
"Hem, tadi gue udah makan kok, Lit. Mending lo kasih ke siapa gitu," ucap Farel, Farel tidak ingin Lita berharap lebih padanya sebab itu Farel berusaha untuk menunjukkan penolakannya pada Lita.
"Tapi, aku udah susah payah loh buat bikin ini, sayang banget kalau gak dimakan, Rel," ucap Lita.
"Yaudah, kalau gitu gue makan dari pada lo buang soalnya kan Farel tadi bilang dia udah makan," ucap Gio dan mengambilnya.
Gio tidak habis pikir dengan Lita, ia tetap saja berusaha untuk mendekati Farel padahal Farel secara terang-terangan menolak setiap pemberiannya bahkan Farel sering pamer dengan menyebut nama Raila, tapi Lita sepertinya pantang menyerah untuk mendapatkan Farel.
"Tapi, ini kan gue bikinnya khusus buat Farel," ucap Lita.
"Yaudah kalau gitu gue terima," ucap Farel.
"Makasih, Rel, semoga kamu suka ya," ucap Lita dengan senyum cerahnya.
"Nih buat lo," ucap Farel dengan memberikan makanan tersebut pada Gio.
"Loh, Rel, kan aku bikinnya buat kamu," ucap Lita, ia tidak rela jika makanan yang ia masak khusus buat Farel harus dimakan oleh orang lain.
"Kan lo ngasih ke gue, jadi gapapa dong gue kasih ke Gio, lagian itu makanan udah jadi milik gue kan," ucap Farel.
"Yaudah deh mungkin lain kali aku bakal bikin lagi buat kamu," ucap Lita.
"Lain kali lo gak usah bikin kayak gitu ke gue, gue udah punya istri, gue tiap mau pergi kerja dimasakin istri gue, jadi gue gak sampai kelaparan dan juga gak butuh lo bawain kayak gitu," ucap Farel yang terkesan dingin.
"Rel, maksudku itu bukan kayak gitu," ucap Lita.
"Udahlah, Lit. Lo gak usah bawain Farel lagi mendingan nih ya, lo bawain buat gue aja," ucap Gio.
"Ck, ganggu aja," ucap Lita lalu pergi.
"Lah dia pergi dasar," ucap Gio.
"Lo gak ada pesanan?" tanya Farel.
"Gak ada, kan lo tahu kalau gue tadi habis nganterin jauh banget, sekarang si Juju yang lagi ngirim, lo sendiri gak ada pesanan?" tanya Gio.
"Ini gue baru aja ada pesanan, kalau gitu gue pergi dulu," ucap Farel lalu pergi meninggalkan Gio.
__ADS_1
Farel melihat alamat yang tertera dalam ponselnya, "Kenapa alamatnya kayak familiar ya?" tanya Farel pada dirinya sendiri.
"Tunggu, inikan alamat perusahaan gue, tapi ke apa yang pesan Henry, pasti ada yang tidak beres" lanjut Farel.
Tidak mau ambil pusing Farel mengendarai sepeda motornya menuju perusahaannya, sesampainya disana Farel melangkah masuk ke dalam perusahaan tersebut. Namun, langkahnya terhenti karena ia dihalangi oleh tiga satpam yang ada di sana.
Farel tidak ingin menyalahkan para satpam karena memang itu merupakan tugas mereka, "Maaf, ada keperluan apa?" tanya salah satu satpam.
"Saya ingin mengantarkan pesanan atas nama Pak Henry," ucap Farel.
"Baik, kalau begitu silahkan masuk, anda bisa tanyakan ruangannya pada resepsionis," ucap satpam tersebut dengan sopan dan diangguki Farel.
Farel cukup bangga karena satpam yang ia pilih memiliki sikap yang baik, seluruh pegawai tidak ada yang tahu bagaimana rupa dari Farel karena selama di dalam kantor Farel menggunakan masker dan juga kaca mata hitam, yang tahu mengenainya hanya Evan dan juga Gea sekretaris kantornya.
"Permisi, Mbak," ucap Farel dengan sopan.
"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis yang tak kalah sopan.
"Saya ingin mengantarkan makanan atas nama Pak Henry," ucap Farel.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri kalau begitu terima kasih, Mbak," ucap Farel.
"Iya, sama-sama," jawab resepsionis.
Tentunya Farel sudah tahu bahkan hafal dimana letak ruang rapat, Farel melangkah dengan percaya diri sampai ia sampai di depan ruang rapat, yang sepertinya sedang ramai karena dari luar terlihat beberapa bayangan orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut.
Farel mengetuk pintu dan setelah terdengar suara seseorang yang menyuruhnya untuk masuk, barulah Farel masuk ke dalam ruang rapat dan benar saja tebakannya jika di dalam cukup ramai, "Ada apa?" tanya salah satu pegawai dengan songong, tapi Farel tidak pernah tahu siapa orang itu dan Farel yakin jika orang itu bukan dari Hiravy grup (perusahaan milik Farel).
"Ini saya membawa pesanan Pak Henry," ucap Farel.
"Oh ini dari restoran ayam itu ya?" tanyanya dan diangguki Farel. Pria itu pun mengambil ayam goreng yang di bawa Farel dengan kasar.
"Yasudah kalau begitu kau boleh pergi," lanjutnya.
"Tapi, Pak Henry belum membayar pesanan tadi, Pak," ucap Farel.
"Itu bukan urusanku, kau tanyakan saja pada Pak Henry," ucapnya.
__ADS_1
Farel sudah tahu bahwa tidak ada yang beres saat melihat pesanan atas nama Henry, apalagi saya mengetahui jika ia harus mengantar makanan tersebut ke perusahaannya sendiri.
"Tapi, Pak Henry mengirimkan alamatnya disini, itu artinya harus di bayar di sini secara langsung, Pak," ucap Farel.
"Saya kan sudah bilang itu bukan urusan saya, kau ke Pak Henry saja," ucapnya.
"Huh, baiklah. Saya akan menemui Pak Henry secara langsung," ucap Farel yang tidak ingin memperpanjang masalah ini.
"Tapi, Pak Henry saat ini sedang liburan ke luar negeri, jadi kau tidak bisa menemuinya, lebih baik aku ganti rugi saja," ucapnya.
"Apa!" pekik Farel.
Farel benar-benar geram atas tindakan Henry yang sudah keterlaluan, ia tidak bisa kehilangan agungnya begitu saja, cukup kemarin ia harus kehilangan uangnya karena tindakan Angel, Farel mengambil kembali ayam goreng yang ada di tangan pria tersebut, "Karena anda ataupun Pak Henry tidak bisa membayarnya, maka pesanannya akan saya ambil kembali," ucap Farel.
"Heh! berani-beraninya kau! kau ingin aku adukan ke bos-mu ya!" pekik pria tersebut.
"Terserah anda, kalau begitu saya permisi, ah saya ingin tahu apa anda pegawai di Hiravy grup?" tanya Farel dengan menatap pria tersebut dan melirik ke arah Evan yang duduk di kursi ujung sebelah kursi yang bisanya Farel gunakan untuk rapat.
"Dia bukan pegawai disini, dia ini utusan dari Laksani grup untuk meminta kerjasama pembangunan hotel yang akan di bangun oleh Hiravy grup," ucap Evan yang mengerti akan pertanyaan dari Farel.
"Oh, maaf karena telah mengganggu kalau begitu saya permisi," ucap Farel lalu keluar dar ruang rapat. Bukannya kembali ke restoran, Farel justru menuju lantai 10 yaitu tempat kerjanya.
Gea yang melihat Farel pun menundukkan kepalanya dengan hormat, "Siang, Pak Zergan," ucap Gea.
"Hem, oh iya nanti kalau Evan sudah datang suruh dia menemui saya," jawab Farel dengan tegas.
"Baik, Pak," ucap Gea.
Sejujurnya, Gea tidak tahu mengenai pekerjaan Farel sebagai pengantar makanan sehingga ia terkejut dengan penampilan Farel yang tidak terlihat seperti pemilik Hiravy grup. Meskipun Gea tahu bagaimana wajah dari pemilik Hiravy grup sekaligus pewaris Revion grup, tapi ia tidak pernah memberitahukan pada siapapun karena itu sudah ada dalam kontrak dan juga Gea bukan orang yang senang bergosip.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1