
Beberapa saat kemudian, Mama Aurel pun membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. "Loh sayang kamu udah daritadi selesainya?" tanya Mama Aurel.
"Udah hampir 20 menit kali mah," ucap Lea.
"Loh berarti kalua lama dong nunggu Mama?" tanya Mama Aurel.
"Lama banget, Ma. Sampe perut Lea demo rasanya," ucap Lea.
"Lebay kamu, yaudah kalau gitu kita ke restoran Marahini aja soalnya Papa kamu tadi sih nyuruh ke sana, tapi bentar Mama bilang ke Papa kamu dulu," ucap Mama Aurel dan mengabari Papa Aaron.
Setelah menghubungi Papa Aaron, Mama Aurel pun berdiri, "Kita ke restoran sekarang aja soalnya Papa sama Farel juga mau ke sana," ucap Mama Aurel yang diangguki Raila dan Lea.
Mereka bertiga lun beranjak pergi dari tempat istirahat dan menuju restoran yang dituju, sebelum pergi dari tempat tersebut Raila terlebih dahulu menyempatkan untuk melihat Vanya yang tengah menatapnya sejak tadi.
Raila hanya tersenyum sinis dan membiarkan Vanya melihatnya dan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suaranya "Kasihan."
Raila dapat melihat wajah Vanya yang merah Sepertinya sebentar lagi akan menangis, sebenarnya Raila tidak tega. Tapi, ia tidak punya pilihan lagi, ia harus membalaskan dendam ya karena duku dengan teganya Vanya menuduh bahkan menjauhinya.
Raila, Lea dan Mama Aurel pun saya ini sudah sampai di restoran Maharani. Mereka masuk ke dalam ruang VIP dan di sana sudah ada Papa Aaron dan Farel.
"Kalau udah lama nunggunya?" tanya Mama Aurel.
"Baru kok kayaknya gak Snape 10 menit deh," ucap Papa Aaron dan diangguki Mama Aurel.
"Kamu tahu sayang di sini itu menu utamanya cuma satu, tapi enak banget," ucap Mama Aurel.
"Cuma satu?" tanya Raila.
"Iya, restoran ini itu menunya cuma sup ikan kakap kuah kuning, tapi menurut Mama restoran ini itu terbuka sih. Mama aja sering banget ke sini kayaknya udah lebih dari 30 kali soalnya Mama itu ke sini waktu muda dulu pas jaman-jaman SMA bahkan sebelum Mama ketemu sama Papa," ucap Mama Aurel.
"Raila jadi penasaran seenak apa sih," ucap Raila.
"Pasti enak Mama yakin, orang semua keluarga Revion aja ketagihan kok," ucap Mama Aurel.
"Sebenarnya Mama terlalu lebay sih, tapi ya ada bener nya juga kalau semua keluarga Revion itu ketagihan. Kayak aku Kak, aku aja sampe ketagihan," ucap Lea.
Saat makanan datang mereka pun menikmatinya dan Raila setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mama Aurel, makanan di sini sangat enak.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai menikmati makan siang mereka, "Tadi mama beli apa aja?" tanya Papa Aaron.
"Biasa, Pa. Tadi Mama beli perhiasan buat besok," ucap Mama Aurel.
"Kan Mama udah ada perhiasannya," ucap Farel.
"Ya kan itu perhiasan lama Rel, kalau yang bagikan Mama gak punya lagipula semua perhiasan yang Mama punya juga udah pernah Mama pake kok," ucap Mama Aurel.
__ADS_1
Raila hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Mama Aurel, saat ini Raila paham darimana sifat Lea yang menurutnya boros ternyata memang keturunan dari Mama Aurel.
"Terus kamu beli apa?" tanya Farel.
"Aku gak beli apa," ucap Raila.
"Loh! kenapa kok gak beli?" tanya Farel.
"Soalnya emang gak mau beli aja ke apa emangnya?" tanya Raila.
"Ya, gapapa juga sih. Tapi, harusnya kamu beli apa gitu kayak gaun atau perhiasan juga buat besok," ucap Farel.
"Gak pengen aku," ucap Raila dan diangguki Farel.
Farel tidak akan memaksa jika memang Raila menolaknya, lalu pandangan Farel beralih pada Lea yang tengah asik dengan minumannya.
"Kalau kamu beli apa?" tanya Farel.
"Boro-boro beli, orang Mama gak bolehin. Mau beli ini itu Mama selalu bilang kalau Lea udah punya banyak di rumah," ucap Lea, dengan kesal dan membuat semua orang yang ada di sana justru tertawa.
"Terus?" tanya Farel.
"Ya, gak belilah," ucap Lea.
"Kenapa hak beli paket uang kamu sendiri?" tanya Papa Aaron.
"Sabar itu namanya nasib," ucap Farel.
"Habis ini Papa sama Farel balik ke kantor?" tanya Mama Aurel.
"Iya, soalnya masih ada beberapa urusan yang harus di selesain sebelum kepindahan Farel," ucap Papa Aaron.
"Kamu beneran mau pindah?" tanya Mama Aurel.
"Iya, Ma. Ini udah keputusan Farel," ucap Farel.
"Tapi, Nenek kan udah sehat kenapa kamu harus tetep pindah sih?" tanya Mama Aurel.
"Kan masih ada perusahaan di sana yang harus Farel urus," ucap Farel.
"Biasanya kan anak buahnya Papa kamu yang urus, tapi kenapa harus kamu yang urus sekarang?" tanya Mama Aurel.
"Ma, bagaimanapun Farel itu pewaris Revion grup yang artinya Farel harus tahu apa yang terjadi sebenarnya di sana dan Farel rasa masalah yang ada di sana bukan masalah yang kecil makanya Farel memutuskan untuk pindah, tapi Mama gak perlu khawatir nanti kalau semua masalahnya udah selesai dan perusahaan bisa di ambil alih sama anak buah Papa lagi. Farel pasti bakal pulang kok," ucap Farel.
"Kalau gitu kamu aja yang ke sana dan biarin Raila yang sama Mama di sini," ucap Mama Aurel.
__ADS_1
"Gak bisa gitu dong, Ma. Raila itu istrinya Farel, Farel juga butuh seseorang yang selalu ada buat Farel di sana. Farel juga gak bisa kalau jauh-jauh dari Raila, belum lagi impian Farel yang pengen punya momongan. Kalau Farel sama Raila jauh kan semuanya jadi kacau, Ma. Farel sama Raila pengen mandiri juga dalam berumahtangga," ucap Farel.
"Benar apa kata Farel, biarkan Farel menentukan pilihannya, Ma. Kita sebagai keluarga harusnya mendukung Farel dan bukan menghalangi keinginan baik Farel," ucap Papa Aaron.
"Yaudah deh, Mama sebenarnya gimana gitu. Tapi, Mama percaya sama kamu dan juga Raila, semoga kalian nanti betah di sana dan jangan lupa loh kabarin mama," ucap Mama Aurel.
"Masih ada dua hati, Ma. Masa sekarang sih sedih-sedihnya," ucap Farel.
"Kamu sih kan Mama sekarang jadi terbawa suasana," ucap Mama Aurel.
.
Setelah acara makan dan sedih-sedih tadi saat ini Farel dan Papa Aaron berada di kantor. Mereka berdua duduk di sofa ruang kerja Farel, "Kamu udah periksa semua keuangannya?" tanya Papa Aaron.
"Ya, Farel udah periksa dan tida ada masalah. Sebenarnya ada masalah, tapi sebelum masalah itu bertambah besar, Farel sudah mengatasinya terlebih dahulu," ucap Farel.
"Apa masalahnya?" tanya Papa Aaron.
"Biasa kerjaannya para penghuni neraka," ucap Farel.
"Kamu yakin gak ada lagi komplotan mereka?" tanya Papa Aaron.
"Yakin," ucap Farel.
"Kalau begitu semua berkas untuk pembangunan hotel di Bali sudah atas nama Papa dan kamu tidak bisa memintanya lagi kecuali nanti Papa yang memberikannya," ucap Papa Aaron.
"Ya, Farel tahu itu," ucap Farel.
"Kalau begitu Papa akan kembali ke pusat dan urus semuanya, kamu nikmati saja dulu perusahaan ini sebelum kamu pindah," ucap Papa Aaron, lalu keluar dari ruang kerja Farel.
Setelah kepergian Papa Aaron, Farel pun menatap sekelilingnya, "Keputusan gue buat pindah udah bener, sekarang tinggal masalah keluarga Raila yang sebentar lagi bakal selesai," ucap Farel, dengan mengeluarkan smirknya.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Farel, yang masih setia duduk di sofa ruang kerjanya.
"Ada apa?" tanya Farel, pada Evan yang baru saja masuk.
"Semua yang anda perintahkan sudah saya jalankan dan tinggal menunggu hari h saja," ucap Evan.
"Bagus," ucap Farel dan tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.