
Malam harinya Farel pulang sedikit larut karena memang ia harus menyelesaikan semua berkas-berkas yang akan ia berikan pada Papa Aaron sebelum perayaan ulang tahun pernikahan Papa Aaron dan Mama Aurel yang diadakan besar-besaran.
Karena semua orang sudah tahu bagaimana rupa keluarga Revion. Sebab itu, Papa Aaron dan Mama Aurel memutuskan untuk merayakannya secara besar-besaran, bukan hanya kerabat, tapi juga rekan bisnis dan juga para pegawai pun dapat menikmati perayaan tersebut.
"Sayang," panggil Farel di depan kamar Lea tentuanya Farel mengetuk pintu terlebih dahulu.
Raila sendiri yang memang sedang mengobrol dengan Lea mengenai masa muda pun menoleh kearah pintu yang masih tertutup.
"Kayaknya pangeran kodok Kakak udah dateng tuh," ucap Lea.
"Kamu nih Kakak sendiri malah dibilang pangeran kodok," ucap Raila.
Baru saja Raila bersiap untuk turun dari ranjang kamar Lea, suara Farel kembali menggema di kamar Lea dan suaranya cukup kencang daripada yang pertama.
"Sayang!" ucap Farel, yang meninggikan suaranya.
"Udah cepetan sana Kak, nanti kalau Kak Raila lama ke sananya bisa-bisa para tetangga marah karena ada suara yang merusak telinga mereka," ucap Lea.
"Kamu nih, yaudah kalau gitu Kakak pergi dulu ya. Kapan-kapan kita cerita lagi," ucap Raila.
"Siap Kak," ucap Lea.
Raila keluar dari kamar Lea dan baru saja membuat pintu tangannya sudah ditarik oleh sang pelaku dan Raila dibawa ke kamarnya.
"Kak tutup pintunya!" teriak Lea.
Raila memang belum sempat menutup pintu karena Farel sudah menarik tangannya, "Tutup sendiri! orang masih punya tangan sama kaki gitu!" teriak Farel.
Sesampainya di kamar Farel pun mendudukkan Raila di sofa, "Kenapa?" tanya Raila, karena Farel menatapnya dengan intens.
"Harusnya aku pulang kamu nungguin aku di pintu atau apa gitu, ini kamu malah sama Lea," ucap Farel.
"Aku tuh daritadi udah nungguin kamu di ruang tamu, tapi karena bosen yaudah aku ke kamarnya Lea," ucap Raila.
"Kamu emangnya sibuk banget ya?" tanya Raila dan membenarkan rambut Farel yang mulai panjang.
"Ya, lumayan sih. Aku kan harus ngurus semua pekerjaanku sebelum kita pindah nanti," ucap Farel.
"Memangnya harus banget ya pindah?" tanya Raila.
"Kenapa? kamu gak pengen pindah ke sana?" tanya Farel.
"Bukan itu, maksudku karena pindah pekerjaan kamu itu jadi banyak bahkan kamu sampe lembur, aku cuma takut aja nanti kamu sakit," ucap Raila.
"Aku gapapa sayang, ini memang keinginanku untuk pindah, jadi kamu tidak perlu khawatir kayak gitu ya. Aku bakal jaga kesehatan kok," ucap Farel dan diangguki Raila.
__ADS_1
"Kamu bersih-bersih dulu terus makan," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu aku mandi dulu," ucap Farel.
Saat Farel mandi Raila pun mempersiapkan baju ganti Farel dan setelah itu ia memilih untuk keluar kamar dan menuju meja makan.
"Loh sayang kamu kenapa kok malem-malem ke sini?" tanya Mama Aurel, yang berada di dapur.
"Ini Ma. Raila mau nyiapin makanan buat Farel," ucap Raila.
"Loh! Farel baru pulang?" tanya Mama Aurel.
"Iya, Ma. hari ini Farel lembur," ucap Raila dan diangguki Mama Aurel.
"Mau Mama bantu?" tanya Mama Aurel.
"Gak usah Ma, ini Raila cuma buat nasi goreng doang kok," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu Mama tinggal ya soalnya tadi Mama cuma bikin kopi buat Papa kamu," ucap Mama Aurel.
"Malem-malem Papa minum kopi," ucap Raila.
"Biasa, namanya juga Papa kamu sayang. Kayak kamu gak tahu Papa kamu aja," ucap Mama Aurel, lalu pergi meninggalkan Raila.
Selesai dengan makanannya Raila baru saja ingin beranjak pergi dan memanggil Farel. Namun, ternyata Farel sudah turun dan berjalan menuju meja makan.
"Aku tadi udah makan," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu ayo makan lagi," ucap Farel.
"Gak mau ah, nanti aku tambah gemuk kalau makan lagi,' ucap Raila.
"Gapapa kalau kamu tamba gemuk, aku suka kok kalau kamu gemuk," ucap Farel, yang tidak tahu telah membangunkan singa tidur.
"Maksud kamu apa? kamu mau aku gemuk gitu? terus kamu bisa cari cewek lain yang lebih langsing dan bisa muasin kamu iya?" tanya Raila.
Farel yang merasa bersalah pun mendongak dan menatap Raila yang menatapnya garang, "Bukan gitu sayang," ucap Farel.
"Terus apa?" tanya Raila.
"Maksudku gini loh, aku gak peduli kamu kurus atau gemuk dan saat aku bilang aku suka kamu gemuk itu bener karena kalau kamu gemuk itu aku makin nyaman buat meluk kamu," ucap Farel.
"Ck, udah gak usah di bahas mending kamu makan aja," ucap Raila.
Raila sangat sensitif jika harus membahas mengenai berat badan. Sedangkan, Farel tahu jika Raila marah pun diam dan menghabiskan makanannya.
__ADS_1
'Sepertinya gue salah deh ngomong soal berat badan ke Raila,' ucap Farel, dalam hati.
Setelah makan malamnya Farel dan Raila kembali ke kamar mereka, "Sayang, maaf ya," ucap Farel.
"Iya, udah gak usah di bahas lagi," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu ayo tidur," ucap Farel.
Farel dan Raila pun merebahkan diri di ranjang king size-nya, Raila sendiri tidak bisa benar-benar tidur, "Rel," panggil Raila.
"Kenapa sayang?" tanya Farel.
"Hem, aku kemarin dapet telpon dari seorang perempuan terus dia bilang kalau neraka kamu udah dateng," ucap Raila.
Farel pun duduk dan menatap Raila, "Maksud kamu apa neraka udah dateng?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Dia bilang apa lagi ke kamu?" tanya Farel.
"Dia gak bilang apa-apa sih, dia cuma bilang kalau neraka kamu udah dateng dan aku boleh bilang ke kamu, makanya aku langsung bilang ke kamu," ucap Raila.
"Emangnya kenapa Rel? kamu kenal sama dia?" tanya Raila.
"Aku juga gak tahu, tapi aku dulu pernah di teror sama dia dan dia juga ngaku nerakaku," ucap Farel.
"Pa jangan-jangan dia berniat jahat sama kamu," ucap Raila.
"Sepertinya begitu, sayang. Kamu harus waspada ya, jangan biarkan siapapun dekat sama kamu apalagi orang yang mencurigakan, sekarang ini banyak yang mulai mengincar aku maupun kamu," ucap Farel.
"Pasti semua ini karena aku yang udah bongkar identitas kamu dan keluarga Revion," ucap Raila.
"Bukan sayang, kamu gak salah apa-apa, semua ini udah takdir, kalaupun kamu gak bongkar identitas aku dan keluarga Revion. Mereka juga pasti bakal tetep ngelakuin apa yang udah mereka rencanakan, ini semua itu cuman masalah waktu," ucap Farel.
"Apa kamu pernah buat salah sama seseorang sampe perempuan itu berniat jahat sama kamu?" tanya Raila.
"Aku juga gak tahu, kalau kamu tanya aku pernah buat salah sama seseorang atau gak, sepertinya gak pernah. Tapi, aku gak tahu bagaimana perasaan orang yang mungkin saja dia merasa aku keterlaluan dan memiliki dendam pribadi denganku," ucap Farel.
"Yaudah, kalau gitu gak usah di pikirin lagi. Sekarang lebih baik kita tidur, besok kita pikirin lagi gimana caranya buat nanganin masalah ini," ucap Raila dan diangguki Farel.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk tidur meskipun pikiran mereka terus memikirkan siapa orang yang memiliki niat jahat pada mereka.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.