Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Pasien Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Hari adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang karena akhirnya mereka tahu keberadaan Tante Calista, "Kita ke sana sekarang," ucap Farel.


"Lo yakin Tante Calista ada di sana? tanya Rafka.


"Gue yakin, kemarin Lea bilang dia gak sengaja denger si pengkhianat itu bicara soal alamat keberadaan Tante Calista," ucap Farel.


Farel tidak sendirian, ia bersama dengan seluruh keluarga dan sahabatnya hanya yang pria saja. Sedangkan, yang perempuan berada di kediaman keluarga Revion.


Mereka pun mengendarai mobil mereka menuju sebuah rumah yang tidak terawat bahkan pagarnya sudah banyak tanaman merambat, "Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Om Ferdi.


"Iya, Pa. Farel yakin," ucap Farel.


Mereka pun masuk ke dalam dan tidak menemukan siapapun di dalam rumah tersebut, "Rumah singgah Bunda," gumam Rendy.


"Sepertinya ini memang tempat persembunyian Tante Calista lihat ada banyak bungkus makanan dan juga ini ada tulisan rumah singgah bunda," ucap Rendy.


"Pantesan kita tidak tahu dimana alamat rumah singgah bunda, ternyata itu hanya sebuah makam di dalam rumah ini, tapi ini makan siapa kenapa ada tulisan rumah singgah bunda di batu nisannya," ucap Om Zack.


"Kok gue jadi merinding ya," ucap Joven.


Saat mereka sedang mencari ke sekeliling rumah tersebut tiba-tiba ponsel Rendy berdering, "Ada apa, Ren?" tanya Papa Aaron.


"Ini Naomi telepon, Om," ucap Rendy.


"Yaudah kamu angkat aja siapa tahu penting," ucap Papa Aaron dan diangguki Rendy.


Rendy pun mengangkat telepon tersebut, "Halo, kenapa dek?" tanya Rendy.


"Kak ... hiks ... hiks."


"Kamu kenapa nangis?" tanya Rendy.


"Tante Calista ada di rumah hiks ... hiks," ucap Naomi.


"Kamu tunggu sebentar Kakak sebentar lagi bakal ke sana," ucap Rendy, lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Kenapa?" tanya Farel.


"Tante Calista ada di rumah," ucap Rendy.

__ADS_1


"Hah! kok bisa!" pekik Joven.


"Sial! kita di tipu," ucap Marvel.


Mereka pun mengendarai mobil menuju kediaman Revion, saat mereka berada di halaman rumah tersebut. Mereka melihat beberapa pengawal sudah tidak sadarkan diri, mereka semua berpencar ada yang masuk lewat samping dan juga belakang.


Saat di ruang tamu, mata Farel menatap tajam kearah Calista yang berada tepat di depan Raila, Farel mengepalkan tangannya saat melihat Raila sudah tidak sadarkan diri. Semua orang diikat oleh Calista dan sepertinya Calista tidak menyadari keberadaan Farel. Di ruang tamu begitu ramai dengan suara tangis Thalita yang juga diikat oleh Calista.


"Calista!" teriak Papa Aaron.


Calista yang mendengar panggilan tersebut pun langsung membalikkan badannya dan terkejut melihat keberadaan Farel dan Papa Aaron, "Oh. Ternyata kalian udah pulang ya, senang sekali bisa bertemu dengan kalian. Gimana keadaan kalian semua ah pasti baik-baik saja dong ya," ucap Calista.


"Lepaskan keluargaku!" bentak Papa Aaron.


"Kenapa aku harus melepaskan mereka, mereka juga keluargaku, kalian lupa ya kalau aku juga termasuk ke dalam keluarga Revion," ucap Calista.


"Keluarga yang tidak diinginkan bahkan Kakek udah coret Papa dari daftar keluarga Revion bukan dan menganggap cucunya hanya dua yaitu Aaron dan Gea," ucap Papa Aaron.


"Tapi, bagaimanapun aku tetap memiliki darah keturunan Revion," ucap Calista.


"Darah itu sudah lama kering, bahkan orang yang mengalirkan darahnya sudah meninggal," ucap Papa Aaron.


"Semua itu juga karena kalian semua! kalian tidak mau membantu Papa saat Papa butuh bantuan bahkan kalian buat Mama sakit!" teriak Calista.


"Kau mendoakan ibuku meninggal, berani-beraninya kau! aku akan membunuh kalian semuanya tanpa terkecuali dan aku juga akan menguasai harta keluarga Revion karena hanya aku keturunan satu-satunya, hahahaha," ucap Calista.


"Mimpi kamu terlalu tinggi," ucap seorang wanita paruh baya dari kursi.


"Nenek!" panggil Lea, yang melihat neneknya ada di depan matanya.


"Anda? bukannya anda sudah meninggal, kenapa anda ada di sini?" tanya Calista, dengan suara bergetar melihat wanita paruh baya yang adakah nenek Vina, yaitu orangtua dari Papa Aaron dan Tante Gea.


"Aku tidak mati hanya karena pria seperti mantan suamiku itu, akhirnya aku bisa bertemu dengan orang ceroboh yang tidak tahu apa-apa, aku tahu kau adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa bukan," ucap Nenek Vina.


"Aku tidak gila! kau yang gila! keluarga kalian yang gila! keluarga kalian yang buat ibu dan ayah pergi dariku dan keluarga kalian yang memasukkan aku ke rumah sakit jiwa, tapi aku tidak gila!" teriak Calista.


Teriakan Calista membuat semua orang yang tidak sadarkan diri pun mulai membuka matanya dan orang-orang yang sejak tadi bersembunyi pun menampakkan dirinya. Semua orang terkejut karena melihat nenek Vina yang berada di kursi roda.


"Akan ku bunuh kalian!" teriak Calista, lalu berjalan menghampiri nenek Vina.

__ADS_1


Namun, belum sampai pada nenek Vina tiba-tiba tangannya ditahan oleh beberapa orang yaitu petugas ruang sakit jiwa, "Bawa pasien kalian. Kalau bisa asingkan dia ke pulau terpencil agar tidak berulah," ucap Farel.


"Baik, Tuan," ucap petugas tersebut.


Para petugas pun membawa Calista keluar dari kediaman Revion, tak lupa Farel juga menyuruh anak buahnya untuk mengurus Calista dan buat dia diasingkan itu bukan hal yang sulit bagi Farel.


Setelah kepergian Calista, Farel pun menghampiri Raila yang terlihat sangat kemah bahkan beberapa luka di tubuhnya, Farel melepaskan ikatan tersebut dan mendekap erat tubuh istrinya itu.


"Maaf, karena aku telat. Kamu gapapakan?" tanya Farel.


"Aku gapapa kok," ucap lirih Raila.


"Syukurlah, aku sangat bahagia mendengarnya," ucap Farel dan mengecup bertubi-tubi wajah Raila.


"Naomi kemana? bukannya tadi Naomi ngabarin Rendy kalau ada Tante Calista di sini?" tanya Rendy.


"Naomi ada di lemari itu," ucap Lea dan menunjuk lemari sempit yang isinya beberapa gelas kaca mahal.


Om Alex segera membuka lemari tersebut dan benar saja Naomi berada di dalam sana dengan air mata uang yang tak berhenti keluar dari matanya, "Adek," ucap Rendy, lalu berlari menghampiri Naomi yang dibawa keluar oleh Om Alex.


"Kamu gapapa?" tanya Rendy dan diangguki Naomi.


"Tante Aurel maafin Naomi, gara-gara Naomi gelas kaca koleksi Tante Aurel pecah, hiks ... hiks," ucap Naomi.


"Gapapa sayang, Tante malah sangat bersyukur karena kamu akhirnya kita semua selamat," ucap Mama Aurel.


"Kenapa kamu bisa di sana?" tanya Rendy.


"Waktu lihat Tante Calista Naomi ingin ke kamar, tapi gak keburu dan Mama nyuruh Naomi buat masuk ke dalam lemari, Naomi lihat semua kelakuan Tante Calista yang mukul Kak Raila, Tante Aurel, Mama sama Lea dan Kak Claudia, hiks ... hiks," ucap Naomi.


"Udah jangan nangis lagi ya," ucap Rendy dan memeluk adiknya itu.


Setelah merasa Naomi tenang Rendy pun menuju Tante Gea dan Claudia lalu memeluk kedua perempuan yang sangat ia sayangi itu, Rendy dapat melihat Mamanya yang hanya diam tanpa membalas pelukan dari Rendy.


"Kita bawa Gea ke rumah sakit ya, biar Papa sama Om Alex yang bawa kalian semuanya di sini aja," ucap Papa Aaron dan menggendong Tante Gea.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2