus kamar saya juga berantakan dan banyak barang-barang yang pecah dan rusak?" tanya Farel.


"Oh itu, istrinya nak Farel udah di usir dari kos," ucap Bu Farah yang menunjukkan ketidaksukaan.


"Maksudnya bagaimana ya, Bu? istri saya di usir kenapa bisa, Bu?" tanya Farel.


Sejujurnya Farel terkejut dengan jawaban Bu Farah, tapi ia masih bisa mengendalikan ekspresinya dan tetap tenang.


"Jadi, istri kamu itu udah di usir sama penghuni kos karena dia ketahuan udah nyuri perhiasan saya dan juga Bu Anggi," ucap Bu Farah. Bu Anggi adalah pemilik kos yang Farel tempati.


"Sejak kapan ya Bu, Raila di usir dari sini?" tanya Farel.


Farel benar-benar tidak dapat menyembunyikan ekspresinya untuk saat ini, ia semakin terkejut itu artinya Raila di pecat dari kantornya dan di usir dari kos pada hari yang sama. Farel tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan istrinya itu saat ini.


"Lebih baik nak Farel tidak perlu memikirkannya, belum lagi pas istrinya nak Farel di usir dia menampar seorang perempuan di depan kos," ucap Bu Farah.


"Menampar seorang perempuan, siapa?" tanya Farel.


"Saya juga tidak tahu siapa, tapi yang jelas perempuan itu kaya soalnya dia bawa mobil dan pakaiannya pun bagus," ucap Bu Farah.


"Apa ibu tahu kira-kira istri saya kemana?" tanya Farel.


"Udah ibu bilang gak usah cari istrinya nak Farel itu, ibu yakin dia pasti sudah bahagia dengan pacarnya," ucap Bu Farah.


"Pacar?" tanya Farel.

__ADS_1


"Iya, pas dia di usir itu ada laki-laki yang datang dan menyuruh istrinya nak Farel masuk ke dalam mobilnya bahkan laki-laki itu menggenggam tangan istrinya nak Farel," ucap Bu Farah.


Farel memang cemburu saat mendengar ucapan Bu Farah, tapi ia tidak ingin menyimpulkannya begitu saja. Farel semakin penasaran siapa laki-laki itu, kenapa dia datang di saat Raila di usir dari kos dan Farel juga penasaran dengan perempuan yang Raila tampar di depan kos.


Dalam pikirannya Farel tidak dapat tenang karena dalam otaknya saat ini hanya ada satu nama yaitu Raila istrinya yang tidak ia ketahui keberadaannya. Farel semakin khawatir karena Raila tidak membawa barang-barangnya.


"Kalau begitu terima kasih, Bu," ucap Farel.


"Iya, sama-sama," ucap Bu Farah.


Farel pun kembali masuk ke dalam kamar dan membersihkan barang-barang yang berserakan kemana-mana itu, meskipun begitu Farel tetap memikirkan keberadaan istrinya itu. "Rai, kamu kemana sayang? aku khawatir, apa jangan-jangan kamu ke ruang orangtua kamu? tapi gak mungkin kamu udah di usir juga dari sana, kamu gak mungkin ke tempatnya Vanya karena dia sepertinya gak tahu soal ini terus kamu sekarang dimana sayang?" tanya Farel pada dirinya sendiri.


Farel benar-benar frustasi lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, "Halo," ucap Farel.


"Kenapa, Presdir?" tanya Evan.


"Raila di usir dari kos, lo bisa cari dia," ucap Farel.


"Hah! kok bisa?" tanya Evan yang tentunya terkejut.


"Gue juga gak tahu, sekarang lo bisa cari dia gue bener-bener gak tahu keberadaan dia," ucap Farel.


"Oke, gue akan cari dia, lo gak usah khawatir," ucap Evan.


"Thanks," ucap Farel.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2