
Tak terasa sudah dua bulan Farel dan Raila tinggal di Belanda, Raila pun mulai beradaptasi dengan lingkungan yang ada di sana. Seperti saat ini Raila tengah duduk santai di taman apartemen bersama dengan penghuni apartemen lainnya.
Raila merasa kepalanya pusing bahkan perutnya terasa tidak enak, "Kenapa ya ini kok pusing banget?" tanya Raila.
Raila benar-benar tidak kuat, akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen dan tidur di kasur, Raila mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba saja rasa mual menghampirinya.
Raila segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan tersebut, tapi tidak ada yang keluar.
Raila benar-benar merasa lemas setelah dari kamar mandi, akhirnya ia memutuskan untuk keluar. Namun, baru saja Raila berjalan tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjatuhnya jika saja Farel tidak menahannya.
"Sayang, kenapa kamu?" tanya Farel yang merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.
Karena tidak mendapat respon akhirnya Farel pun menggendong Raila menuju mobilnya dan pergi ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, Farel pun tiba di rumah sakit, "Dokter tolong istri saya!" teriak Farel.
Akhirnya Raila ditangani oleh dokter dan Farel menunggu di luar dengan cemas, setelah kurang lebih 15 menit barulah dokter keluar dari ruangan tersebut, "Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Farel.
"Bapak tidak perlu khawatir karena keadaan istri anda baik-baik saja," ucap dokter tersebut.
"Bagaimana bisa saya baik-baik saja sedang istri saya batu saja tidak sadarkan diri," ucap Farel yang terlihat sangat frustasi.
"Anda tidak perlu khawatir, saya sarankan anda pergi ke dokter Meyla untuk memeriksakan keadaan istri anda karena saya pun tidak tahu pasti mengenai penyakit yang diderita oleh istri anda," ucap dokter tersebut dengan tersenyum lebar.
"Dok, istri saya ini lagi sakit loh, tapi kenapa dokter malah tersenyum kayak gitu?" tanya Farel, yang menatap curiga kepada dokter tersebut.
"Karena itu saya sarankan untuk memeriksakannya ke dokter Meyla, kalau begitu saya permisi Tuan," ucap dokter tersebut, lalu pergi.
Farel segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat Raila yang sudah bangun dan duduk, "Sayang, kamu gapapa?" tanya Farel.
"Iya, aku gapapa kok," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu kita ke dokter Meyla ya," ucap Farel.
"Dokter Meyla?" tanya Raila.
"Iya, tadi dokter yang nanganin kamu bilang supaya datang ke dokter Meyla biar kita tahu lebih jelasnya soal penyakit kamu," ucap Farel.
"Rel, aku takut," lirih Raila.
"Ada aku sayang, aku akan selalu ada di samping kamu ya, jadi kamu gak perlu takut," ucap Farel.
Mereka pun berjalan menuju ruangan dokter Meyla tentunya setelah mendapatkan nomor antrian, Farel memperhatikan tulisan yang tertera di depan ruangan dokter Meyla.
"Hah, ibu dan anak?" tanya Farel.
"Rel, ayo," ajak Raila.
"Ah iya ayo," ucap Farel.
"Selamat pagi," sapa dokter Meyla saat Farel dan Raila baru saja masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Pagi juga dokter," ucap Raila.
"Baik, kalau begitu apa yang anda rasakan akhir-akhir ini?" tanya dokter Meyla.
"Dokter saya akhir-akhir ini merasakan pusing terus juga mual gitu bahkan kadang-kadang badannya saya rasanya remuk, itu kenapa ya dok? apa penyakit saya sangat parah?" tanya Raila, yang mulai berkaca-kaca menanyakannya.
"Anda bisa berbaring di sana nanti akan saya periksa," ucap dokter Meyla dan diangguki Raila.
Raila pun berbaring di brankar ruangan tersebut, setelah itu dokter Meyla pun menyingkap abu Raila sebatas dada dan memeriksanya.
"Anda lihat bentuk kecil di layar itu," ucap dokter Meyla.
"Iya," ucap Farel.
"Itu adalah janin yang sedang di kandung oleh istri anda," ucap dokter Meyla.
Ucapan dokter Meyla membuat Farel dan Raila terkejut dan saling beradu pandang, "Jadi, maksud dokter istri saya hamil?" tanya Farel.
"Iya, istri anda saya ini sedang hamil," ucap dokter Meyla dan membantu Raila untuk duduk kembali di kursi yang berada di depan meja kerjanya.
Farel memeluk erat Raila setelah dokter mengatakan jika istrinya itu tengah hamil, "Makasih sayang," bisik Farel.
Radial tidak dapat menahan tangisannya, ia pun menangis dalam diam karena sangat bahagia diberikan kepercayaan kembali oleh tuhan.
"Jadi begini usia kandung Nona Raila saat ini sudah 5 Minggu dan kandungannya sangat sehat, tapi tetap saja Nona Raila harus menjaga kandungannya karena bagaimanapun trisemester pertama termasuk waktu yang rentan untuk ibu hamil dan janin yang sedang di kandung," ucap dokter Meyla.
"Dok, saya kan pernah keguguran apa itu tidak masalah Jiak saya hamil lagi?" tanya Raila.
Sore harinya setelah dari rumah sakit untuk memeriksa keadaan Raila, Farel semakin protektif bahan Raila tidak boleh membuka pintu, dilarang berjalan dan digendong dan masih banyak lagi seperti saat ini Raila tengah menontonnya televisi, tapi ia tidak diperbolehkan untuk menekan remot dan harus Farel yang menggantikan channelnya.
"Rel, aku gapapa kali," ucap Raila, yang benar-benar jengah dengan sikap Farel yang menurutnya berlebihan.
"Gak sayang, kamu harus santai dan gak boleh ngelakuin apa-apa," ucap Farel.
Ngomong-ngomong untuk keluarga mereka semuanya sudah mengetahui mengenai kehamilan Raila karena tadi setelah keluar dari ruang sakit Raila dan Farel memberitahukannya dan respon mereka sama dengan Farel. Meskipun Raila sedikit risih, tapi ia merasa bahagia karena berbeda dengan kehamilan pertamanya dulu yang Raila rasakan benar-benar berbeda.
Farel sendiri berjanji akan menjaga Raila dan anaknya karena ia tidak ingin kejadian duku terulang lagi, ia tidak ingin kehilangan kembali anaknya karena kebodohannya.
***
2 tahun kemudian
Saat ini Farel, Raila dan anak mereka yakni Zergan Calvin Revion tengah berada di bandara untuk kembali ke Indonesia. Akhirnya setelah 2 tahun mereka pun kembali ke Indonesia karena perusahaan yang di Belanda sudah sangat berkembang dan saya ini Farel ingin santai di Indonesia seperti dulu.
Beberapa jam setelah penerbangan mereka pun akhirnya sampai di Indonesia dan batu saja mereka keluar dari bandara, mereka sudah di hadang oleh sahabat-sahabat Farel, ada Rafka, Joven, Evan dan juga Marvel.
"Gimana kabar kalian?" tanya Marvel.
"Seperti yang lo lihat," ucap Farel.
__ADS_1
"Gue kangen banget sama lo, gila ya kenapa lo gak ngebolehin kita buat datang sih?" tanya Rafka.
"Gue gak mau apartemen gue berantakan karena kalian," ucap Farel.
"Lo mah gitu. Eh tunggu siapa ini ganteng banget kayak bapaknya," ucap Joven yang mencubit pelan pipi Calvin, sampai menangis.
"Ck, lo jangan ganggu anak gue," ucap Farel.
"Gimana Rai? Farel selama lo hamil dan punya anak?" tanya Marvel.
"Farel mah protektif banget," ucap Raila.
"Itukan juga demi kamu sama anak kita sayang," ucap Farel.
"Yaudah, jangan uwu-uwuan di sini, mending kita ke pulang aja di sana udah banyak orang soalnya," ucap Joven.
Akhirnya mereka pun menuju kediaman Revion dan beberapa saat kemudian, kendaraan yang mereka kendarai pun memasuki halaman kediaman Revion yang terbilang megah. Raila yang melihat rumah tersebut sampai terkagum-kagum padahal ia dulu pernah tinggal di sana.
"Ternyata aku udah lama ya gak pernah pulang ke sini," ucap Raila.
Farel memeluk pinggang Raila dan membawanya masuk ke dalam ruang tersebut dan benar saja kata sahabat-sahabatnya ternyata di dalam rumah tersebut sudah banyak orang yang menyambut mereka.
"Sayangnya Mama," ucap Mama Aurel.
"Mama," Raila pun memeluk Mama Aurel.
"Kangen banget tahu gak apalagi sama cucu satu-satunya Oma ini," ucap Mama Aurel dan membawa Calvin ke sahabat-sahabatnya, "Kalian berdua istirahat aja pasti kalian capek kan. Kalau untuk Calvin kalian gak perlu khawatir Mama pasti bakal jaga cucu Mama kok," ucap Mama Aurel.
Mau tidak mau Farel dan Raila pun istirahat ke kamarnya, "Gak ada yang berubah ya," ucap Raila, saat masuk ke dalam kamar tersebut.
"Yang, kita bikin adik buat Calvin yuk," ajak Farel.
"Gak ah, aku capek. Lagian Calvin juga belum genap 2 tahun, kalau Cavin udah 4 tahun deh baru kita bikin adik buat Calvin ya," ucap Raila.
"Kelamaan Yang, keburu nafsu aku," ucap Farel.
Setelah pertempuran panjang tersebut Farel menatap istrinya yang berada di pelukannya, "Makasih sayang karena mau memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan ke kamu. Kamu adalah wanita yang sangat istimewa dalam hidupku karena kamu berhasil buat seorang Zergan Gifarel Revion bertekuk lutut," ucap Farel dan mengecup bibir Raila cukup lama.
"I love you," bisik Farel.
"I love you too," ucap Raila yang masih memejamkan matanya.
.
.
.
END
__ADS_1
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia membaca cerita Farel dan Railaš„°