
Raila menatap Papa Alvan yang sedang makan, "Papa kalau makan pake selang ya, Ma?" tanya Raila.
"Iya, Papa kamu gak bisa ngunyah makanan, jadi harus pake selang dan makan dari hidupnya," ucap Mama Sena.
Raila yang mendengarnya benar-benar tidak bisa menahan tangisannya, Raila bertanya-tanya pada dirinya sendiri kemana saja selama ini. Disaat Papa Alvan sakit ia justru bersenang-senang, se-benci apapun Raila dengan keluarganya, tapi Raila tetap ingin keluarganya bahagia. Tapi, ini justru sebaliknya.
"Gimana kalau Om Alvan melakukan pengobatan di luar negeri aja, biar saya yang akan mengurus semuanya," ucap Farel.
"Tapi, Mama gak punya uang untuk pengobatan Papa," ucap Mama Sena.
"Tante gak perlu khawatir biar semuanya saya yang bayar, Tante fokus ke pengobatan Om Alvan saja," ucap Farel.
Mama Sena hanya diam lalu berlari dan bersimpuh di depan Farel, "Ma - maafin Mama, selama ini Mama udah ngecewain kamu. Mama sudah menghina kamu dan juga berperilaku buruh sama kamu, hiks hiks hiks," ucap Mama Sena dan menangis kencang di depan Farel.
Raila yang melihat Mama Sena pun langsung menangis karena ia tidak pernah memikirkan jika Mama Sena akan melakukan hal itu pada Farel. Sedangkan, Farel membantu Mama Sena berdiri agar tidak bersimpuh di depannya.
"Tante gak perlu merasa bersalah kayak gini, saya tidak masalah kok. Lagipula ini juga kewajiban saya sebagai suami Raila," ucap Farel.
"Mulai sekarang jangan panggil Tante lagi, kamu harus membiasakan diri buat manggil Mama dan Papa. Bagaimanapun kamu itu adalah menantu Mama," ucap Mama Sena.
"Iya, Ma," ucap Farel.
"Makasih, Rel," ucap Mama Sena dan diangguki Farel.
"Sekarang waktunya untuk Papa kamu tidur," ucap Mama Sena dan diangguki Raila.
"Yaudah, kalau gitu Raila pamit dulu ya, Pa. Nanti Raila bakal sering ke sini buat ketemu sama Papa," ucap Raila.
Setelah Raila mengatakan hal tersebut, Farel pun mendekat kearah Papa Alvan, "Pa. Farel sama Raila pamit dulu ya, Farel akan Atut jadwal pengobatan Papa. Farel akan berusaha supaya Papa bisa sembuh dan kembali kayak dulu lagi," ucap Farel.
Papa Alvan hanya mengerjapkan matanya seolah-olah menganggukkan semua yang dikatakan Raila dan juga Farel. Setelah berpamitan pada Papa Alvan, mereka bertiga pun keluar dari kamar tersebut.
"Kamu mau makan dulu? tadi Mama buat ayam kecap?" tanya Mama Sena.
Raila tersenyum mendengar tawaran dari Mama Sena karena ia merasa Mama Sena benar-benar berubah, ia bahagia karena Mama Sena sudah menerima Farel.
"Kita makan dulu ya," ucap Raila.
"Iya, sayang," ucap Farel.
Mereka pun akhirnya memilih untuk menerima tawaran Mama Sena yaitu makan di rumah tersebut. Sejujurnya Raila juga merindukan masakan Mama Sena, meskipun masakan Mama Aurel enak, tapi tetap saja masakan Mama Sena selalu nomor 1 bagi Raila.
Raila dan Farel memakan masakan Mama Sena tanpa mengobrol dan selesai makan mereka duduk di ruang tamu terlebih dahulu sebelum pamit pulang, awalnya Raila ingin membantu membereskan meja makan, tapi Mama Sena melarangnya dan menyuruh Raila untuk duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Mama," panggil Raila, saat Mama Sena keluar dari dapur.
"Kenapa, Rai?" tanya Mama Sena dan duduk di sebelah Raila.
"Hem, kemana semua perabotan rumah kok gak ada ya?" tanya Raila.
"Oh itu, semuanya udah Mama jual untuk biaya pengobatan Papa kamu. Kamu tahu sendirilah biaya yang harus dikeluarkan buat Papa kamu itu lumayan mahal," ucap Mama Sena.
"Bukannya ada tabungan keluarga," ucap Raila.
"Tabungan keluarga udah habis untuk biaya Papa kamu dan juga Lexa," ucap Mama Sena.
Mendengar nama adiknya, Raila baru sadar jika ia tidak melihat Lexa sama sekali sejak tadi, "Lexa kenapa, Ma? terus Lexa sekarang kemana kok Raila daritadi gak ngelihat dia?" tanya Raila.
"Lexa hiks hiks." Mama Sena tidak meneruskan ucapannya karena menangis tersedu-sedu.
"Lexa kenapa?" tanya Raila, ia benar-benar penasaran dengan keadaan adiknya itu.
"Le ... Lexa, di ... dia hamil diluar nikah," ucap Mama Sena.
Raila terkejut mendengar ucapan Mama Sena, bagaimana bisa adiknya itu hamil diluar nikah, "Terus sekarang Lexa kemana?" tanya Raila.
"Dia pergi dengan pacarnya," ucap Mama Sena.
Mama Sena menatap Farel dan Raila bergantian lalu menganggukkan kepalanya, Raila benar-benar emosi saya ini karena kelakuan adiknya itu.
"Sejak kapan Lexa pergi dari rumah?" tanya Raila.
"Udah beberapa Minggu, pokoknya Lexa pergi di malam hari setelah Papa terkena stroke," ucap Mama Sena.
"Lexa benar-benar keterlaluan," ucap Raila.
"Apa pacarnya Lexa itu yang cowok waktu itu? yang usianya lebih pantes dipanggil Om daripada mas?" tanya Raila.
"Bukan," ucap Mama Sena.
"Terus pacar baru yang udah buat Lexa hamil?" tanya Raila.
"Bukan," ucap Mama Sena.
"Maksud Mama?" tanya Raila.
"Lexa hamil anak Tara, pria yang waktu itu dikenalin ke kita, tapi karena perusahaan Tara mengalami kebangkrutan akhirnya Lexa memutuskan Tara secara sepihak dan mencari pacar baru, tapi baru dua hari Lexa pacaran ternyata Lexa udah hamil 6 Minggu, lalu beberapa hari setelahnya Tara datang dan mengatakan jika Lexa tengah hamil anaknya. Mama tanya ke Lexa dan dia mengaku kalau memang anak yang dia kandung itu anak Tara, tapi dia sudah putus dengan Tara dan lebih memilih pacaran barunya," ucap Mama Sena.
__ADS_1
"Terus pacar barunya Lexa tahu kalau Lexa lagi hamil?" tanya Raila.
"Mama rasa dia gak tahu," ucap Mama Sena.
Farel yang melihat istrinya emosi pun segera menenangkannya, ia memegang dan mengusap lembut tangan Raila, "Jangan emosi," ucap Farel.
Raila pun mulai menenangkan dirinya, "Mama gak perlu khawatir nanti Raila akan cari dia," ucap Raila.
"Nanti Farel akan suruh anak buah Farel untuk mengirimkan beberapa perabotan rumah yang gak ada," ucap Farel.
"Gak perlu, Mama juga gak terlalu butuh barang-barang itu kok," ucap Mama Sena.
"Gapapa, Ma. Mama tinggal terima aja," ucap Farel.
"Makasih Farel karena udah memaafkan Mama dan mau membantu Mama," ucap Mama Sena.
"Sudah kewajiban Farel juga, Ma," ucap Farel.
"Kalau gitu Raila dan Farel pergi gapapakan, Ma?" tanya Raila.
"Iya, Raila," ucap Mama Sena.
Raila dan Farel pun memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobil, "Kita ke kantor dulu gapapa?" tanya Farel.
"Aku pulang aja deh, kamu berhenti aja di halte depan biar aku pulangnya naik bus," ucap Raila.
"Kenapa gak mau ke kantorku hm?" tanya Farel.
"Nanti aku aku bosen lagi kalau aku ikut ke kantor kamu," ucap Raila.
"Gimana kalau nanti kamu keliling ke kantorku aja biar kamu gak bosen?" tawar Farel.
"Emangnya boleh?" tanya Raila.
"Boleh dong, apa sih yang gak boleh buat kamu. Kamu mau minta sahamnya juga boleh," ucap Farel.
"Aku gak sampe minta saham kali, nanti kamu jadi miskin gara-gara aku," ucap Raila.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.