Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Tepat Sekali


__ADS_3

Siang harinya setelah mengantarkan Raila kembali pulang ke rumah keluarga Revion, Farel pun pergi bukan ke kantor melainkan ke suatu tempat yang ingin ia kunjungi, " Selamat siang, Tuan Zergan," sapa seorang wanita paruh baya dengan menggunakan pakaian rumah sakit.


"Apa dia ada di dalam?" tanya Farel.


"Iya , Tuan. Mari silahkan masuk," ucapnya dengan sopan.


Farel pun masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas dan matanya melihat seorang pria yang membuat kekacauan hidup Raila, "Hallo!" sapa Farel, pada Dandi yang sedang duduk santai di lantai ruangan tersebut.


Farel dapat melihat jika Dandi benar-benar hancur bahkan keadaannya saat ini benar-benar memperihatinkan. Namun, bukan Farel namanya jika belum puas, Farel merasa Dandi belum hancur dan harus di perlakukan lebih lagi.


"Jahat banget sih, sapaan gue gak dibales," ucap Farel, yang menghampiri Dandi. Sedangkan, Dandi hanya menatap kosong kearah Farel.


Pandangannya terlihat dengan jelas jika ia tidak memperdulikan kedatangan Farel, "Ternyata gue di cuekin ya oke, btw cewek Lo si Meisya udah tahu belum soal ini, eh salah maksud gue selingkuhan lo," ucap Farel.


Dandi pun akhirnya menatap tajam kearah Farel, "Santai dong, kayak gitu aja udah natap gue horor," ucap Farel.


"Kalau seandainya Meisya tahu kalau lo gila gimana ya? apa dia bakal tetep suka sama lo atau dia malah cari cowok lain ya," ucap Farel.


Ucapan Farel berhasil membuat Dandi yang sedari tadi diam pun emosi, "Jangan pernah ganggu cewek gue, gue gak akan segan-segan buat hancurin lo kalau sampai lo ganggu Meisya!" teriak Dandi.


"Sayang banget sih lo sama selingkuhan lo, tapi gak seru kalau Meisya gak tahu keadaan lo sekarang, setidaknya Meisya harus dukung lo kan disaat lo ada masalah kayak gini," ucap Farel.


"Pergi lo! karena Lo, gue sekarang jadi kayak gini!" terbuka Dandi, yang benar-benar tidak tahan dengan segala ucapan Farel.


"Lo ngusir gue, seberapa banyak kekuasaan lo sampai bisa ngusir gue dari sini," ucap Farel.


"Gue pastiin kalau lo sama istri lo itu bakal hancur dan kalian berdua bakal sujud di kaki gue!" bentak Dandi.


"Gue bakal tunggu mimpi lo yang terlalu jauh itu," ucap Farel.


"Gue ke sini cuman mau tahu aja sih gimana keadaan lo, tapi kayaknya lo masih sehat ya. Jadi dengan terpaksa lo harus tetep di sini," ucap Farel.


"Lo emang gila ya! gue gak kenapa-napa gue masih sehat, tapi lo bawa gue ke sini!" bentak Dandi.


"Nah! karena lo masih sehat makanya gue bawa ke sini, lo gak usah khawatir gue bakal nyuruh pihak rumah sakit untuk ngasih pelayanan terbaik buat lo sampai lo udah gak sehat lagi," ucap Farel.


"Lo manusia terburuk dan yang paling b******k di dunia ini, Rel," ucap Dandi.


"Lo bilang gue b******k, tapi lo lupa ngaca," ucap Farel.

__ADS_1


"Tapi, gue gak pernah licik kayak lo," ucap Dandi.


"Hahahaha, kayaknya lo lupa gimana liciknya lo," ucap Farel.


"Lo yang bocorin semuanya kan, lo yang udah bongkar data-data web Gantari," ucap Dandi.


"Tepat sekali," ucap Farel.


"Gue bakal buat lo mati sekarang!" teriak Dandi.


Farel hanya diam saat Dandi ingin memukulnya seolah pasrah saat akan dipukul Dandi, belum sempat Dandi berhasil memukul Farel tiba-tiba beberapa perawat masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Maafkan kami Tuan, kamu kurang cepat bertindak terhadap pasien kami," ucap salah satu pasien.


"Kalian tidak perlu meminta maaf, aku hanya sedang berbicara santai dengan pasien kalian yang sepertinya belum tidur siang, hehehe," ucap Farel.


"Maju sini! jangan halangi gue b******k!" bentak Dandi, pada perawat yang sedang memegang tangannya agar Dandi tidak memukul Farel.


"Lo waktunya tidur siang, kalau gitu semoga nyenyak ya tidurnya sama jangan lupa minum obat dan sekalian minum susu biar sehat," ucap Farel dan pergi meninggalkan Dandi.


"BERHENTI BODOH! GUE BELUM SELESAI NGOMONG SAMA LO!" teriak Dandi, setelah Farel keluar dari ruangan tersebut.


"Gimana?" tanya Evan, saat Farel baru saja sampai di depannya.


"Gimana apanya?" tanya Farel, lalu masuk ke dalam mobil


"Ck, gue di tinggal," gumam Evan dan mengikuti Farel masuk ke dalam mobil.


"Gimana sama keadaannya si Dandi?" tanya Evan, yang sudah duduk manis di kursi kemudi.


"Gak gimana-gimana," ucap Farel, yang tentunya berhasil membuat Evan gemas.


"Untung gue sabar ngadepin lo, Rel. Kalau gue gak sabaran orangnya pasti lo udah gak bisa ketemu istri lo tercinta," ucap Evan.


Farel sangat sensitif jika menyangkut Raila dan saat mendengar perkataan Evan jelas saja membuat Farel menatap tajam Evan. Sedangkan, Evan yang merasakan aura menakutkan dari kursi belakang pun hanya melirik kaca depan dan benar saja ternyata saat ini Farel menatapnya bahkan Evan rasa bola mata Farel akan keluar karena tatapan tajam Farel.


"Hehehehe, bercanda kali, Rel. Lagian Raila mah gak mau kalau sama gue," ucap Evan.


Farel hanya diam tidak menanggapi perkataan Evan dan Farel hanya fokus pada jalanan, "Rel, ini kita langsung ke rumah atau gimana?" tanya Evan.

__ADS_1


"Kita ke kantor dulu," ucap Farel.


"Siap, Tuan," ucap Evan, yang mulai bersikap profesional karena Farel akan ke kantor yang artinya ada sesuatu yang akan di urus Farel.


Beberapa saat kemudian, Farel pun sampai di kantor, "Van, bawa berkas hotel yang ada di Bali ke sini," ucap Farel.


"Baik, Tuan," ucap Evan dan pergi dari ruang kerja Farel.


Saat Farel sedang fokus dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan memperlihatkan Evan yang membawa beberapa berkas yang tadi ia perintahkan.


"Ini semua berkas pembangunan hotel yang ada di Bali," ucap Evan.


"Hem, taruh di atas meja, kau boleh pergi,"ucap Farel dan diangguki Evan. Setelah itu Evan pun pergi dari ruangan tersebut.


Farel saat ini sedang meninjau ulang berkas-berkas pembangunan hotel yang ada di Bali, Farel harus mempercepat peninjauannya karena ia harus segera memberikan berkas finalnya ke Papa Aaron agar Papa Aaron segera menyelesaikan semuanya.


Cukup lama berkutat dengan kertas-kertas yang membuatnya pusing, Farel pun mengistirahatkan matanya dengan memejamkan matanya, saat sedang asik memejamkan matanya tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk," ucap Farel, yang masih memejamkan matanya.


"Maaf, Tuan. Ini ada Tuan Maulana ingin menemui anda," ucap Evan.


"Bilang saja kalau aku tidak ingin di temui siapapun, aku masih banyak pekerjaan," ucap Farel.


"Saya sudah mengatakannya tadi, tapi Tuan Maulana tetap kekeh ingin menemui anda," ucap Evan.


"Ck, suruh dia tunggu di ruang tunggu jangan biarkan dia masuk ke ke ruanganku," ucap Farel.


"Baik, Tuan," ucap Evan, setelah itu ia pun pergi dari ruangan tersebut.


"Untuk apa bandit tua itu datang menemuiku?" tanya Farel, pada dirinya sendiri.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2