
"Rel," panggil Raila.
"Kenapa sayang?" tanya Farel.
"Hem, kita kan mau pindah sebentar lagi," ucap Raila.
"Iya, terus?' tanya Farel.
"Adik aku gimana dong kalau kita pindah?" tanya Raila.
Farel yang awalnya fokus pada laptopnya pun mendongak dan menatap Raila yang tidur di kasur dan menatap langit-langit kamar. Farel menutup laptopnya dan menghampiri Raila lalu memeluk Raila yang saat ini tidur terlentang dan hal itu berhasil membuat Raila terkejut.
"Aku masih punya anak buah dan aku masih punya sahabat-sahabatku, kita bisa minta bantuan mereka," ucap Farel.
"Tapi, aku takut Lexa kenapa-napa, Rel," ucap Raila.
"Lexa gak bakal kenapa-napa percaya sama aku," ucap Farel dan diangguki Raila.
"Oh iya terus Papa rencananya mau melakukan pengobatan kemana?" tanya Raila.
"Ada beberapa negara yang bagus buat pengobatan Papa kamu, tapi aku masih konsultasi sama beberapa dokter sih," ucap Farel.
"Hem, gimana kalau kita bawa Papa berobat di Belanda, biar aku bisa ngerawat dan jaga juga gitu," ucap Raila.
"Aku akan coba tanya ke dokter, aku gak bisa langsung mengiyakan permintaan kamu tadi. Aku bakal bicara lagi ke dokter kalau ada negara yang lebih baik untuk pengobatan Papa kamu dan tempat itu bukan di Belanda, maka aku akan pilih ke negara yang lebih baik gapapa?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Iya, gapapa kok, aku juga berharap Papa dapat rumah sakit yang terbaik," ucap Raila.
"Kamu tenang aja nanti aku bakal usahain ya, sekarang kamu tidur udah malam," ucap Farel dan diangguki Raila.
Beberapa saat kemudian, Farel merasa tidak ada pergerakan dari Raila dan mendengar dengkuran halus di sampingnya. Farel pun menatap Raila sayang saat ini sudah terlelap.
"Maaf," bisik Farel, lalu memeluk Raila.
.
Pagi harinya kediaman keluarga Revion tampak seperti sedia kala karena keluarga Tante Gea saat ini sudah kembali ke kediamannya sebab Calista telah tertangkap dan saat ini mungkin tengah meronta-ronta untuk di lepaskan. Sedangkan, untuk Nenek Vina, ia lebih suka di rumah sakit dan menjaga Hana ibu dari Calista. Semua orang sudah melarang Nenek Vina, tapi Nenek Vina justru ngotot dan mau tidak mau semuanya pun setuju. Semua orang bingung dengan sikap nenek Vina yang justru tidak membenci Hana, bukankah seharusnya nenek Vina marah pada Hana. Entahlah yang tahu hanya nenek Vina.
Saat ini Raila, Lea dan Mama Aurel sedang berada di pusat perbelanjaan, awalnya hanya Mama Aurel yang ingin belanja. dengan Papa Aaron. Tapi, karena Papa Aaron tiba-tiba ada urusan penting akhirnya Mama Aurel pun mengajak Raila lalu Lea mendengarnya dan berakhirlah mereka bertiga pergi ke pusat perbelanjaan.
"Mama mau beli apa?" tanya Lea.
__ADS_1
"Mama mau beli perhiasan buat besok," ucap Mama Aurel.
"Hem, Lea juga ah," ucap Lea.
"Yaudah, tapi nanti belinya paket uang kamu sendiri ya," ucap Mama Aurel.
"Loh! ya gak bisa dong, Ma. Lea belinya ya pake uang Mama," ucap Lea.
"Kok bisa gitu, kan Mama ke sini cuma mau beli buat Mama sendiri lagipula Mama kan gak ngajak kamu ke sini," ucap Mama Aurel.
"Mama mah gak seru, mau diajak atau gak harinya Mama yang bayarin," ucap Lea.
"Gak bisa ya. Lagian uang kamu kan banyak," ucap Mama Aurel.
"Buat keperluan lain, Ma," ucap Lea.
"Keperluan apa coba pasti ya buat beli barang-barang gak jelas sama Naomi," ucap Mama Aurel.
"Itu Mama tahu," ucap Lea.
"Kamu itu ya, oh iya sayang kamu mau beli apa?" tanya Mama Aurel.
"Gak ada deh, Ma," ucap Raila.
"Tapi, emang Kakak lagi gak butuh apa-apa," ucap Raila.
"Kakak gak beli apa-apa gitu buat besok? kayak perhiasan, high heels atau gaun gitu?" tanya Lea.
"Gak ah," ucap Raila.
"Terus Kakak besok pake gaun apa? Kakak udah beli semuanya?" tanya Lea.
"Kan masih ada gaun yang jarang banget Kakak pake," ucap Raila.
"Kakak yakin gak mau beli gaun, masa Kakak pake gaun yang udah pernah di pake sih?" tanya Lea.
"Memangnya Kakak harus beli ya?" tanya Raila.
"Ya, gak juga sih, tapi ya gimana gitu Kak. Kak Farel kan pasti ngasih kartunya ke Kak Raila kan harusnya Kak Raila manfaatin kartu itu," ucap Lea.
"Itu mah kamu. Udah sayang gak usah kamu dengerin omongan Lea. Apapun yang mau kamu kenakan besok pasti tetep bagus kok kalua buat kamu," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu kita ke toko perhiasan dulu," ucap Mama Aurel.
Raila dan Lea hari ini hanya sebagai asisten pribadi Mama Aurel karena mereka selalu mengikuti kemanapun kaki Mama Aurel melangkah.
"Ma, Raila ke kamar mandi dulu ya," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu ayo Mama temenin," ucap Mama Aurel.
"Gak usah, Ma. Biar Raila sendiri aja," ucap Raila.
"Beneran kalau gak kamu ditemenin Lea aja gimana daripada kamu sendirian," ucap Mama Aurel.
"Gak usah, Ma. Raila bisa sendiri kok," ucap Raila.
"Yaudah, kalua gitu Mama sama Raila tunggu di tempat istirahat aja ya," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
Raila pergi ke kamar mandi yang dekat dengan tempat istirahat, sesampainya di kamar mandi Raila pun masuk ke dalam toilet dan saat akan keluar dari toilet Raila mendengar suara orang muntah dari luar bahkan isak tangis perempuan tersebut sangat nyaring di telinga Raila.
"Hiks ... hiks ... hiks, kenapa terjadi ke gue sih, hiks ... gue harus gimana ... hiks," ucap perempuan tersebut di sela-sela tangisannya.
Raila memberanikan diri untuk keluar dari dalam toilet dan saya ia keluar batas terkejut radial melihat perempuan yang tengah menangis dengan menatap dirinya sendiri di cermin dan ia pun terkejut saat melihat Raila keluar dari dalam toilet.
Setelah tahu siapa perempuan yang menangis tadi Raila pun seolah tidak mengenalnya dan berjalan lalu mencuci tangannya dan berniat pergi dari kamar mandi karena Raila tidak ingin dekat-dekat lagi dengan perempuan tersebut.
"Rai," panggil lirih perempuan tersebut.
'Males banget gue ketemu sama dia lagi,' ucap Raila dalam hati.
Raila tidak merespon panggilan tersebut dan justru mengeringkan tangannya lalu berjalan untuk membuka pintu. Namun, saat akan memegang gagang pintu tiba-tiba saja langkahnya terhenti lantaran perempuan tersebut menahan tangannya.
"Maafin gue, gue tahu gue salah. Gue bodoh karena percaya sama orang kayak Dandi. Gu ... gue nyesel maafin gue Rai, hiks ... hiks ... hiks," ucap Vanya, dengan menangis tersedu-sedu.
Ya, perempuan yang sejak tadi menangis adalah Vanya. Sahabat Raila ah lebih tepatnya mantan sahabat Raila. Perempuan yang dengan sengaja menghina bahkan mengakui Raila karena tuduhan yang diberikan kekasihnya dulu yaitu Dandi, bahkan Vanya dengan terang-terangan membenci Raila dan membuat Raila melupakan semua hal tentang Vanya termasuk janjinya dulu untuk datang ke makam Mona.
Sejujurnya Raila sangat malas untuk bertemu Vanya yang menurutnya penuh dengan drama, sebelum kenal Dandi setahu Raila Vanya tidak seperti itu. Tapi, setelah bersama Dandi entahlah Raila rasa Vanya Hadi berubah.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.