
Saat ini mereka berempat sedang berada di ruang tamu dan menonton televisi sambil mengobrol lebih tepatnya Farel dan Papa Aaron yang entahlah Raila pun tak tahu apa yang mereka bicarakan. Sedangkan, Raila dan Mama Aurel hanya menyimak pembicaraan mereka sambil menonton televisi tentunya.
Saat sedang asik dengan kegiatan masing-masing tiba-tiba terdengar suara petir yang cukup keras hingga membuat majalah yang berada di tangan Mama Aurel pun terjatuh karena Mama Aurel yang terkejut mendengar suara petir tersebut.
"Kok tiba-tiba ada petir ya, perasaan gak mendung kok tadi," ucap Mama Aurel.
"Mama gapapa sampe jatuh gitu majalahnya?" tanya Papa Aaron, yang duduk di samping Mama Aurel.
"Iya, gapapa kok, Pa. Kamu gimana sayang gapapa?" tanya Mama Aurel, pada Raila.
"Raila gapapa kok, Ma. Cuma kaget aja tadi, tapi sekarang udah gapapa," ucap Raila.
"Udah malem mending kita tidur, mungkin suara petir cuma mau ngasih tahu kalau waktunya tidur," ucap Papa Aaron.
.
Farel dan Raila saat ini berada di kamar, "Kamu ganti baju dulu terus tidur ya," ucap Farel dengan lembut.
Raila hanya melirik Farel lalu menuju walk-in closet dan mengganti gaun mewahnya, "Sayang, banget gaun bagus kayak gini di pakai di rumah," gumam Raila.
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Raila pun memutuskan untuk keluar dan melihat jika Farel sudah berada di atas ranjang dan memejamkan matanya, "Mungkin Farel capek yaudah deh," gumam Raila.
Bukannya menghampiri Farel dan tidur di atas ranjang king size tersebut, Raila justru berjalan menuju sofa dan tidur di sana, Raila mencoba memejamkan matanya, Raila merasa seluruh tubuhnya lelah, ia ingin beristirahat sebentar saja.
'Ini sofa padahal, tapi lebih nyaman di sini daripada di kasur yang ada di kos atau kasur yang ada di kamarku,' ucap Raila dalam hati.
Saat sedang mencoba untuk tidur tiba-tiba Raila dikejutkan dengan seseorang yang menggendongnya, Raila pun membuka matanya dan melihat Farel yang menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Raila merasa takut saat melihat wajah Farel, bagaimana tidak, ini pertama kalinya Raila melihat wajah datar tersebut. Meskipun Farel memang orangnya cuek dan dingin, namun Raila tidak pernah melihat Farel menampilkan wajah yang menakutkan seperti saat ini.
Bahkan Raila yang ingin memberontak dalam gendongan tersebut tidak berani, ia merasa saat ini bukan saat yang tepat untuk melawan.
Farel merebahkan tubuh Raila dengan lembut di atas kasur empuknya, Farel hanya menatap Raila dan begitupun sebaliknya. Namun, dengan cepat Raila mengalihkan pandangannya dari Farel.
'Bisa-bisa luluh gue kalau lihat Farel terus,' ucap Raila dalam hati.
"Kalau tidur itu di sini bukan di sana, besok aku akan suruh pelayan untuk buang sofa itu," ucap Farel.
Raila yang awalnya menatap jendela pun lantas menatap tajam Farel, "Kenapa di buang?" tanya Raila.
"Karena kamu udah tidur di sana dan bukan tidur di kasur yang semestinya kamu tempati," ucap Farel.
"Tapi, ini kan bukan kamarku, aku gak mau tidur di sembarang tempat," ucap Raila.
'Bodoh, lo ini istrinya Farel ya seharusnya gak masalah sih lo tidur di sini,' ucap Raila dalam hati.
"Kamu itu istriku, seluruh kamar ini juga milikmu, ini kamarmu juga, kamu boleh melakukan apapun di kamar ini, kamu boleh tidur di kasur ini bahkan kalau kamu ingin mendekorasi ulang kamar ini pun boleh, kamu adalah nyonya kamar ini, Rai," ucap Farel.
Farel semakin mendekatkan wajahnya dengan Raila, "Rel, kamu berdiri dulu, aku gak bisa napas," ucap Raila.
Namun, Farel tidak meresponnya justru Farel semakin gencar mendekati Raila hingga bibir mereka pun menyatu beberapa menit.
"Kalau kamu tidak terluka sudah aku pastikan besok kamu tidak akan bisa berjalan," ucap Farel, lalu berdiri dan merebahkan tubuhnya di samping Raila dan menarik Raila ke dalam pelukannya.
"Rel, gak bisa napas aku-nya kalau kamu peluknya kenceng banget kayak gini," ucap Raila.
__ADS_1
Farel pun mengendurkan pelukannya dan menatap Raila yang berada tepat di depan dada bidangnya, "Rai," panggil Farel.
Raila pun menatap Farel dan gak itu sontak membuat Farel gemas sendiri melihat ekspresi Raila, "Kamu tahu gak aku sayang banget sama kamu," ucap Farel.
"Masa," ucap Raila.
"Kamu tahu saat aku pergi dari kos waktu itu, aku ingin menghindari ucapan kamu yang ingin mengajukan perceraian, aku berharap saat aku pergi waktu itu kamu berubah pikiran untuk membatalkan niat kamu itu. Jujur Rai, ucapan yang paling menyakitkan yang selama ini pernah aku dengar dalam hidupku itu saat kamu mengatakan akan mengajukan perceraian," ucap Farel.
"Aku gak mau sampai harus berpisah dari kamu, Rai. Setiap hari aku berharap kamu menghubungiku dan setelah seminggu aku pergi aku datang untuk menemui kamu, tapi ternyata kenyataan pahit yang aku dapatkan. Kamu di pecat dan kamu juga di usir," lanjut Farel.
"Rel," panggil Raila, saat melihat kedua mata Farel mulai berkaca-kaca.
"Aku udah nyari kamu, Rai. Aku udah nyewa orang-orang profesional untuk menemukan kamu, tapi mereka gak tahu keberadaan kamu dimana, aku frustrasi dan tiba-tiba aku mendapat kabar keberadaan kamu, tapi lagi-lagi aku harus merasakan sakit di dadaku saat aku mendengar dari orang itu jika kamu sedang hamil, a - aku sebagai ayah gak becus karena membuat kalian menderita. ucap Farel.
"Saat aku melihat kamu di restoran sedang di marahi membuat rasa penyesalanku semakin kuat apalagi aku harus melihat bagaimana tempat tinggal kamu selama ini, Rai. Rasanya aku benar-benar ingin menghukum orang-orang yang sudah membuat kamu seperti ini dan membuat a - anak ki - kita harus-," lanjut Farel. Namun belum sempat menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Raila memeluknya dengan erat.
"Maaf, semua ini karena aku yang bersikap kekanak-kanakan, aku terbawa emosi sampai gak bisa mencerna apa aja yang aku ucapkan ke kamu saat itu, hiks hiks hiks," ucap Raila.
"Rai, aku se-sayang ini sama kamu, aku rela ngelakuin apapun untuk kamu, Rel. Tolong maafin semua yang pernah aku lakuin, sekarang kita bangun rumah tangga kita lagi sebelum adanya kesalahpahaman ini," ucap Farel.
Raila hanya diam dan menatap Farel, rasanya ia ingin menyetujui apa yang dikatakan Farel. Namun, ia merasa bersalah bahkan tidak pantas setelah melihat perlakuan Farel dan keluarganya yang kelewat baik untuknya dan berbeda dengan perlakuan keluarga Raila.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.
*Masih banyak kesalahan dalam pengetikan jika ada waktu akan author review ulangš„°