Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Lewat Pintu Belakang


__ADS_3

Anak mana yang tidak sedih saat orangtua yang selama ini ia banggakan dan sayangi dengan tega menghinanya seperti itu, "Terima kasih atas hinaan anda Nyonya Sena dan juga untuk kalian semua keluarga Laksani, saya rasa selama ini keluarga Laksani tidak menginginkan saya ya," ucap Raila yang tersenyum manis.


"Memang, tidak ada anggota keluarga Laksani yang menginginkanmu karena kau lebih memilih pria miskin itu, harusnya kau itu dengan pria dari keluarga terhormat seperti Tuan Indra yang lebih baik daripada pria di sampingmu itu," ucap Nenek Maria.


"Saya malah berterima kasih pada pria di samping saya karena dia memberikan saya kasih sayang yang tidak pernah saya dapatkan dari keluarga saya dan asal anda tahu pria di samping saya ini bernama Farel dai suami saya," ucap Raila.


"Ck, suaminya pengangguran aja gayanya kayak suaminya dadi keluarga kaya," ucap Angel.


"Satpam usir mereka dari rumah ini, melihat mereka membuat selera makanku hilang," ucap Nenek Maria.


"Anda tidak perlu memanggil satpam karena saya akan pergi tanpa anda suruh, terima kasih atas sambutan yang sangat menyakitkan ini, saya harap kalian akan bahagia nantinya," ucap Raila lalu menggandeng tangan Farel dan keluar dari kediaman Laksani.


"Akhirnya pengganggu sudah pergi," ucap Papa Alvan yang masih dapat di dengar Raila.


Farel dan Raila pun masuk ke dalam taksi yang tadi mereka gunakan, Farel melihat Raila hanya diam saja membuatnya merasa iba karena dia Raila harus merasakan di benci keluarganya, tapi Farel juga bersyukur karena Raila membelanya dan memilihnya, Raila menerima Farel apa adanya dan hal itu tentunya menjadi keyakinan Farel jika Raila adalah orang yang tepat untuknya.


"Sayang, kamu gak usah khawatir, aku gak akan ninggalin kamu lagi kayak dulu, kamu harus tetep senyum dan cemberut terus nanti setannya bingung lagi yang mana manusia yang mana saudaranya," ucap Farel.


"Apa sih gak jelas tahu kamu itu," ucap Raila.


"Aku tahu kok, aku aja juga gak ngerti aku tadi ngomong apa," ucap Farel yang membuat tawa Raila pecah.


Farel yang akhirnya melihat Raila tertawa pun mengikuti istrinya, "Oh iya, rumah Mama dimana kok aku gak pernah ke rumah Mama?" tanya Raila.


"Mungkin beberapa menit lagi, gak terlalu jauh juga kok dari sini," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Tapi, aku baru tahu loh kalau orangtua kamu punya rumah di sini, aku kira orangtua kamu itu rumahnya di luar kota," ucap Raila.


"Ya, mereka baru pindah sih," ucap Farel.


Setelah jawaban dari Farel tersebut, suasana kembali menjadi hening, "Rai," panggil Farel.


Raila yang awalnya menatap ke luar jendela pun lantas menoleh ke arah Farel, "Kenapa?" tanya Raila.


"Aku gak pernah bermaksud bohongin kamu atau apapun itu, jika nanti kamu tahu rahasia terbesarku aku mohon kamu jangan tinggalin aku, aku bermain sumpah kalau aku sayang sama kamu apa adanya, aku gak pernah punya niat untuk bohongin kamu, tapi semua itu terjadi secara aku sadari dan udah jadi kebiasaan, Rai," ucap Farel.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? kamu punya rahasia dan aku gak tahu guru atau kamu udah bohongin aku? itu dua hal yang beda loh, Rel," kata Raila.


"Anggaplah aku ngelakuin dua-duanya, aku punya rahasia dan aku gak bilang ke kamu dan juga aku udah bohongin kamu selama kita menjalin hubungan selama ini," ucap Farel.


"Aku masih gak paham sama maksud kamu, tapi kalaupun kamu memang punya rahasia dari aku itu gak masalah karena gak semua hal pasangan kita harus tahu bukan, tapi kalau untuk berbohong, aku gak yakin, Rel," ucap Raila, lalu menghadap Farel dan menatap lekat wajah tampan Farel.


"Tapi, aku akan usahain untuk mengerti karena kita udah bukan pacaran lagi, tapi kita udah nikah dan aku juga gak mau kejadian kemarin-kemarin terulang lagi karena kecerobohan dan tidak memikirkan akibatnya," lanjut Raila.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskan semuanya nanti, yang terpenting aku benar-benar tidak ada niatan untuk melakukannya," ucap Farel, lalu memeluk erat tubuh istrinya itu dan diangguki Raila.


Bagaimanapun Raila sudah menjadi seorang istri, ia harus menerima apapun kekurangan dan kelebihan Farel bukan, yang terpenting juga ia harus dapat mengontrol emosinya. Raila tidak ingin kesalahan yang terjadi dalam rumah tangganya harus terulang lagi, mulai saat ini Raila akan berusaha untuk mendengarkan penjelasan Farel apapun itu masalahnya.


Mereka pun menempuh perjalanan yang cukup melelahkan bagi Raila karena badannya masih merasakan ngilu terutama pada bagian perut bawah, "Kamu gapapa, Yang?" tanya Farel yang melihat Raila memegang perut bagian bawah.


"Aku gapapa kok," ucap Raila.


"Mas, udah sampai," ucap supir taksi tersebut.


"Ah, iya. Makasih, sebentar ya Pak," ucap Farel, lalu menuntun Raila untuk keluar dari taksi.


"Udah gapapa kembaliannya Bapak ambil aja untuk kebutuhan Bapak," ucap Farel.


"Terima kasih, Mas," ucap supir taksi tersebut.


"Iya, sama-sama," ucap Farel.


Disisi lain Raila hanya menatap kagum rumah yang ada di hadapannya saat ini, Raila benar-benar kagum dengan interior yang terlihat mewah dan elegan. Selain itu, rumah di hadapannya ini sangat megah bahkan rumah keluarga Laksani tidak ada apa-apanya, rumah di hadapannya ini 2 kali lebih besar atau mungkin bisa lebih karena rumah tersebut benar-benar besar dari rumah keluarga Laksani.


"Ayo, sayang," ajak Farel dan memegang tangan Raila.


"Rel," panggil Raila.


"Kenapa?" tanya Raila.


"Hem, apa gapapa kalau majikannya ibu kamu tahu kita datang apalagi lewat pintu depan, biasanya kan lewat pintu belakang?" tanya Raila.

__ADS_1


Pertanyaan Raila benar-benar membuat Farel ingin tertawa, "Maksud kamu apa? majikannya ibu aku?" tanya Farel.


"Iya, kau takut kalau mereka marah," ucap Raila.


"Gapapa, mereka gak kan berani marah ke kamu," ucap Farel.


"Ish, aku gak bercanda tahu," ucap Raila.


"Lah, aku juga gak bercanda," ucap Farel.


"Kita lewat pintu belakang aja, ayo," ajak Raila.


"Jauh Rai kalau lewat pintu belakang mending kita lewat depan aja," ucap Farel.


"Gak mau, kasihan tahu nanti Mama yang di marahin kalau kita lewat pintu belakang ayo," ucap Raila.


Raila menarik tangan Farel, saya berada di pos satpam Raila segera menanyakan dimana pintu belakang untuk memasuki rumah tersebut. sedangkan, para satpam pun bingung, baru saja akan memanggil Farel. Namun, dengan cepat mereka melihat isyarat dari Farel untuk tidak memanggilnya dan akhirnya di patuhi oleh para satpam tersebut.


"Pak, saya mau tanya pintu belakang untuk masuk ke dalam rumah dimana ya, Pak?" tanya Raila.


"Oh itu, Nona ke gerbang yang ada di sebuah taman nah nanti di sana ada jalan setapak untuk menuju pintu belakang," ucap salah satpam yang menjaga rumah tersebut.


"Terima kasih ya, Pak," ucap Raila.


"Iya, Non," ucapnya.


Raila kembali menarik tangan Farel, "Rel, Hem. Udah berapa lama ibu kamu kerja jadi asisten rumah tangga di rumah ini?" tanya Raila.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2