
"Dia ternyata pergi ke luar negeri bukan untuk liburan, tapi untuk berobat," ucap Raila.
"Memangnya dia sakit apa?" tanya Farel.
"Kanker hati stadium akhir, aku gak berguna ya jadi temannya, Rosalina gak punya temen selain aku dan juga Jeje," ucap Raila.
Jeje merupakan sepupu Rosalina, mereka seumuran sehingga Rosalina sering bercerita tentang kehidupannya pada Jeje, begitupun Jeje.
"Kamu berguna, kamu kan gak tahu, lagian kan memang udah keputusan Rosalina untuk menyembunyikan semuanya dari kamu, sekarang aku tanya, Jeje tahu kalau Rosalina sakit dan berobat di luar negeri?" tanya Farel dan Raila menggelengkan kepalanya.
"Tadi aku tanya Jeje dan dia bilang kalau dia juga tidak tahu kalau Rosalina sakit," ucap Raila.
"Itu artinya kamu gak salah, udah sekarang kamu gak usah nyalahin diri kamu sendiri," ucap Farel dan diangguki Raila.
Benar apa kata Farel, Raila tidak boleh menyalahkan dirinya sendiri, bagaimanapun Raila harus rela atas kepergian Rosalina, Raila tidak ingin Rosalina menangis di surga karena ia belum menerima kepergian Rosalina.
Raila semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Farel yang berada di sampingnya tiba-tiba Raila teringat sesuatu, "Kamu kan baru pulang kerja," ucap Raila.
"Iya," jawab Farel.
"Berarti kamu belum mandi dong," ucap Raila.
"Belum, kan tadi kamu cuekin aku, makanya aku penasaran yaudah aku samperin kamu dan jadi kayak gini deh udah nyaman," ucap Farel.
"Padahal kamu belum Andi loh, tapi kenapa kamu tetep wangi ya, Rel?" tanya Raila.
Farel hanya terkekeh gemas mendengar pertanyaan Raila, "Kamu udah mandi?" tanya Farel.
"Udah dong, kau mau udah wangi," ucap Raila.
"Yaudah kalau gitu ayo kita mandi," ucap Farel.
"Hah! aku kan udah mandi kenapa harus mandi lagi?" tanya Raila.
"Gapapa, nemenin aku doang," ucap Farel lalu menarik lengan Raila untuk mandi bersama.
.
__ADS_1
Setelah mandi Farel dan Raila pun memakan makan malam yang sudah di siapkan Raila tadi dan setelah makan mereka berdua memutuskan untuk berbaring di kasur sederhananya dan menonton televisi yang ukurannya cukup kecil. Namun, gambar yang ditayangkan cukup jelas.
"Oh iya, kamu tahu gak kan aku waktu itu dateng ke pengenalan visualnya novel Photography," ucap Raila.
"Iya, terus?" tanya Farel karena Raila selalu berbicara tidak semuanya melainkan di jeda.
"Jadi kamu tahu yang jadi Anggara itu ternyata Rafka temen kamu yang waktu itu tidur di sini," ucap Raila.
"Hah! dia yang jadi visualnya Anggara, bukannya kamu bucin banget sama Anggara terus pas tahu kalau yang jadi Anggara itu temenku, gimana menurutmu?" tanya Farel.
"Aku gak masalah sih soalnya kan Rafka juga ganteng. Ya, cocok aja sih jadi Rafka apalagi menurutku karakter mereka hampir sama loh," ucap Raila.
"kayaknya ada yang salah sama mata kamu, masa orang kayak Rafka ganteng, dari mananya coba," ucap Farel.
Entahlah Farel merasa kesal karena Raila memuji Rafka tampan padahal lebih tampan dirinya. Selain itu, Farel juga marah karena Raila berbicara Rafka tampan tepat di depannya secara langsung.
"Ngomong-ngomong kamu tahu kalau Rafka itu artis eh salah maksudnya model yang sekarang jadi aktor?" tanya Raila.
"Aku tahu sih kalau dia itu model, tapi aku gak tahu kalau ternyata dia jadi pemain novel itu," ucap Farel dengan jujur.
"Udah jangan bahas Rafka lagi, aku juga gak tahu gimana dia mending nanti kamu ajak dia bertemu terus kamu boleh tanya dia sepuasnya, untuk sekarang aku gak bisa jawab karena aku gak tahu harus jawab apa oke," ucap Farel.
"Oke," jawab Raila.
"Oh iya, aku juga denger dari seseorang katanya kamu ganti rugi ayam goreng yang gak sengaja jatuh di kantor Laksani grup dan bukan hanya 1 kotak, tapi ada 4 kotak yang jatuh, emang itu bener?" tanya Raila dengan anda mulai serius.
Tiba-tiba saja Raila teringat akan perkataan Henry, ia tahu jika Henry hanya ingin membaut Farel dan Raila bertengkar, tapi Raila akan mencoba menahannya dan akan bertanya secara baik-baik pada Farel, ia berharap tidak ada yang di sembunyikan oleh Farel.
"Hu,h iya itu bener," ucap Farel.
"Kenapa kamu gak bilang?" tanya Raila, sejujurnya Raila cukur kecewa karena Farel tidak memberitahukannya pada Raila.
"Maaf, tapi aku cuma mikir aja kayaknya kamu gak perlu tahu, aku takut nanti kamu malah mikir lagi terus nanti kamu sakit, kamu kan orangnya gampang banget mikir yang seharusnya gak perlu kamu pikirin," ucap Farel.
Inilah yang membuat Raila tidak bisa marah lama-lama pada suaminya itu, Farel tahu bagaimana caranya untuk meluluhkan hati Raila, sangat sederhana dan ampuh yaitu dengan merayunya saja.
"Rel," panggil Raila.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Farel yang mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah Raila.
"Kamu pengen punya anak berapa?" tanya Raila.
"Aku sebenarnya terserah, aku gak memberikan patokan harus punya anak segini gitu, yang penting aku, kamu sehat dan segala kebutuhan kita terpenuhi, kalaupun tuhan memberikan kita kesempatan untuk memiliki keturunan itu hanya bonus untuk kisah cinta kita yang penting di sini kisah kita karena bagaimanapun yang bakal selalu ada untukku itu nanti kamu sayang, anak kita nanti akan punya keluarganya sendiri," ucap Farel yang membuat perut Raila seperti di hinggapi kupu-kupu.
"Aku juga mikirnya kayak gitu, tapi tetangga di sini banyak yang udah punya anak dan pas aku berangkat atau pulang kerja pasti ada aja yang tanya kapan punya momongan, jadi males tahu gak," ucap Raila.
"Jadi kamu ingin punya keturunan karena tetangga udah punya keturunan?' tanya Farel.
"Eh, gak gitu dong, tapi ya walaupun alasan itu termasuk, tapi ya gimana gitu aku kan juga pengen," ucap Raila.
"Rai, kita udah berusaha semaksimal mungkin, kita tinggal tunggu kuasa Tuhan, kita harus percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah untuk kita, bisa jadi kita di beri ujian untuk mendapatkan keturunan karena Tuhan ingin melihat bagaimana usaha terbaik yang akan kita berikan pada Tuhan," ucap Farel.
"Kamu kok tumben sih bicaranya panjang mana kata-kata kamu tadi bagus lagi, bikin merinding aja," ucap Raila.
"Tadi aku udah tanya Lexa dan katanya dia di suruh sama Henry untuk kasih tahu ke kita berdua," lanjut Raila.
"Kok bisa Lexa bohongin kita?" tanya Farel.
"Dia di kasih tas mahal sama Henry, emang dasar Henryanto," maki Raila.
Henry sangat benci jika di panggil degan sebutan henryanto karena itu merupakan nama panggilan dari guru sejarahnya duku dan sampai sekarang beberapa orang masih memanggilnya Henryanto.
"Aku gak kaget sih kalau alasannya karena itu," ucap Farel.
"Sama aku juga," ucap Raila.
Selama pernikahan mereka yang hampir dua bulan ini, Raila dan Farel selalu menyempatkan diri untuk mengobrol ataupun hanya sekedar basa basi, selama pernikahannya baik Raila ataupun Farel selalu bercerita mengenai agri mereka terutama setelah Raila tahu mengenai Farel yang harus mengganti rugi untuk ayam gorengnya yang tidak sengaja jatuh.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1