
Raila tahu siapa Evan, dia adalah sekretaris pribadi dari Tuan Zergan. Bahkan hampir semua orang pun tahu itu karena memang Evan selalu mewakilkan Tuan Zergan.
Raila memandang Evan dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, "Kenapa Bu Bos?" tanya Evan dan Raila menggelengkan kepalanya.
"Kamu makan dulu sana," ucap Papa Aaron.
"Tadi udah makan di kantor kok, Pa," ucap Evan.
Ingat, sahabat-sahabat Farel memanggil kedua orangtua Farel Papa dan Mama bukan hanya sahabat-sahabatnya, tapi juga Farel. Mereka memang memanggil orangtua masing-masing dengan panggilan Papa dan Mama karena orangtua mereka juga bersahabat dan akhirnya turun ke anak mereka.
.
Malam harinya Raila bersiap untuk menuju alam mimpi, Raila sebenarnya menunggu Farel. Raila ingin menanyakannya secara langsung pada Farel, Raila tidak ingin gegabah dengan menyimpulkan apa yang dipikirkannya saat ini.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Farel pun masuk ke dalam kamar mereka, Farel terlebih dahulu ke kamar mandi dan bersiap untuk tidur. Selesai bersiap Farel pun merebahkan tubuhnya di samping Raila uang menjamin matanya. Namun, Farel tidak tahu jika Raila saat ini hanya pura-pura memejamkan matanya.
Saat Raila sedang memejamkan matanya tiba-tiba saja ia merasakan Farel memeluknya, "Rel," panggil Raila.
"Iya, kenapa belum tidur hem? ini udah malam loh besok pagi kalau kamu ngantuk gimana?" tanya Farel.
"Hem, ada yang mau aku tanyain ke kamu," ucap Raila.
"Tanya apa sayang?" tanya Farel.
"Hem, i - itu ka - kamu besok kerja?" tanya Raila.
'Bodoh, ngapain lo tanya itu Raila, harusnya lo itu tanya yang lain, dasar Raila bodoh,' rutuk Raila.
"Kenapa tanya itu?" tanya Farel.
"Gapapa, kau cuma tanya aja kalau kamu gak aku ngasih tahu juga gapapa," ucap Raila.
"Iya, aku besok mulai kerja," ucap Farel.
"Kamu kerja di restoran," taco Raila.
Raila pikir Farel akan berhenti setelah Raila tahu identitas Farel yang sebenarnya, "Bukan sayang, aku gak kerja di restoran, aku udah keluar diri restoran, jadi aku gak mungkin balik ke restoran kan," ucap Farel.
"Kenapa kamu keluar, bukannya kamu jadi ketua untuk bonus perayaan, setahuku bakal ada bonus besar-besaran kan untuk karyawan di bulan pertama setelah perayaan," ucap Raila.
"Iya, alami bener emang bakal banyak bonus tambahannya buat karyawan, tapi aku gak suka," ucap Farel.
__ADS_1
"Gak suka kenapa?" tanya Raila.
"Karena acara gak jelas itu aku harus kehilangan perempuan yang paling aku sayangi selama 1 bulan lebih, aku lebih memilih untuk keluar dari pada harus kehilangan perempuan itu tahu gak," ucap Farel dan mencubit hidung Raila.
"Ih, sakit tahu," protes Raila.
"Hehehe,"
"Oh iya, kenapa kapan kamu keluar dari restoran?" tanya Raila.
"Dua hari setelah kamu pergi, aku bener-bener gak fokus untuk bekerja makanya aku juga mutusin untuk keluar, asal kamu tahu, Rai. Aku bener-bener hancur pas kamu pergi bahkan aku tidur pun selalu mimpiin kamu," ucap Farel.
"Rel," panggil Raila.
"Apa, Yang?" tanya Farel, dengan suara yang super lembut.
"Kamu beneran sayang sama aku?" tanya Raila.
"Pertanyaan yang aneh, tapi aku bakal jawab itu. Aku sayang banget sama kamu bahkan kalau sekarang kamu suruh aku terima di depan ruang dan bilang aku sayang dan cinta sama kamu pun, aku sanggup," ucap Farel.
"Gak ah kamu mah bikin berisik kalau teriak-teriak," ucap Raila.
"Terus kamu mau aku ngapain biar kamu percaya?" tanya Farel.
"Rai," panggil Farel.
"Hem,"
"Kamu mau cerita gimana kamu bisa di pecat dan di usir waktu itu?" tanya Farel.
"Bukannya aku gak mau, tapi aku harus kuatin diri aku buat cerita dan aku rasa untuk saat ini aku masih belum bisa ceritain semuanya, Rel," ucap Raila.
"Iya, gapapa kok, aku gak maksa kamu buat cerita, kamu cerita saat kamu udah siap aja, aku bakal dengerin setiap cerita kamu," ucap Farel.
"Makasih dan maaf Rel karena belum bisa ceritain semuanya, tapi aku pasti akan ceritain ke kamu secepatnya," ucap Raila.
"Udah gak sudah bahas itu lagi, aku percaya kok dan aku juga gak maksa kamu untuk ceritain itu," ucap Farel.
"Rel," panggil Raila.
"Kenapa?" tanya Farel.
__ADS_1
"Maaf," ucap Raila.
"Hei kenapa kamu minta maaf? memangnya kamu melakukan kesalahan apa?" tanya Farel.
"Maaf, karena aku gak bisa aja anak kita, maaf karena kamu harus kehilangan anak yang selama ini kamu pengenin," ucap Raila.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu, apa kamu masih kepikiran kata-katanya Tante Gea?" tanya Farel.
"Aku wanita yang abru Jawa keguguran, Rel. Aku sedih dan kecewa kalau ngelihat orang-orang yang baru saja di karuniai anak, bohong kalau aku gak iri, aku iri apalagi pas ngeliat pandangan Papa sama Mama ke Thalita perasaan bersalah itu langsung menyebar, hiks hiks hiks," ucap Raila yang menangis di pelukan Farel.
"Kok nangis sih, aku gapapa Rai dan untuk Papa sama Mama, kamu gak perlu ngerasa bersalah karena Papa sama Mama udah ngertiin kamu, harusnya aku yang minta maaf karena aku udah ninggalin kamu disaat kamu butuh seseorang di samping kamu," ucap Farel.
Akhirnya mereka berdua pun saling mengobrol dan berbicara banyak hal, hingga tanpa terasa hak menunjukkan pukul 2 dini hari, "Yang, kamu tahu gak aku dulu cita-citanya pengen jadi pilot loh, tapi gak bisa gara-gara Mama takut aku jatuh, hahahahaha, kamu pasti bakal ketawa kalau ngeliat ekspresi Mama waktu itu, Mama marah-marah dan jewer telingaku sakitnya sampai sekarang loh," ucap Farel.
"Yang," panggil Farel, karena tidak mendapat respon dari Raila.
Farel pun melihat Raila yang sedang tidur cantik dalam dekapannya, "Mimpi yang indah ,cantiknya farel," bisik Farel, lalu mengikuti Raila menuju alam mimpi.
.
Pagi harinya Raila membuka matanya dan melihat Farel yang masih tidur dengan nyenyak dan memeluknya, Raila mengarahkan kedua tangannya pada rahang tegas milih Farel.
"Kamu beneran gak sih Rel suamiku, kenapa kamu bisa seganteng ini sih kayaknya aku gak pernah ketemu sama cowok seganteng kamu bahkan Rafka yang notabenenya model pun kalah sama kamu," ucap Raila.
"Kalau udah mengangumi suamimu jangan lupa beritahu aku ya biar aku membuka mata," ucap Farel.
"Ish, apa sih kamu gak lucu, jadi kamu dari tadi udah bangun?" tanya Raila, dengan menarik kembali tangannya dari rahang tegas suaminya itu
"Gak usah malu gitu, inget Rai seluruh tubuhku ini milikmu bahkan sebaliknya juga begitu, kamu boleh melakukan apapun pada tubuh ini," ucap Farel yang membuat pipi Raila memerah.
"Aku sangat suka kalau kamu lagi pake blush-on kayak gini," ucap Farel.
"Siapa yang pake blush-on? aku gak pake kok," kata Raila.
"Ini buktinya pipi kamu udah merah apalagi pas aku bilang soal tubuh tadi," goda Farel.
Farel bersyukur karena bisa kembali seperti dulu dengan Raila, walaupun ada rasa canggung, tapi semuanya sudah mulai menghilang saat ini Farel merasa jika ia baru saja bertemu dengan Raila. Farel tidak pernah merasa bosan jika hal tersebut menyangkut mengenai masa depannya yaitu Raila.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.