
Saat Farel dan Evan sedang asik mengobrol tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dari belakang dan orang itu adalah istrinya.
"Udah jalan-jalannya?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Kenapa hm?" tanya Farel.
"Hem, nanti kita jadi ke rumah Papa?" tanya Raila.
"Iya, jadi. Kamu siap-siap habis ini kita ke sana," ucap Farel.
"Yaudah, kalau gitu aku siap-siap dulu. Oh iya ini buat Evan tadi aku nemu di pinggir jalan dan tiba-tiba kepikiran kamu, Van," ucap Raila.
Raila memberikan bunga melati pada Evan dan setelah itu ia pergi meninggalkan dua pria yang sedang menatapnya itu.
"Istri lo baik-baik aja kan, masa gue dikasih bunga melati sih. Tiba-tiba gue merinding loh," ucap Evan.
"Udah terima aja," ucap Farel.
"Eh, btw katanya tadi lo sama Raila mau ke rumah Papa, maksudnya rumah keluarganya Raila?" tanya Evan.
"Kenapa lo ke sana? bukannya mereka udah ngusir Raila bahkan mereka udah bersikap buruk sama lo," tanya Evan.
"Papanya Raila sakit dan gue sebagai menantu yang baik pun harus jenguk lah, bohong kalau gue udah maafin sikap mereka," ucap Farel, dengan senyum smirknya.
"Lo rencanain sesuatu?" tanya Evan.
"Gaklah, gue mau fokus sama Tante Calista dulu, gue gak mau mikirin hal-hal lain yang gak terlalu penting buat gue," ucap Farel dan diangguki Evan.
"Gue pergi dulu, lo jangan di sini lama-lama takutnya kesambet lagi," ucap Farel, lalu pergi meninggalkan Evan.
"Dasar tuh orang," gumam Evan.
Farel masuk ke dalam kamarnya dan melihat pintu kamar mandi masih tertutup dan mendengar suar gemericik air itu artinya Raila masih ada di dalam. Beberapa saat kemudian, Raila pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
"Kamu mandi gih," ucap Raila.
"Gak mau mandi bareng lagi?" tanya Farel.
"Gak mau ya, udah sana mandi gak usah godain aku terus," ucap Raila.
__ADS_1
Farel pun masuk ke dalam kamar mandi dengan cekikikan karena mendengar ucapan Raila.
Selesai mandi Farel segera bersiap untuk pergi ke rumah mertuanya, untuk raila sendiri saat Farel keluar dari kamar mandi sudah tidak melihat keberadaan Raila. Namun, Farel yakin jika saat ini Raila berada di bawah.
Setelah semuanya selesai Farel pun keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu, benar saja dugaannya karena Raila saat ini sedang duduk atau dengan Mama Aurel di sebelahnya.
"Ayo sayang," ucap Farel.
Raila dan Mama Aurel pun menoleh karena terkejut mendengar suara Farel, "Rel, kalau ada apa-apa kamu harus bilang ke Mama ya, kalau seandainya keluarganya Raila berbuat yang tidak-tidak," ucap Mama Aurel.
"Iya, Ma," ucap Farel, lalu menggenggam tangan Raila dan membawa Raila menuju mobilnya setelah berpamitan dengan Mama Aurel.
"Kamu gak pake supir?" tanya Raila.
"Untuk hari ini aku yang bakal jadi supir kamu tuan putri Raila," ucap Farel.
Tiba-tiba pipi Raila menjadi merah karena ucapan Farel yang romantis bagi Raila, "Ini kenapa pipinya kayak tomat gini bikin gemes aja, boleh aku makan gak sih," goda Farel, dengan mencubit pelan pipi Raila.
"Iiih, gak usah godain aku," ucap Raila.
"Iya iya," jawab Farel.
"Iya, sayang," ucap Farel.
Setelah membeli buah Farel pun kembali mengendarai mobilnya menuju kediaman orangtua Raila. Kurang lebih 20 menit Farel mengendarai mobilnya akhirnya mereka berdua pun sampai di kediaman orangtua Raila.
Raila melihat rumah yang selama ini ia tempati, rumah yang bukan rumah bagi Raila, selama tinggal di rumah tersebut radial seringkali mendapatkan perilaku buruk bahkan Raila sampai sekarang masih ingat bagaimana orangtuanya yang menghinanya dan mengusirnya.
Masih terekam jelas diingatan radial saat Papa Alvan mencoret namanya dari kartu keluarganya dan lucunya saat ini Raila justru berada di rumah ini dengan tujuan menjenguk orangtuanya sendiri. Raila merasa jika ia tamu bukan anggota keluarga mereka
Farel melihat Raila yang terlihat melamun, "Sayang," panggil Farel dan membuat Raila tersadar dari lamunannya.
"Kamu gapapa?" tanya Farel.
"Aku gapapa kok, yaudah ayo masuk," ajak Raila.
Farel pun menggenggam tangan Raila dan menekan bel yang ada di depan rumah tersebut, hingga beberapa saat kemudian, keluarlah seorang wanita yang biasa terlihat elegan dan mewah kini tampak memprihatinkan.
Bahkan Farel dan Raila pun terkejut melihat wanita tersebut, "Sayang, akhirnya kamu datang. Mama kangen banget sama kamu," ucap Mama Sena dan memeluk Raila.
__ADS_1
Ya, wanita tersebut adalah Mama Sena, "Ayo sayang kamu. Menantu Mama juga ayo masuk," ucap Mama Sena.
Farel dan Raila pun masuk ke dalam rumah tersebut dan betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat beberapa barang-barang yang bisanya ada di rumah tersebut hilang atau tidak ada, bahkan Raila tidak melihat meja yang digunakan untuk menaruh beberapa koleksi patung milik Papa Alvan.
Meskipun penasaran, tapi Raila tidak ingin bertanya pada Mama Sena jawabannya adalah karena gengsi.
"Kalian mau minum apa?" tanya Mama Sena.
"Tidak usah terima kasih, tujuan kamu ke kami ke sini hanya untuk menjenguk Tuan Alvan. Saya dengar Tuan Alvan sakit sebab itu saya ke sini," ucap Raila.
Mama Sena hanya tersenyum mendengar ucapan Raila, "Kalau begitu Mama antar ketemu Papa ya," ucap Mama Sena.
Mereka bertiga pun menuju kamar Papa Alvan, sesampainya di depan pintu kamar tersebut Mama Sena pun membukanya dan mereka pun masuk ke dalam kamar tersebut.
Raila dan Farel kembali terkejut melihat kondisi Papa Alvan yang sangat memprihatikan, "Papa kamu terkena stroke dan beginilah keadaannya," ucap Mama Sena.
Raila masih berpegang teguh pada pendiriannya, ia tidak kan luluh dan memaafkan keluarga begitu saja, Papa Alvan yang berbaring di atas kasur hanya menatap Raila.
"Papa kamu gak bisa gerak dan bicara, jadi kamu maklumin saya kalau Papa kamu cuma lihat kamu aja, tapi Papa kamu pasti seneng ketemu kamu. Lihat Papa kamu sampe nangis loh," ucap Mama Sena dengan suara bergetar dan menghampiri Papa Alvan lalu menghapus air mata Papa Alvan.
Kalah sudah Raila, ia tidak bisa menahan tangisannya dan akhirnya ia pun menangis dan menghampiri Papa Alvan, "Pa, maafin Raila. Raila punya salah sama Papa, hiks hiks," ucap Raila dan memeluk Papa Alvan.
Papa Alvan tidak membalas ataupun merespon perkataannya, Raila menatap Papa Alvan yang sangat mengenaskan dan tentu saja itu membuat Raila merasa gagal jadi anak.
"Sayang, kamu gak salah. Papa sama Mama yang salah karena udah buat kamu tidak bisa merasakan apa yang namanya keluarga," ucap Mama Sena.
"Maafin Raila, Ma. Raila terlalu egois sampai Raila tidak memedulikan Mama sama Papa," ucap Raila.
Mama Sena menghampiri Raila dan memeluk putrinya tersebut, "Mama yang harusnya minta maaf sama kamu, Mama udah buat banyak kesalahan sama kamu," ucap Mama Sena.
Raila pun membalas pelukan tersebut, ini adalah pertama kalinya Raila mendapatkan pelukan hangat dari Mama Sena karena biasanya mereka berpelukan hanya sekedar formalitas saja.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1