
"Lo deketin anaknya Maulana dan saat perusahaan mereka diambang kehancuran lo racuni mereka untuk meminta bantuan Revion grup," ucap Farel.
"Caranya?" tanya Gio.
"Lo bilang aja kalau lo kepercayaan keluarga Dante," ucap Farel.
"Kenapa keluarga gue?" tanya Marvel.
"Asal lo tahu anaknya si Maulana itu jadiin bapak lo sebagai panutannya," ucap Evan.
"Gimana?" tanya Farel.
"Terus kalau gue ditanyain soal keluarga Dante gimana kan gue gak tahu apa-apa?" tanya Gio.
"Lo gak usah khawatir soal itu, lo bakal di dampingi sama sekretaris keluarga Dante," ucap Farel.
"Bokap gue udah tahu belum sama rencana lo ini?" tanya Marvel.
"Tenang aja Om Alex udah tahu, malah Om Alex yang nyuruh sekretarisnya buat bantu," ucap Farel.
"Rel, lo gapapa di sini lama-lama takutnya nanti Tuan Zergan datang ke sini?" tanya Gio, dengan suara pelan.
"Lo gak percaya kalau gue Zergan?" tanya Farel.
"Gaklah, gue mah tahu siapa lo," ucap Gio.
"Dia ini Zergan beneran," ucap Joven.
"Beneran, Rel?" tanya Gio.
"Hem," jawab Farel.
"Wah! gue punya temen kaya!" terima Gio dan memeluk Farel.
"Ck, gak usah peluk-peluk juga kali," ucap Farel.
"Hehehehe, maaf," Gio tiba-tiba merasa takut karena lancang memeluk Farel.
"Santai aja, gue gak pernah gunain kekuasaan gue untuk berteman," ucap Farel dan diangguki Gio.
"Lo juga gak perlu khawatir karena biaya pengobatan Nenek lo semua bakal gue tanggung," ucap Farel.
"Hah! be - beneran?" tanya Gio.
"Hem, sekarang lo fokus buat Lana grup mau meminta bantuan ke Revion grup," ucap Farel.
"Siap, saya bakal ngelakuin apapun yang Tuan Zergan perintahkan," ucap Gio.
"Panggil gue kayak biasanya aja," ucap Farel.
"Tapi, gak sopan," ucap Gio.
"Lo bukan pegawai gue, lo temen gue jadi jangan panggil gue Tuan Zergan lagi paham," ucap Farel dan diangguki Gio.
Setelah itu, Gio pun keluar dari ruangan tersebut, "Lo yakin rencana lo ini berhasil?" tanya Marvel.
"Gak," ucap Farel.
"Kalau gak berhasil kenapa lo malah ngerencanain semua ini?" tanya Marvel.
"Gue tahu rencana ini bakal gagal atau gak, jadi kalian lihat aja nanti apa yang akan terjadi kalau seandainya rencana ini gagal," ucap Farel.
__ADS_1
"Udahlah Rel, gue tidur aja pusing gue mikirin rencana lo yang terlalu tinggi buat gue," ucap Joven.
"Raila, juga diundang sama keluarga Laksani," ucap Farel.
"Apa mungkin karena ada pertunangan antara kedua keluarga," ucap Evan.
"Ya, bisa jadi," ucap Farel.
"Terus masalahnya apa?" tanya Marvel, memang diantara sahabat-sahabatnya ini hanya Marvel yang memiliki kepekaan tinggi.
"Raihlah diundang dan boleh ngajak gue," ucap Farel.
"Kok tumben, apa mereka udah mulai nerima lo?" tanya Evan.
"Gue rasa gak mungkin mereka nerima lo secepat ini," ucap Marvel.
"Terus kenapa Farel diundang kalua mereka masih gak nerima Farel?" tanya Joven.
"Kita gak akan tahu kalau kita gak datang ke acaranya," ucap Farel.
"Tapi, lo kan juga diundang sebagai Tuan Zergan, terus lo mau datang sebagai siapa saat nanti acaranya? sebagai Tuan Zergan yang terhormat atau suami miskin yang tidak dianggap?" tanya Marvel.
"Menurut lo?" tanya Farel, dengan mengeluarkan smirknya.
.
Disisi lain Raila saat ini sudah berada di bawah jembatan yang dulu pernah ia tempati, "Pak Diki, tunggu di sini sebentar ya," ucap Raila.
"Iya, Nona," ucap Pak Diki.
Raila pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju tumpukan kardus, "Dek, ini kemana ya semuanya kok sepi gak ada orang? apa mereka masih kerja?" tanya Raila.
"Iya, yang ibu-ibu," ucap Raila.
"Ibu-ibu itu udah dua hari gak balik ke sini kak," ucapnya.
"Hah! kenapa dek?" tanya Raila.
"Katanya mereka ditangkap satpol PP saat ngamen kak," ucapnya.
"Hah! ka - kalau gitu makasih ya dek," ucap Raila dan diangguki anak tersebut.
Sebelum pergi Raila terlebih dahulu memberikan sebuah amplop pada anak itu, "Ini untuk adeknya, semoga bermanfaat ya," ucap Raila.
"Ini beneran buat Angga kak?" tanyanya.
"Iya, Angga ambil," ucap Raila.
Angga pun tersenyum bahagia dan berlari menuju sebuah gubuk yang rela yakini jika itu adalah tempat tinggalnya.
Raila berjalan kembali ke mobil dan masuk ke dalam mobil, "Pak kita ke panti rehabilitasi ya," ucap Raila.
"Baik, Nona," ucap Pak Diki.
Beberapa saat kemudian, Raila pun sampa di panti rehabilitasi, "Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam.
"Maaf, Pak. Saya ingin bertanya apa ada ibu yan bernama Yeni ya di panti rehabilitasi ini?" tanya Raila.
"Ada keperluan apa ya anda mencari ibu tersebut?" tanyanya.
"Saya ingin bicara dengan beliau pak , ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada beliau," ucap Raila.
__ADS_1
"Baiklah, kalua begitu mbak bisa tunggu dulu biar saya periksa dulu," ucapnya dan diangguki Raila.
Setelah 5 menit satpam tersebut pun menghampiri Raila, "Mbaknya bisa ikut saya," ucapnya.
Raila pun mengikuti satpam tersebut, "Mbak bisa masuk ke dalam karena Bu Yeni sudah ada di dalam," ucapnya.
"Iya, terima kasih, Pak," ucap Raila dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, Raila dapat melihat Bu Yeni yang sedang memakai daster, "Bu Yeni," panggil Raila.
Bu Yeni yang awalnya membelakangi Raila pun membalikkan badannya dan melihat Raila, "Nak Raila," panggil Bu Yeni.
Raka berjalan ke arah Bu Yeni dan langsung memeluk Bu Yeni, "Bu Yeni kenapa bisa ada di sini?" tanya Raila.
"Ibu udah ketangkep beberapa kali ya jadinya ibu di sini," ucap Bu Yeni.
"Tapi, Bu Yeni baik-baik aja kan?" tanya Raila.
"Iya, ibu baik-baik aja kok," ucap Bu Yeni.
"Bu Yeni tambah kurus loh," ucap Raila.
"Masa sih padahal ibu makannya 3 kali sehari loh," ucap Bu Yeni.
"Bagas sama Citra mana, Bu?" tanya Raila.
Bagas dan Citra adalah anak kandung Bu Yeni, mereka kembar dan usianya sekitar 6 tahun. Sedangkan, suami Bu Yeni pergi begitu saja karena keterbatasan ekonomi mereka.
"Mereka ada di taman belakang panti," ucap Bu Yeni.
"Tapi, mereka berdua gapapakan?" tanya Raila.
"Iya mereka berdua gapapa kok," ucap Bu Yeni.
"Syukurlah kalau mereka baik-baik aja," ucap Raila.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu ingin ketemu ibu?" tanya Bu Yeni.
"Begini Bu, ada yang ingin Raila bicarain dengan ibu," ucap Raila.
"Apa itu?" tanya Bu Yeni.
"Bu Yeni mau kerja di ruang keluarga suaminya Raila?" tanya Raila.
"Nak, kamu menawarkan pekerjaan ke ibu?" tanya Bu Yeni.
"Iya, Bu. Raila berharap Bu Yeni tidak menolak, ini salah satu bentuk balas budi Raila ke Bu Yeni yang udah mau bantu Raila," ucap Raila.
"Nak, ibu ikhlas bantu kamu, ibu gak minta imbalan apapun," ucap Bu Yeni
Bu Yeni sangat senang karena ia mendapatkan tawaran pekerjaan yang selama ini ia butuhkan, jujur saja Bu Yeni lelah karena harus bekerja di jalanan yang tidak tentu penghasilannya. Tapi, ia juga ragu karena bagaimanapun ia tidak ingin dianggap tidak ikhlas membantu Raila.
"Raila tahu, tapi Raila ingin membantu ibu. Setidaknya dengan ibu bekerja dengan Raila segala kebutuhan ibu terpenuhi dan nanti Bagas sama Citra juga bisa sekolah, gimana Bu?" tanya Raila.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1