
"Gimana?" tanya Farel yang saat ini berada di penthouse miliknya bersama dengan sahabat-sahabatnya.
"Masih belum ketemu, Raila pergi tanpa bawa apapun, jadi susah buat cari keberadaannya," ucap Evan.
"Ini udah satu bulan setelah kepergian Raila dan kita masih belum tahu dimana Raila," ucap farel dengan sendu.
"Lo harus tetep semangat, kita harus yakin kalau Raila pasti bakal ketemu," ucap Marvel.
"Tapi, ini udah dua bulan, Vel. Gue bener-bener nyesel kenapa gue harus pergi dari rumah gue rasa yang sikapnya gak dewasa itu gue dan bukan Raila," ucap Farel.
"Lo jangan sedih kayak gini yang penting di sini kita gak lelah cari Raila," ucap Joven.
"Gue gak pernah lelah buat cari Raila, tapi gue bener-bener khawatir sama keadaan Raila, dia pergi dari gue udah terlalu lama," ucap Farel.
"Hey gak tahu kayak apa kekhawatiran lo, tapi lo kan tahu kalau Raila gak mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan manapun itu artinya dia masih istri lo dan gue yakin dia bakal balik ke lo nantinya," ucap Marvel.
"Papa sama Mama lo udah cari Raila juga?" tanya Rafka.
"Udah, tapi tetep gak ketemu, lo tahu sendiri gimana Mama gue, Mama sampai pingsan pas gue bilang kalau Raila di usir dari kos dan gue gak tahu dimana dia sekarang," ucap Farel.
Ya. Farel memang sudah memberitahukan semuanya kepada keluarganya seminggu setelah Raila pergi dan Farel pun mendapatkan hadiah yang sangat indah dari Papa Aaron yaitu pukulan maut dari tangan Papa Aaron sendiri. Mama Aurel sampai pingsan dan harus di rawat.
Saat sedang mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing tiba-tiba ponsel Evan bergetar dan Evan tidak tahu nomor siapa itu, "Kenapa, Van?" tanya Joven.
"Ini ada yang nelpon, tapi gue gak tahu siapa soalnya gak kenal nomornya," ucap Evan.
"Iseng mungkin," ucap Rafka dan diangguki Evan sehingga tidak ia angkat.
Beberapa saat kemudian ponsel milik Evan kembali bergetar, "Siapa lagi?" tanya Joven.
"Nomor yang tadi," ucap Evan.
"Udah angkat aja berisik tahu gak," ucap Marvel.
"Ck, iya iya," ucap Evan lalu mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Halo," ucap Evan.
__ADS_1
"Apa benar ini Nomornya Pak Evan?" tanya seorang perempuan dari seberang telepon.
"Iya, benar ada perlu apa ya anda menelpon saya?" tanya Evan.
"Ini saya mau bilang kalau saya pernah bertemu dengan perempuan yang ada di iklan orang hilang uang pak Evan pasang di salah satu web, makanya saya langsung telpon pak Evan," ucap perempuan tersebut.
Evan melotot setelah mendengar perkataan perempuan itu dan dengan cepat Evan menyalakan pengeras suara lalu menaruh ponselnya di meja dan hak itu membuat sahabatnya bertanya-tanya dan menatap tajam ke arah Evan. Namun, yang di tatap hanya fokus pada ponselnya yang saat ini bertengger manis di meja penthouse milik Farel.
"Tadi anda bilang apa coba jelaskan secara langsung," ucap Evan.
"Iya, Pak. Jadi saya kemarin sedang makan di salah satu tempat makan di dekat Hotel Five saat saya makan saya melihat perempuan yang ada di iklan yang bapak unggah, disana saya melihat perempuan itu masuk ke dalam tempat makan tempat saya makan dan saya tanya ke pelayan katanya dia memang kerja di tempat makan itu, Pak," ucap perempuan tersebut.
"Siapa?" tanya Joven dengan suara yang pelan.
"Gak tahu," jawab Rafka yang ikut memelankan suaranya.
"Anda sudah tanya namanya perempuan itu ke pelayan?" tanya Evan.
"Iya, saya sudah tanyakan ke salah satu pegawai dan mereka katanya namanya Raila dan dia sekarang juga lagi hamil," ucap perempuan tersebut dan membuat semua laki-laki yang mendengarnya terkejut dan saling pandang.
"Namanya restoran Ningrat," ucap perempuan itu.
"Baik, sekarang kau kirimkan nomor rekeningnya dan akan ku transfer uangnya dan jika memang informasi yang aku berikan benar, maka kau akan mendapatkan bonus" ucap Evan.
"Baik, Pak," ucap perempuan tersebut.
Farel memang sengaja menyuruh Evan untuk memasang foto Raila. Namun Farel menyuruhnya untuk tidak memberikan nama dan memberikan nomor ponsel Evan agar mudah dapat di hubungi, ada banyak yang menghubungi Evan dan menyebutkan nama yang salah. Sedangkan, perempuan tadi mengatakan nama yang benar dan informasi yang sangat tidak terduga.
Banyak yang berminat dengan iklan tersebut karena memang imbalannya tidak main-main, jika informasi yang di berikan sesuai maka orang itu akan mendapatkan uang sebesar 20 juta dan jika Farel dapat bertemu dengan Raila karena informasi itu maka orang itu akan mendapatkan 100 juta.
Bagi Farel uang dengan nilai itu belum cukup jika ia berhasil bertemu dengan Raila. Namun, sahabatnya mencegah Farel yang ingin menambahkan sebuah rumah dan mobil untuk orang yang berhasil memberikan informasi yang tepat.
"Kita ke sana sekarang," ucap Farel dan diangguki sahabatnya.
"Iya, kita ke sana keburu malem juga," ucap Marvel.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil Farel dimana Joven yang mengendarainya dan di sebelah ada Evan lalu Farel di belakang Evan dan di sebelahnya ada Marvel dan Rafka duduk di belakang seorang diri.
__ADS_1
"Apa bener ya kata perempuan tadi kalau Raila hamil?" tanya Rafka yang membuat Farel menoleh ke arahnya.
"Kalau emang Raila hamil itu artinya gue ini Ayah terburuk yang pernah ada, gue biarin Raila sendirian pas lagi hamil," ucap Farel.
"Lo gak boleh mikir kayak gitu, anggap semua ini sebagai pembelajaran buat hubungan lo sama Raila," ucap Marvel.
"Lama banget sih, Ven," omel Farel.
"Sabar Pak Bos ini macet," ucap Joven.
"Gue udah gak sabar buat ketemu Raila," ucap Farel.
Marvel yang mendengarnya pun tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya itu dan menganggukkan kepalanya. Marvel ingin memberikan semangat pada Farel yang saat ini pasti khawatir dengan keadaan Raila.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, mereka semua pun sampai di restoran yang di maksud oleh perempuan yang menelpon Evan tadi.
Kotor, itulah kata yang pantas di sematkan untuk restoran tersebut bahkan menurut kelima laki-laki itu bukan restoran melainkan warung biasa, "Perempuan yang nelpon tadi gak salah kan masa kayak gini namanya restoran sih, ini mah lebih ke gubuk atau gak warung," ucap Rafka yang berjinjit karena memang banyak genangan air di sana.
"Gue masuk duluan kalian boleh nyusul atau tetep di sini," ucap Farel masuk ke dalam restoran tersebut.
"Kayaknya ini bukan tempatnya deh kotor banget sih, wah kalau seandainya Mami gue tahu, gue ke tempat kayak gini mungkin Mami gue udah nyiapin kembang tujuh rupa deh," ucap Rafka.
"Lo masuk atau mau tetep di sini?" tanya Joven.
"Masuk dong," ucap Rafka.
Mereka berempat pun masuk ke dalam mengikuti Farel, "Tadi tulisannya aja restoran Ningrat, tapi ternyata dalamnya kayak warung biasa," gumam Rafka.
"Ck, nih model atu ribet banget dah mana berisik muluh," ucap Joven dan Rafka hanya tersenyum menunjukkan giginya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1