
"Mungkin gak sih kalau pelayan itu diancam Tante Calista," ucap Evan.
"Itu bisa aja yang penting sekarang kita tahu siapa dia dan selanjutnya kita cari tahu apa alasan dia mau kerjasama bareng Calista," ucap Om Zack.
"Terus pelayan yang kerjasama sama Calista mau diapain dia? di penjara kah atau di apain?" tanya Om Vano.
"Kita pura-pura gak tahu aja terus dia nanti kan pasti kerjasama lagi sama Tante Calista nah disitu kita pergoki dia bareng Tante Calista," ucap Joven.
"Jadi, kita kayak jebak dia gitu?" tanya Evan.
"He'em, kita dapat pengkhianat dan juga Tante Calista," ucap Joven.
"Pinter juga otak lo," ucap Rafka.
"Iyalah gue gituloh," ucap Joven.
"Rumah singgah Bunda," ucap Rendy.
"Kenapa emangnya Ren?" tanya Papa Aaron.
"Pasti Tante Calista sekarang lagi di sana," ucap Rendy.
"Tapi, rumah singgah itu gak ada. Dulu kita pernah cari rumah itu soalnya Tante Gea juga bilang kalau Tante Calista di rumah itu, tapi pas kita cari gak ada rumah singgah Bunda," ucap Farel.
"Gue pernah denger nenek bahas soal rumah singgah Bunda dulu, tapi gue gak tahu apa," ucap Rendy.
"Papa gak tahu soal rumah itu?" tanya Farel.
"Papa gak tahu, setahu Papa nenek gak punya rumah singgah, apa maksud nenek itu Papa juga gak tahu dan kalau masalah Gea. Darimana Gea tahu soal rumah singgah," ucap Papa Aaron.
"Apa kita tanya ke Tante Gea aja ya?" tanya Joven.
"Jangan, kalau kita tanya ke Gea bisa-bisa dia curiga karena kita bahas masa lalu dan yang lebih parah nanti jika Gea trauma lagi, lebih baik kita cari maksud dari nenek dulu dan kita juga cari beberapa rumah singgah di kota," ucap Om Alex.
"Oh iya, Papa denger kamu katanya mau pindah ke Belanda?" tanya Om Ferdi.
"Iya, Pa," ucap Farel.
"Hah! kok gue gak tahu," ucap Evan.
"Ini urusan rumah tangga gue masa lo harus tahu sih, lo itu cuma boleh tahu urusan perkejaan," ucap Farel.
"Ya, tetep aja gue harus tahu karena ini juga menyangkut pekerjaan gue sebagai asisten pribadi lo," ucap Evan dan Farel hanya memutar malas bola matanya.
__ADS_1
"Kapan lo bakal pindah?" tanya Marvel.
"Rencananya sih sehari setelah perayaan ulang tahun pernikahan Papa sama Mama," ucap Farel.
"Berarti tiga hari lagi dong," ucap Joven dan diangguki Farel.
"Terus kalau lo pindah masalah Tante Calista gimana?" tanya Joven.
"Makanya gue pengen selesai masalah ini sebelum gue pindah," ucap Farel.
"Tapi, bukannya susah dalam waktu tiga hari kita selesain semuanya, apalagi ini aja kita belum tahu dimana keberadaan Tante Calista," ucap Rafka.
"Nah maka dari itu gue harus lebih keras lagi biar gue tahu dimana tempat persembunyian Tante Calista," ucap Farel.
"Kenapa gak sebulan lagi aja, kok menurut gue lo terkesannya kayak menghindar gitu?" tanya Marvel
"Menghindar gimana? gue gak menghindar dari siapapun kok, gue emang pengen jalanin perusahaan yang ada di Belanda aja," ucap Farel.
"Raila setuju sama rencana pindah lo?" tanya Marvel.
"Hem, dia setuju. Lagian gue juga mau bawa berobat Papanya Raila," ucap Farel.
"Ngapain kamu ngurusin keluarganya Raila, kamu gak inget dulu kamu itu dihina habis-habisan sama mereka bahkan mereka gak bantu kamu sama sekali, tapi sekarang saat mereka susah, kamu yang harus menanggung beban," ucap Om Zack.
"Pa, jangan bicara kayak gitu, gimanapun juga keluarganya Raila masih keluarga Farel. Bohong kalau Farel gak dendam sama mereka, tapi mau dendam juga percuma setelah melihat kondisi keluarga Raila yang memprihatinkan, kalau seandainya Farel dendam pun nantinya Raila yang merasakan sakitnya. Walaupun Raila juga di keluarkan dari keluarganya, tapi Raila masih peduli sama mereka dan karena itu Farel juga ahrus bersikap sama seperti Raila," ucap Farel.
"Kok lo ngomong kayak gitu," ucap Farel, yang sangat tidak suka dengan ucapan Marvel.
"Ya, kan gue cuma takut aja kalua mereka cuma manfaatin lo, lo tahukan gimana liciknya keluarga Laksani," ucap Marvel.
"Tapi, bener kata Marvel, keluarganya Raila itu bisa aja cuma manfaatin kamu. Lagian nih ya mereka udah tahu siapa kamu, bisa aja mereka sengaja ngelakuin hal ini biar kamu prihatin dan mau membantu mereka," ucap Om Alex.
"Atau jangan-jangan Raila juga manfaatin loh lagi," ucap Joven.
"Kalua ngomong itu dipikirin dulu jangan asal nyerocos aja," ucap Farel.
"Bisa aja kan yang diajukan Joven itu bener, kita gak ada yang tahu gimana hati manusia. Orang yang kita anggap baik belum tentu baik dan orang yang kita anggap buruk belum tentu buruk," ucap Marvel.
"Tapi, orang gak boleh menyimpulkan gimana seseorang hanya dengan visual baik atau buruknya kan, bisa juga kedua sama-sama baik. Tapi, karena keadaan mereka berubah dan mungkin itu juga yang dialami Raila," ucap Rafka.
"Maksud lo apa?" tanya Farel.
"Bisa aja setelah Raila tahu kalau lo kaya, dia akhirnya berubah jadi orang yang ga pernah lo kenal sebelumnya, may be," ucap Marvel.
__ADS_1
"Jaga ucapan lo ya, gue masih baik sama lo karena lo sahabat gue. Tapi, gue gak bakal biarin lo ngehina istri gue," ucap Farel.
"Gue gak janji," ucap Marvel.
"Kenapa lo gak cerain Raila aja? menurut gue kalau lo sama dia terus bisa-bisa keluarganya bakal morotin lo," ucap Joven.
"Papa juga gak terlalu setuju Sebenarnya saya kamu menikah dengan Raila karena keluarganya yang tidak menganggap kamu itu," ucap Om Alex.
Tanpa mereka sadar seorang perempuan sedari tadi mendengar pembicaraan mereka mengenai keluarganya, ya orang itu adalah Raila. Anak mana yang tidak sakit hati saat orangtuanya dijelek-jelekkan seperti tadi, meskipun yang dikatakan mereka memang benar, tapi tetap saja Raila merasa sakit hati.
'Segitu jeleknya aku dan keluargaku di mata keluarga Farel,' ucap Raila, dalam hati.
Raila memilih pergi dan tidak ingin mendengar lagi ucapan buruk mereka tentangnya, "Rai, lo kemana aja astaga gue khawatir banget loh?" tanya Nadia.
"Aku tadi juga nyari kamu, yaudah ayo kita balik ke kamar," ucap Raila.
Mereka pun akhirnya kembali ke kamar tamu tadi, "Lo gapapakan?" tanya Nadia, saat melihat wajah murung Raila.
"Gue gapapa kok," ucap Raila.
"Sayang," panggil Mama Aurel.
"Iya, Ma. Kenapa?" tanya Raila.
"Kita makan yuk," ajak Mama Aurel.
"Nanti aja deh, Ma. Raila masih kenyang ini," ucap Raila.
"Sekarang aja, kamu itu daritadi belum makan loh," ucap Mama Aurel.
"Sama Nadia ya, Ma," ucap Raila dan Mama Aurel pun tersenyum.
"Iya, sama Nadia," ucap Mama Aurel.
Raila dan Nadia pun keluar dari kamar dan menuju meja makan, di sana semua orang berkumpul dengan bahagia.
'Gue gak nyangka selama ini senyum yang gue dapet ternyata senyuman palsu supaya gue gak tahu kalau mereka itu gak suka sama gue,' ucap Raila, dalam hati.
Raila melihat Mama Aurel yang juga tengah tersenyum kearah Raila, 'Apa senyuman Mama juga senyuman palsu?' tanya Raila, dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.