
"Kamu kenapa sayang kok tadi teriak gi - tu?" tanya Mama Aurel.
"Eh Mama ganggu yaudah deh Mama keluar aja, kalian lanjutkan kegiatan kalian," lanjut Mama Aurel, lalu keluar dari kamar Farel.
Raila yang melihat Farel lengah pun berdiri dan menatap tajam Farel, "Awas kalau kamu kayak gitu lagi," ucap Raila.
"Kenapa sih, malu ya kepergok Mama," ucap Farel.
"Gak tuh, siapa juga yang malu," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gak mau ayo kita lanjutin hukuman kamu yang tadi," ucap Farel.
"Gak ada hukuman-hukuman kayak gitu, inget aku masih marah ya," ucap Raila.
Farel hanya tersenyum melihat Raila, 'Bukannya tadi aku yang marah lah ini kenapa malah dia yang marah,' ucap Farel dalam hati.
Farel menatap Raila yang lebih memilih duduk di sofa. Namun, pandangan mata Farel justru menajam saat melihat kaki Raila yang berdarah.
"Ini kenapa?" tanya Farel, dengan datar.
Raila sampai terkejut melihat perubahan ekspresi Farel, Raila kembali takut saat Farel menatap horor kakinya. Raila pun melihat kakinya dan merutuki dirinya karena lupa untuk mengobati kakinya sebelum pulang tadi. Jangan salahkan Raila karena ia tidak tahu Jiak Farel sudah pulang. Rencananya Raila akan mengobatinya saat pulang, eh ternyata Farel sudah pulang sehingga membuat Raila lupa untuk mengobatinya.
"Ibu kenapa, Rai?" tanya Farel lagi.
"I - ini tadi gak sengaja jatuh pas jalan, tapi gapapa kok," ucap Raila.
"Kamu mau aku percaya sama omongan kamu," ucap Farel, yang menatap tajam Raila.
"Aku gak bohong, Rel. Kamu percaya ya, ini semua emang karena aku ceroboh aja jalan gak bener, jadi kayak gini deh," ucap Raila, yang menatap harap kearah Farel.
Farel tidak menjawab perkataan Raila, ia justru mengeluarkan ponselnya dan mengubungi seseorang yang Raila tidak tahu siapa itu.
"Selidiki kejadian apa yang terjadi di kantor penerbitan Gantari hari ini, jangan sampai ada yang terlewat satu. Kalau sampai ada yang terlewat kau tahu apa akibatnya bukan," ucap Farel, melalui sambungan telepon tersebut.
"Rel," panggil Raila.
"Kenapa? masih mau gak jujur?" tanya Farel.
"Bukan gitu, tapi aku gak mau aja masalah ini jadi panjang," ucap Raila.
"Rai, kamu sekarang udah punya aku, aku gak bakal biarin orang-orang Mandang rendah kamu lagi, aku bakal buat orang-orang yang udah buat kamu sedih merasakan balasannya," ucap Farel.
"Berarti kamu juga dong," ucap Raila.
__ADS_1
"Kok aku juga, ya gaklah mana pernah aku buat kamu sedih," ucap Farel.
"Sering, kamu mah orang yang paling sering buat aku sedih, contohnya waktu di Dubai. Aku kayak anak hilang gitu," ucap Raila.
"Itu aku khilaf sayang," ucap Farel dan menghampiri Raila.
"Khilaf kok terus-terusan," ucap Raila.
"Hehehe, Maaf Yang. Kalau aku kayak gitu lagi kamu boleh tegur aku, kamu boleh marahin aku, tapi jangan minta ceria lagi kayak dulu ya," ucap Farel.
"Kamu ngomong kayak gitu aku jadi kepengen cerai deh," ucap Raila.
Farel yang mendengarnya pun terkejut ia langsung memeluk Raila dari samping, "Rai, kamu boleh marah. Tapi, tolong jangan ucapin kata terlarang itu, aku gak mau kehilangan kamu. Asal kamu tahu Rai, aku itu udah ketergantungan sama kamu," ucap Farel.
"Apa sih lebay deh," ucap Raila.
"Hehehe, sekarang aku obatin ya kakinya, nanti malah infeksi lagi kalau di biarin kayak gitu," ucap Farel.
Farel pun mengambil obat dan mulai mengobati luka Raila. Meskipun seseorang Raila merasakan perih saat Farel mengobatinya dan akhirnya Farel yang menjadi korbannya. Bagaimana tidak, saat Raila merasakan perih di kakinya, ia memukul dan menarik rambut Farel.
Farel hanya pasrah saat kepalanya di pukul dan di rambutnya ditarik Raila. Sebenarnya tidak terlalu sakit hanya saja kepalanya sedikit pusing karena karena Raila juga menggoyangkan kepalanya.
"Udah sayang, ini udah aku obatin," ucap Farel.
"Masa sih, gak loh padahal," ucap Farel.
"Ya kamunya gak, tapi kan aku yang ngerasain sakitnya," ucap Raila.
"Ini kenapa daritadi marah-marah Mulu sih, kamu lagi kedatangan tamu bulanan ya?" tanya Farel.
"Kok kamu tahu?" tanya Raila.
"Loh beneran padahal aku asal nebak aja, kalau kamu kedatangan tamu bulanan, itu artinya kamu masih belum hamil dong ya," ucap Farel, dengan nada sedih.
Raila yang menyadarinya pun menggenggam tangan Farel untuk menyemangatinya, "Maaf ya," ucap Raila.
"Kamu gak salah, semuanya itu pelajaran buat kita," ucap Farel.
"Semoga anak kita bahagia disana," ucap Raila.
"Kok jadi melow gini sih," ucap Farel, lalu memeluk Raila.
"Rai, kamu adalah hadiah terbaik yang dikirim tuhan untukku, disaat aku mencari orang yang benar-benar peduli denganku tanpa memikirkan latar belakangku dan semuanya pergi, tapi kamu justru datang dan memberikan semangat. Kamu tahu kalau aku tidak punya apa-apa, tapi kamu tidak peduli itu, kamu yang selalu ada disaat semua orang mencemooh aku bahkan kamu belain aku di depan keluarga kamu, kamu adalah segalanya bagiku Raila,"
__ADS_1
"Masih banyak hal harus aku perbaiki dan pelajari untuk hubungan kita, tapi aku berharap saat aku menutup mata nanti orang yang terakhir aku lihat adalah kamu. Jangan pergi dariku kecuali jika itu kehendak Tuhan," ucap Farel.
Raila yang mendengar perkataan Farel pun terharu bahkan tanpa ia sadari air matanya menetes, "Jangan nangis, aku gak bisa kalau lihat kamu nangis apalagi semua itu karena aku," ucap Farel dan menghapus air mata Raila.
"Ya kamu sih kenapa bicara romantis gitu, kan aku jadinya nangis kaya gini. Hiks hiks hiks," ucap Raila.
"Hehehehe, aku cuma ngutarain perasaanku," ucap Farel.
"Kalian masih lama kah didalam?" tanya Mama Aurel.
"Ck, Mama selalu datang di saat yang tidak tepat," ucap Farel.
"Hush, gak boleh gitu," ucap Raila, lalu melepaskan pelukannya dan membuka pintu kamarnya.
"Kenapa, Ma?" tanya Raila.
"Hehehe, itu sayang Evan nyariin Farel katanya dia pergi dari kantor gak pamitan makanya Evan sampe ke sini loh," ucap Mama Aurel.
"Ngapain sih Evan ke sini, ganggu aja," ucap Farel, lalu keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
Raila dan Mama Aurel pun mengikuti Farel ke ruang tamu, "Ck, ngapain lo ke sini?" tanya Farel.
"Astaga, Bos. Lo itu pergi dari kantor gak bilang-bilang ke gue, gue bingung nyariin lo dimana aja, terus gue telpon gak lo jawab. Gue kira lo rapat ke Kutub Utara tahu gak," omel Evan.
"Emang ada urusan penting apa sampe lo nyariin gue?" tanya Farel.
"Lo lupa hari ini lo ada rapat pembangunan hotel di Bali," ucap Evan.
"Lo kan bisa wakilin gue kayak biasanya," ucap Farel.
Evan menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap Raila, dengan tatapan yang entahlah Raila pun tidak mengerti arti dari tatapan Evan tersebut, "Ngapain lo lihat istri gue kayak gitu? mau gue colok mata lo," ucap Farel.
Evan tidak merespon perkataan Farel, Evan justru berjalan menghampiri Raila dan duduk tepat di samping Raila. Farel yang melihatnya ingin sekali menendang keluar sahabatnya itu.
"Kenapa?" tanya Raila, dengan perasaan waspada, jujur saja Raila sedikit bingung dengan tatapan Evan kearahnya yang bisa dibilang intens.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1