
Saat ini Farel berada di ruang kerja Papa Aaron, setelah pulang dari ruang Tante Gea. Farel menceritakan semua pada Papa Aaron dan tentu saja hal itu membuat Papa Aaron emosi.
"Kita harus cari Calista secepatnya, Papa gak mau keluarga Papa terluka gara-gara dia," ucap Papa Aaron.
"Tapi, kita gak tahu dimana keberadaan Tante Calista," ucap Farel.
"Papa yakin dia pasti berada di sekitar keluarga Revion," ucap Papa Aaron.
"Apa kita ke rumah sakit aja, Pa. Siapa tahu Tante Calista bertemu perempuan itu," ucap Farel.
"Gak mungkin, Rel. Anak buah Papa terus berjaga di sana dan Papa yakin Calista tidak akan bisa bertemu perempuan itu," ucap Papa Aaron.
"Farel udah melacak keberadaan nomor telepon yang di gunakan Tante Calista untuk menghubungi Raila, tapi nomor itu sudah tidak aktif lagi," ucap Farel.
"Pasti Calista merencanakan semua ini dari jauh-jauh hari," ucap Papa Aaron.
"Papa gak perlu khawatir untuk masalah Tante Calista, Farel akan cari sampai Tante Calista ketemu dan setelah Farel bertemu dengan Tante Calista, Farel harap Papa tidak mencegah Farel untuk melakukan hal apapun pada Tante Calista," ucap Farel, dengan nada dinginnya bahkan Papa Aaron sampai terkejut melihat perubahan nada bicara Farel.
"Memangnya apa yang kamu kamu lakukan pada Calista?'" tanya Papa Aaron.
"Hanya memberi pelajaran, Farel tidak suka Tante Calista yang mengganggu keluarga Farel," ucap Farel.
"Kita pikirkan caranya bersama-sama," ucap Papa Aaron.
"Farel udah punya cara untuk memberi pelajaran ke Tante Calista," ucap Farel.
"Apa maksud kamu? kamu sudah ada rencana, apa rencana kamu?" tanya Papa Aaron.
"Kita pancing Tante Calista," ucap Farel.
"Caranya?" tanya Papa Aaron.
"Kita gunakan Papa Alex," ucap Farel.
"Alex?" tanya Papa Aaron dan diangguki Farel.
"Tante Calista menyukai Papa Alex bukan, itu artinya Tante Calista akan melakukan apapun jika Papa Alex yang memintanya dan mungkin jika Papa Alex meminta Tante Calista mati kayanya bakal diturutin sama Tante Calista," ucap Farel.
"Oke, Papa setuju aja sama rencana kamu karena Papa memang tahu Gianna obsesinya Calista sama Alex. Tapi, apa Alex mau? apalagi Marvel, dia pasti menolak rencana kamu, kalau mereka menolaknya gimana selanjutnya?" tanya Papa Aaron.
"Kita buat mereka tidak bisa menolaknya," ucap Farel.
"Caranya" tanya Papa Aaron.
"Kita minta Mama Aulia untuk membujuk Papa Alex dan Marvel," ucap Farel.
__ADS_1
"Papa gak yakin dengan rencanamu yang itu, kamu tahukan kalau Aulia tidak menyukai Calista, bagiamana bisa dia justru menyuruh suaminya menemui orang yang obsesi terhadap suaminya," ucap Papa Aaron.
"Justru Farel rasa Mama Aulia mau membujuk Papa Alex dan Marvel," ucap Farel.
"Bagaimana caranya?" tanya Papa Aaron.
Farel hanya mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya pelan, "Kamu gak tahu gimana caranya supaya Aulia mau bujuk Alex sama Marvel, tapi aku udah yakin banget kalau Aulia bakal setuju," ucap Papa Aaron, yang tidak habis pikir dengan putranya itu.
"Bukankah kita harus optimis dulu," ucap Farel.
"Ini masalah serius, Rel. Kamu juga harus serius," ucap Papa Aaron.
"Farel kurang serius apa sih, Pa. Farel udah serius banget ini," ucap Farel.
"Huh, oke terserah kamu, Papa akan cuma mengubungi Zack karena kamu tahukan keluarganya cukup terkenal di kalangan para hacker," ucap Papa Aaron dan diangguki Farel.
"Tapi, minta Papa Zack sendiri yang menyelidikinya," ucap Farel.
"Kenapa emangnya?" tanya Papa Aaron.
"Sekarang ini banyak mata-mata yang siap mengawasi kita kapan aja," ucap Farel.
"Kamu curiga dengan salah satu anak buahnya Zack?" tanya Papa Aaron.
"Farel!" teriak Raila dari luar ruang kerja Papa Aaron.
Farel dan Papa Aaron yang sedang membahas masalah yang dihadapi keluarga Revion dan juga membahas beberapa pekerjaan yang harus di kerjakan Farel dengan cepat sebelum Farel pindah ke Belanda pun terkejut mendengar teriakan Raila yang cukup keras.
"Pa, Farel keluar dulu," ucap Farel dan berlari keluar dari ruang kerja Papa Aaron.
Farel melihat ruang tamu yang berantakan, "Astaga, ini kenapa berantakan kayak gini, ini rumah atau kapal pecah sih," gumam Farel.
Farel teringat teriakan Raila tadi dan mencari keberadaan istrinya itu, baru saja kan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti lantaran mendengar suara tawa seorang perempuan yang sangat tidak asing baginya di dapur.
Farel pun berjalan menuju dapur dan melihat tiga perempuan yang tengah membuat sesuatu dengan obrolan yang benar-benar mengasikkan bagi mereka bertiga, Farel hanya menggelengkan kepalanya saat melihat bagaimana keadaan dapur yang benar-benar kotor banyak bahan masakan yang berserakan.
Kalau saja ruang perempuan tersebut tidak di dapur dan meninggalkan dapur dalam keadaan seperti sekarang ini maka dapat Farel pasti ia akan berteriak maling karena dapur yang benar-benar hancur.
"Kalian semua pada ngapain sih?" tanya Farel, yang akhirnya membuat ketiga perempuan tersebut memberhentikan kegiatannya.
"Lagi buat brownies," ucap Lea.
"Oh lagi buat brownies, Farel kirain mau hancurin rumah," ucap Farel.
"Heh! siapa yang mau hancurin rumah, ga ada yang mau hancurin rumah ya," ucap Mama Aurel.
__ADS_1
Belum sempat Farel merespon ucapan Mama Aurel tiba-tiba Papa Aaron datang dengan sakura lantangnya, "Ini kenapa rumah kayak kapal pecah gini? apa ada maling di rumah? atau rumahnya mau hancur?" tanya Papa Aaron.
Papa Aaron baru saja datang dan betapa terkejutnya melihat ketiga perempuan yang berdiri di dapur, "Kalian pada ngapain kok muka pada kena tepung semua kayak gitu? kalian mau bedakan apa gimana?" tanya Papa Aaron.
"Ish, Papa ini. Kita ini lagi buat brownies loh," ucap Mama Aurel.
"Kalau buat brownies ya buat aja, Ma. Tapi, ke apa sampe rumahnya kotor kayak gini mana barang berserakan semuanya," ucap Papa Aaron.
"Namanya juga tadi kita main dulu, Pa," ucap Lea.
"Terus Raila tadi kenapa teriak-teriak?" tanya Farel.
"Ini Lea bilang kalau di bajuku ada cacing padahal mah gak ada, kan aku takut sama cacing,' ucap Raila, dengan menundukkan kepalanya.
Mana bisa Farel marah jika Raila bersikap seperti itu, Raila adalah kelemahan Farel dan ia tidak suka hal itu. Terutama jika orang yang tidak menyukainya tahu maka Farel takut mereka akan melukai Raila.
"Buat browniesnya udah selesai?" tanya Farel.
"Udah, ini tinggal nunggu aja," ucap Lea dan diangguki Farel.
"Yaudah, kalua gitu ayo bersih-bersih," ucap Farel.
"Tapi, aku pengen nyobain browniesnya," ucap Raila.
"Iya, nanti ya setelah bersih-bersih. Ma, sisain buat Raila ya," ucap Farel.
"Kamu tenang aja sayang pokoknya gak boleh ada yang makan browniesnya kalau kamu belum makan," ucap Mama Aurel dan membaut Raila tersenyum.
"Yaudah, kalau gitu Raila bersih-bersih dulu," ucap Raila dan pergi dari dapur tersebut bersama dengan Farel.
"Kamu mandi gih," ucap Farel, saat mereka sudah berada di kamarnya.
"Kamu tumben gak ngajak mandi bareng?" tanya Raila.
"Huh, kamu lupa ya. Kamu kan lagi kedatangan tamu bulanan kamu, ya kali aku ngajak mandi," ucap Farel.
"Teriak deh suamiku ini," ucap Raila dan mengecup pipi Farel lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1