Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Sangat Setuju


__ADS_3

"Kakak ipar tolongin, si bos harus hadir di rapat itu. Rapatnya udah 6 kali, tapi si bos gak pernah hadir," rengek Evan.


"Heh, kan lo asisten gue ya terserah gue dong mau hadir pas rapat apa gak," ucap Farel.


"Kakak ipar," rengek Evan, dengan memegang lengan Raila.


Farel yang melihat hal itupun lantas menarik Raila untuk duduk di pangkuannya, "Jangan sekali-kali lo sentuh istri gue lagi," ucap Farel.


"Ck, makanya lo ke rapat dong," ucap Evan.


"Iya gue bakal ikut rapat, tapi gak untuk rapat kali ini," ucap Farel.


"Terus?" tanya Evan.


"Rapat selanjutnya," ucap Farel.


"Loh mah kayak gitu, Rel. Gak bisa dong harus dapat hari ini," ucap Evan.


"Yaudah kalau gitu gue gak bakal hadir ke rapat itu lagi," ucap Farel.


"Ck, iya iya untuk kali ini doang, awas aja kalau dapat selanjutnya lo gak hadir, gue culik Kakak ipar," ucap Evan.


"Lo culik istri gue, gue kasih tahu ke Kak Naila," ucap Farel.


"Lo mah ngancemnya gak asik bawa-bawa Kakak gue," ucap Evan.


Evan memang takut dengan Kakak perempuannya itu. Bagaimana tidak Kak Naila merupakan atlet karate dan Evan seringkali menjadi bahan percobaan saat Kak Naila melatih dirinya, sebab itu Evan ketakutan jika bertemu dengan Kakak kandungnya tersebut.


""Rel, jangan gitu kasihan tahu Evan. Mending kamu ikut rapat sekarang," ucap Raila.


"Gak sayang, hari ini aku mau sama kamu, udah sana, Van. Lo ganggu gue sama Raila yang mau berduaan, Mama juga pergi ya soalnya Mama juga ganggu," ucap Farel.


"Kamu ngusir Mama dasar anak durhaka," ucap Mama Aurel.


"Raila mau sama Mama aja deh kalau kayak gini," ucap Raila.


"Gak boleh, hari ini kamu sama aku aja, Mama sama Evan kalau mau di sini gapapa deh soalnya Farel sama Raila mending di kamar aja biar gak ada yang lihat," ucap Farel dan menggendong Raila ala bridal style.


Raila benar-benar malu pada Mama Aurel dan juga Evan yang melihat tingkah konyol Farel, "Rel, lain kali jangan gitu ya. Aku gak suka kalau kamu kayak gitu," ucap Raila.


"Iya sayang," ucap Farel.


"Kamu mah cuma iya iya doang," ucap Raila.


"Rai," panggil Farel.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Raila.


"Aku mau tanya rencana kamu selanjutnya apa?" tanya Farel.


"Maksudnya?" tanya Raila.


"Buktiin kalau kamu tidak bersalah," ucap Farel.


"Aku juga bingung masalahnya aku gak bisa masuk untuk periksa cctv," ucap Raila.


"Kamu yakin cctv itu masih ada?" tanya Farel.


"Kenapa emangnya?" tanya Raila.


"Mungkin aja Dandi udah hilangin barang buktinya bukan," ucap Farel.


"Iya juga sih, tapi aku gak bakal tahu kalau aku gak coba cek, Rel. Makanya aku butuh masuk ke kantor," ucap Raila.


"Anggaplah kamu gak bersalah nantinya apa yang mau kam lakukan?" tanya Farel.


"Aku mau jeblosin Dandi ke penjaralah karena dia udah nuduh aku dan buat aku di pecat dari kantor," ucap Raila.


"Terus kalau seandainya kantor itu mau kamu kembali kerja di sana menurut kamu gimana?" tanya Farel.


"Vanya?" tanya Farel.


"Apalagi si kacang sembunyi itu bikin naik darah aja kalau ketemu dia, aku udah nganggep dia sahabat aku banget eh ujung-ujungnya dia malah hina aku, orang yang selama ini aku bela ternyata orang yang paling gencar hina dan caki maki aku," ucap Raila.


"Tapi, Vanya kan gak punya keluarga terus kalau kantor itu bangkrut gimana dong?" tanya Farel.


"Ya, bairin aja. Biar dia sahabat sahabat baginya si Angel. Namanya doang Angel, tapi sifatnya kayak ghost," ucap Raila.


"Beneran gapapa nih ya kalau kantor itu bangkrut?" tanya Farel.


"Iya, gapapa aku malah pengen berdiri di depan kantor saat semua pegawai keluar dari kantor dan aku bakal ketawa sepuasnya, terus aku nanti mau ngasih bendera kuning di sana biar kelihatan kalau kantor itu udah gak ada," ucap Raila.


"Tunggu kenapa kamu tanya itu jangan bilang kalau bakal-," ucapan Raila terkesan dan menunjuk Farel yang ada di sampingnya.


"Iya, aku pengen buat kantor itu hancur menurutmu gimana?" tanya Farel.


"Sangat setuju, sekarang aja kamu hancurin biar puas aku lihat wajah mereka yang hina aku," ucap Raila.


"Aku pengennya hari ini, tapi gak serulah kalau gak ngasih mereka pemanasan," ucap Farel.


"Maksudnya?" tanya Raila.

__ADS_1


"Besoklah kamu tahu gak sekarang, gak seru juga kalau kmu tahu sekarang," ucap Farel.


"Ck, gitu aja pake rahasiaan segala," ucap Raila.


"Oh iya, tadi kamu bilang mau bikin kantor sendiri emangnya kamu udah ada gambaran kantornya?" tanya Farel.


"Ada sih, hem. Aku pengen kantorku narik penulis kecil yang pembacanya cuma sedikit gitu nah terus kita promosiin karena waktu aku kerja di kantor yang buruk itu, penulis kecil yang gak terkenal gitu dan pengen nerbitin novelnya itu kayak kurang bimbingan gitu dan mereka juga harus ngeluarin tenaga serta uang yang banyak gitu padahal gak sebanyak itu, tapi kantor aja yang ngasih harga mahal untuk nerbitin di kantor. Tapi endingnya malah dibatalkan seenaknya aja sama kantorku dulu mana gak mau tanggungjawab lagi," ucap Raila.


"Jadi, karena itu kamu pengen buat kantor penerbitan sendiri," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Udah nemu tempatnya?" tanya Farel.


"Belum sih, tapi aku udah ada beberapa, tapi gak tahu juga kayaknya aku bakal cari lagi deh," ucap Raila.


Farel berdiri dan mengambil sesuatu di laci meja, beberapa saat kemudian Farel kembali dan memberikan sebuah kartu pada Raila.


"Ini untuk kamu beli tempatnya, gunain semuanya habiskan juga gapapa," ucap Farel.


"Gak perlu, aku ada uang kok. Tapi kalau kamu maksa sih yaudah aku gak bisa berbuat apa," ucap Raila dan mengambil kartu tersebut.


Farel tersenyum geli melihat Raila, padahal ia tidak memaksanya, tapi Farel bersyukur karena Raila mau menerimanya.


"Emang isi uangnya berapa kok kata kamu boleh aku habiskan?" tanya Raila.


"Kamu beli 5 rumah, 5 mobil sama kamu beli perhiasan banyak-banyak juga gak bakal habis uangnya," ucap Farel.


Raila yang mendengar jawaban Farel pun hanya menganggukkan kepalanya karena paham maksud dari jawaban Farel tadi.


"Tapi, nanti aku mau cari tempatnya yang deket dari rumah biar gak capek aja gitu, kalau kantor dulu kan jauh dari rumah makanya aku males berangkatnya," ucap Raila.


"Tapi, kan kamu bosnya nanti jadi gapapa dong kalau kamu telat," ucap Farel.


"Oh tidak bisa, aku emang bos. tapi, aku tetap pegawai di kantorku sendiri, gak kayak kamu," ucap Raila.


"Untung aku orangnya gak gampang kesindir," ucap Farel.


"Rai, boleh tanya?" tanya Farel.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2