
Setelah pertengkaran itu, Farel tidak pulang ke rumah selama seminggu bahan mereka tidak saling memberikan kabar satu sama lain. Hari ini Farel akan menjemput Raila di kantornya bagaimanapun ini semua hanya salah paham dan Farel tidak ingin masalah ini berlarut-larut, Farel yakin jika saat ini Raila sudah tenang dan tidak akan emosi seperti Minggu lalu.
"Hari ini lo mau jemput Raila?" tanya Evan.
"Hem," jawab Farel pada Evan.
Saat ini Farel sedang berada di penthouse nya bersama dengan Evan dan Joven, "Nanti kalau dia masih marah sama lo gimana, Rel?" tanya Joven.
"Dia udah gue kasih waktu selama seminggu kalau dia masih marah itu artinya gue harus lebih ekstra buat jelasin semuanya bukan," ucap Farel.
"Serah lo dah, padahal gue udah saranin buat dari Minggu lalu lo jelasin semuanya," ucap Evan dan Farel hanya mencibirnya.
"Lo mau gue anter atau gimana Pak Bos?" tanya Evan.
"Gue sendiri aja, gue udah lama gak pake sepeda motor gue," ucap Farel.
"Semoga Bu Bos udah gak marah ya, Rel," ucap Joven.
"Ya, semoga aja. Kalau gitu gue duluan," ucap Farel lalu pergi menuju parkiran dan menaiki sepeda motornya menuju kantor Raila.
Sesampainya di kantor tempat Raila bekerja Farel pun segera masuk dan bertanya pada satpam yang bekerja di tempat tersebut, "Pak, saya mau tanya. Apa para pegawai udah pulang ya?" tanya Farel.
"Oh udah ada beberapa yang pulang Mas, tapi ada juga yang masih di dalam, kalau boleh tahu Masnya ada keperluan apa ya?" tanya satpam tersebut.
"Saya mau jemput istri saya, Pak," ucap Farel.
"Yaudah, kalau gitu Masnya langsung masuk aja," ucapnya.
"Iya. Pak, makasih ya, Pak," ucap Farel dan diangguki satpam tersebut.
Farel pun menunggu di lobby dan beberapa saat kemudian keluarlah Vanya dengan seorang pria yang Farel pun tidak tahu siapa dia, "Vanya," panggil Farel.
__ADS_1
Vanya sendiri yang mendengar namanya di panggil lantas menoleh dan ia sedikit terkejut saat melihat Farel, "Ada apa?" tanya Vanya dengan jutek.
"Raila, udah pulang belum atau dia masih ada di dalam?" tanya Farel dengan semangat.
"Lo belum tahu soal Raila?" tanya Vanya yang kembali terkejut karena pertanyaan Farel yang menurutnya lucu.
"Soal Raila? emangnya Raila kenapa?" tanya Farel.
Baru saja Vanya akan menjawab, namun pria yang ada di sebelahnya menyelanya dan bertanya pada Vanya, "Dia siapanya Raila?" tanya Dandi. Ya. pria yang bersama dengan Vanya ialah Dandi kekasihnya.
"Dia suaminya Raila," ucap Vanya dan Dandi pun menganggukkan kepalanya.
"Tadi soal Raila, emangnya kenapa sama Raila, Van?" tanya Farel.
"Dia udah gak kerja lagi di sini, jadi percuma juga lo cari dia di sini gak bakal ketemu lo sama dia," ucap Vanya.
"Raila udah gak kerja? kok bisa? bukannya dia itu salah satu karyawan kebanggaan di sini ya?" tanya Farel.
"Apa maksud lo?" tanya Farel dengan sedikit meninggikan suaranya, Farel tidak terima karena Dandi seakan menghina Raila.
"Raila itu udah di pecat dari sini," ucap Vanya dengan malas.
"Di pecat? kok bisa? setahuku Raila yang pernah buat masalah apapun?" tanya Farel.
"Dia ketahuan nyuri uang kantor, mana gak aku ngaku lagi terus bilang kalau dia di fitnah padahal mah emang bener dia yang nyuri bahkan dia sampai ngotot kalau dia gak salah, orang buktinya udah jelas juga, emang dasarnya maling ya gak mau ngaku lah kalau ngaku bisa habis dia," ucap Vanya.
Farel yang mendengar perkataan Vanya pun terkejut bahkan dadanya langsung bergetar hebat, Farel rasa inilah kabar yang paling membuatnya ingin menghilang dari dunia ini. Hal yang membuat Farel sedih sekaligus kecewa pada dirinya sendiri adalah ia tidak ada di saat Raila membutuhkannya, Farel yakin jika saat ini mental Raila sedang tidak baik-baik saja.
"Raila nyuri uang, kayaknya gak mungkin deh, Raila bukan orang yang kayak gitu," ucap Farel yang tidak percaya dengan perkataan Vanya.
"Terserah sih lo mau percaya atau gak, tapi kenyataannya emang kayak gitu, sok-sokan baik, tapi malah jadi maling emang dasar muka dua ya dia," ucap Vanya.
__ADS_1
"Van, lo itu sahabatnya Raila, lo udah kenal dia semenjak sekolah, tapi kenapa lo malah ngehina dia di belakangnya bukannya itu bukan seorang sahabat?" tanya Farel yang bingung dengan sikap Vanya karena biasanya Vanya akan membela Raila dalam keadaan apapun.
Bahkan saat kuliah dulu pun Farel sangat menyukai persahabatan antara Raila dan Vanya karena mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda sehingga mereka terlihat sangat unik dan saat Farel menjalin hubungan dengan Raila pun, Farel percaya saat Raila akan pergi dengan Vanya, Farel yakin jika Vanya tidak akan membahayakan Raila. Tapi, kali ini Farel baru pertama kali melihat Vanya yang menghina dan menjelekkan Raila, seolah mereka adalah musuh.
"Gue nyesel sahabatan sama Raila, dia itu cuma sok-sokan baik, tapi ujung-ujungnya ketahuan kan bobroknya dia," ucap Vanya.
"Jadi, lo nyesel sahabatan sama Raila?" tanya Farel.
"Yups," jawab Vanya.
"Lo dulu yang paling gencar buat belain Raila, tapi sekarang lo bilang lo nyesel gue gak habis pikir sama lo, Van," ucap Farel yang tentunya kecewa dengan Vanya.
Meskipun Farel tahu jika Vanya tidak pernah menyukainya, tapi Farel selalu menganggap Vanya angin dalam hubungannya dengan Raila, tapi untuk kali ini Farel benar-benar kecewa, sedih, marah pada Vanya.
"Dia itu gak pantes buat ada di sini, perusahaan harus rugi gara-gara dia!" teriak Dandi.
"Apa Maksud lo?" tanya Farel.
"Raila udah nuduh gue yang nyuri, tapi ternyata apa, dia sendiri yang nyuri uangnya, gue lihat sendiri kalian uangnya di loker Raila dan dia gak terima terus gue di tuduh sama dia dan akhirnya sekarang semuanya jelas bukan kalau dia itu yang nyuri uang perusahaan sampai 27 juta, jadi pantes sih kalau dia di pecat," ucap Dandi.
"27 juta, tapi untuk apa Raila ngambil uang itu, gue suaminya dan gue tahu kalau itu bukan Raila, kalian semua salah karena bilang kalau Raila yang ngambil uang itu, gue sebagai sebagai suaminya gak terima kalau Raila di tuduh sembarang sama kalian kayak gini, kalian harus tahu hanya karena uang perusahaan berada di tangan Raila bukan berarti Raila yang mencarinya, kan. Pikir baik-baik sebelum kalian bilang istri gue itu pencuri, gue bakal cari tahu semuanya, sampai gue ketemu pelakunya yang ternyata bukan Raila, gue bakal tuntut perusahaan ini," ucap Farel dengan emosi.
"Setuju karena kita juga yakin kalau Raila yang udah ngambil uang perusahaan," ucap seorang perempuan yang baru saja datang.
"Pak Gibran," panggil Vanya dan Dandi dengan sopan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.