
"Hai," sapa seorang perempuan pada Raila.
"Siapa ya?" tanya Lea yang berada di samping Raila.
"Masa gak kenal sih sama gue, kenalin dong gue Angel sepupunya Raila," ucap Angel.
"Gak kenal," ucap Lea.
"Lo jahat banget Rai, gak ngenalin keluarga lo ke keluarganya Farel," ucap Angel.
"Kayaknya gue gak punya kewajiban buat ngenalin keluarga gue ke keluarganya Farel karena keluarganya Farel itu nerima gue apa adanya dan gak mandang siapa keluarga gue," ucap Raila.
Ucapan Raila tentunya menyindir Angel keluarga Laksani lainnya, tapi Angel tetap bersikap sopan dan diam tidak seperti biasanya, mungkin karena ini adalah acara yang bagus untuk menggaet para petinggi-petinggi perusahaan.
"Tapi, tunggu kok bisa lo ada di sini?" tanya Joven.
"Keluarga Laksani di undang secara khusus oleh keluarga Revion makanya gue bisa ada di sini, sebenarnya gue gak sendirian. Gue sama Henry dan dia juga lagi bicara sama koleganya makanya gue lihat-lihat sekitar gitu," ucap Angel.
Raila benar-benar muak melihat drama sok baik dari Angel, "Gue bingung kok bisa ya gue satu keluarga sama lo, huh tuhan gak adil banget ngasih gue keluarga modelannya kayak gini," ucap Raila.
Raila dapat melihat raut wajah Angel yang mulai berubah, memang itulah tujuan dari Raila memancing amarah dari Angel. Ia ingin Angel mengeluarkan sifat aslinya, tapi sepertinya usahanya gagal karena bukannya marah Angel justru tersenyum ke arah Raila.
"Tuhan itu baik tahu karena dia ngasih lo keluarga kayak gue," ucap Angel.
"Kalau gak ada kepentingan apa-apa mending pergi deh ganggu mata indah gue aja," ucap Lea.
"Wah! si adiknya Farel bener-bener keren, gue daritadi udah pengen ngomong kayak gitu padahal," ucap Rafka.
"Tuh lihat banyak yang pengen lo pergi, jadi mendingan lo pergi deh," ucap Marvel.
"Sepertinya banyak yang gak suka sama gue deh, oke deh kalau gitu gue bakal pergi," ucap Angel.
Bukannya pergi Angel justru mendekati Raila dan membisikkan sesuatu yang hanya dapat didengar mereka berdua, "Selamat atas damainya lo sama keluarga lo dan gue gak akan biarin lo hidup dengan tenang," bisik Angel.
Setelah membisikkan hal tersebut Angel pun pergi meninggalkan Raila dan yang lainnya, "Dasar nama doang Angel, tapi kelakuannya kayak setan," ucap Rafka.
"Baru nyadar lo," ucap Evan.
"Apa yang tadi dia bisikin ke lo?" tanya Marvel.
"Bukan apa-apa kok, gak usah dipikirin juga kali omongan dia, dia kan emang dari dulu kayak gitu gak mau kalah sama gak suka kalah," ucap Raila dan diangguki semua orang yang ada di sana.
"Kayaknya Farel dapat banyak uang nih sebentar lagi," ucap Joven.
"Kok bisa?" tanya Rafka.
"Tuh lihat," ucap Joven, dengan menunjuk Farel menggunakan dagunya.
"Wah! dia ngobrol sama Cristian yang pengusaha dari Brazil itu kan," ucap Evan.
"He'em, makanya gue yakin bentar lagi dia bakal dapat banyak uang," ucap Joven.
"Kenapa Farel bisa dapat banyak uang? masa cuma karena dia bicara sama dia sih?" tanya Raila.
__ADS_1
"Cristian itu terkenal dengan orang yang perfeksionis dan juga pilih-pilih kerjasama, kalau ada yang berhasil buat dia bicara panjang lebar itu artinya Cristian bakal ngajak orang itu buat kerjasama dan dari tadi gue ngeliat Farel terus bicara sama Cristian dan mungkin sebentar lagi mereka juga bakal melakukan kerjasama," ucap Joven.
"Farel gak akan tertarik dengan kerjasama yang bakal di tawarkan Cristian," ucap Evan.
"Masa sih, bukannya Farel pengen kerjasama sama Cristian ya?" tanya Rafka.
"Itu dulu, kalua sekarang dia pasti gak tertarik lagi," ucap Evan.
"Kenapa?" tanya Marvel.
"Gue juga gak tahu, itu cuma menurut gue sih," ucap Evan, dengan mengangkat bahunya.
Beberapa saat kemudian, Farel pun selesai berbicara dengan Cristian. "Lo yakin Farel sama Cristian bakal kerjasama?" tanya Rafka, pada Joven.
"Yakin gue, lo lihat sendiri kan kalau mereka berdua tadi ngobrolnya lumayan lama. Gue gak pernah tahu Cristian ngobrol sama orang luar selama itu," ucap Joven.
"Itu Farel mau ke sini," ucap Rafka.
Farel pun sampai di tempat Raila dan sahabat-sahabatnya, "Kenapa kalian ngeliatin gue kayak gitu? emangnya ada yang salah dari gue?" tanya Farel dan duduk di samping Raila.
"Gak ada kok, hem Rel gue cuma mau tanya," ucap Joven.
"Tanya apa?" tanya Farel.
"Lo tadi bahas kerjasama ya sama Cristian?" tahap Joven.
"Hah! kerjasama apa? Cristian siapa juga?" tanya Farel.
"Oh orang itu, jadi namanya Cristian ya," ucap Farel.
"Lo gak kenalan sama dia kok gak tahu namanya?" tata Rafka.
"Kenalan lah," ucap Farel.
"Terus?" tanya Rafka.
"Gue lupa namanya ehm lebih tepatnya gue gak denger pas dia nyebut namanya ,gue cuma denger Tian aja," ucap Farel.
"Tapi, lo tahu dia Cristian kan yang pengusaha asal Brazil?" tanya Joven.
"Tahu," ucap Farel.
"Terus?" tanya Joven.
"Terus apa? lo berdua mau gue jawab apa sih daritadi nanya terus?" tanya Farel, yang mulai kesal karena Joven dan Rafka yang sedari tadi bertanya padanya.
"Ck, lo tadi bahas kerjasama sama dia?" tanya Joven.
"Gak," ucap Farel.
"Lo di ajak kerjasama gak sama dia?" tanya Rafka.
"Diajak," ucap Farel.
__ADS_1
"Berarti ajakan dia lo tolak," ucap Joven.
"He'em." Farel benar-benar malas menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah jelas sejak awal pembicaraan.
"Kenapa lo nolak? bukannya dulu lo pengen banget kerjasama sama dia?" tanya Marvel.
"Karena gue udah gak pengen lagi aja, namanya juga manusia kan bisa aja nanti gue pengen kerjasama sama dia terus gak pengen lagi, jadi berubah-ubah gitu," ucap Farel.
"Bukannya perusahaan lo untung kalau kerjasama sama dia," ucap Marvel.
"Itu dulu, kalau sekarang gue gak bakal beruntung," ucap Farel.
"Kok bisa?" tanya Rafka.
"Karena gue gak pengen kerjasama sama dia dan gue pastiin apapun kerjasamanya pasti bakal gagal dan gak bakal ngehasilin keuntungan sama sekali buat gue atau buat dia," ucap Farel.
"Apa gue bilang, Farel past gak bakal kerjasama sama Cristian," ucap Evan.
"Ck, kalau gue jadi lo, gue pasti bakal terima kerjasama itu," ucap Joven.
"Kan lo bukan gue," ucap Farel.
"Kenapa lo nolak dia? apa karena lo harus barter sesuatu sama dia?" tanya Evan dengan suara pelan sehingga hanya Farel yang dapat mendengarnya.
"Sepertinya lo tahu," ucap Farel.
"Sure," ucap Evan.
"Dia minta barter istri, gue gak bodoh buat nerima itu dan kehilangan istri gue," ucap Farel.
"Udah gue duga," ucap Evan.
## Flashback On ##
Saat Farel sedang berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, "Halo Tuan Zergan perkenalkan saya Cristian," ucap Cristian.
"Oh halo," ucap Farel, Farel tidak mendengar nama lengkap Cristian dan ia hanya mendengar nama Tian saja.
"Hem, saya di sini ingin berbincang santai dengan anda apa bisa?" tanya Cristian.
"Tentu," ucap Farel.
"Saya tadi mendengar nama anda dadi beberapa rekan kerja saya dan mereka sangat Suak kerjasama dengan anda karena kerjasama mereka berhasil bahkan mendapat keuntungan," ucap Cristian.
"Terima kasih atas pujiannya, tapi saya rasa mereka terlalu berlebihan," ucap Farel.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1