Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Kecewa


__ADS_3

Rasanya Farel ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan Raila, "Rel, jawab dong penasaran nih aku?" tanya Raila.


"Kamu nanti tanya Mama aja ya, soalnya Mama yang tahu pasti udah berapa lama Mama kerjanya," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Tapi, rumah siapa ini, Rel, kok bagus banget bahkan nih ya ruang keluarga Laksani aja kalah?" tanya Raila.


"Yang jelas ini rumah orang yang punya uang, Rai," ucap Farel.


"Ck, kalau itu aku juga tahu kali," ucap Raila.


"Kamu mau gak kita punya rumah kayak gini?" tanya Farel.


"Ya. Maulah, mana ada orang yang nolak kalau di kasih rumah kayak gini, kalau seandainya keluargaku di bawa ke ruang kayak gini pasti mereka langsung histeris dan norak deh, orang dulu kita pernah liburan ke salah satu villa keluarga Laksani di Bali aja hebohnya minta ampun," ucap Raila.


"Kamu gak marah sama keluarga kamu?" tanya Farel.


Raila sadar akan ucapannya tadi mengenai kenangan dengan keluarganya, "Marahlah, mana ada orang yang gak marah kalau keluarganya secara terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya dan juga mengusirnya, tapi ya mau gimana lagi mereka tetep keluargaku, aku gak akan pernah menganggap mereka mantan keluargaku karena hubungan darah gak akan pernah bisa di ubah kan, tapi aku akan berusaha untuk merubah sikapku yang dulunya peduli menjadi tidak peduli," ucap Raila.


"Semua keputusan ada di tanganmu, jadi aku tidak akan ikut campur, selama kamu baik-baik saja maka aku akan diam, tapi jika nanti mereka sudah keterlaluan maka aku akan bertindak," ucap Farel dan Raila menganggukkan kepalanya dengan senyum manis.


Setelah berjalan kaki dari gerbang depan, Farel dan Raila pun saat ini sudah berada di belakang rumah, "Aneh ya , padahal ini udah di belakang rumah, tapi kenapa mewah banget aku aku foto di sini pasti gak akan ada yang tahu kalau ini itu belakang rumah," ucap Raila.


"Mau masuk atau mau foto dulu nih?" tanya Farel yang terkesan menggoda Raila.


"Hehehe, masuk aja kasihan nanti Mama kerjanya, kalau ada aku kan enak, jadi aku bisa bantu-bantu," ucap Raila.


"Tuan, kenapa Tuan lewat pintu belakang?" tanya seorang wanita paruh baya yang menghampiri Farel dan Devan.


"Gapapa ini istri saya yang ingin lewat pintu belakang," ucap Farel.


"Mari, Nyonya Aurel dan Tuan Aaron sudah berada di ruang tamu," ucapnya.


"Rel, kenapa ibu ini sopan banget ya seharusnya kan ibu ini sama kayak kita?" tanya Raila dengan suara pelan.


"Udah kita ikutin aja," ucap Farel.

__ADS_1


Semakin masuk ke dalam rumah, Raila dapat melihat bagaimana bentuk dan interior yang sangat mengesankan bahkan bahan-bahan yang di gunakan sangat berkelas yang tentunya harus dipesan jauh-jauh hari dan Raila pastikan banyak barang yang bukan dari Indonesia.


"Tuan Aaron, Nyonya Aurel, Tuan dan Nona sudah datang," ucap wanita paruh baya tersebut yang bernama Bi Ani.


"Terima kasih Bi," ucap Mama Aurel dan diangguki Bi Ani dan duduk di lantai dengan membersihkan gelas yang ada di meja.


"Kalian duduklah," ucap Papa Aaron.


Saat ini Raila berada di belakang Farel hingga ia tidak tahu siapa yang duduk di sofa mahal yang ada di rumah tersebut. Setelah di perintahkan untuk duduk, Raila pun duduk di sebelah Bi Ani yakni di bawah.


Farel yang berjalan untuk duduk di sofa pun terkejut karena melihat istrinya duduk di lantai, "Sayang, ngapain di situ?" tanya Farel yang menghampiri istrinya itu.


"Gak sopan duduk di atas nanti Mama gimana coba," ucap Raila.


"Kamu belum lihat siapa yang duduk di sofa?" tanya Farel.


"Mereka majikannya Mama, kan? makanya aku duduk di bawah biar Mama gak kena masalah," ucap Raila.


"Huh, kamu lihat dulu siapa yang duduk di sofa baru kamu boleh bicara," ucap Farel.


Akhirnya Raila pun mendongak dan menatap dua orang yang duduk di sofa, dua orang tersebut sedang menatap Raila yang duduk di lantai. Ya, dua orang itu adalah Papa Aaron dan Mama Aurel.


"Kamu duduk di sofa dulu ya sayang," ucap Mama Aurel.


Farel pun membawa Raila duduk di sofa, "Ibu jangan duduk di lantai, ayo Bu duduk di sebelah saya," ucap Raila pada Bi Ani.


"Tidak perlu, Non. Ini Bibi sudah selesai membersihkannya kalau begitu saya permisi," ucap Bi Ani, lalu pergi dari ruang tamu yang kelewat megah tersebut.


Raila hanya menatap orang-orang yang ada di sana, entahlah Raila rasa sejak tadi pikirannya mulai merasa jika ucapannya dia dari awal salah, "Ini kenapa ya, Pa, Ma kok yang lainya rumah belum datang? apa beliau sedang tidak di rumah?" tanya Raila, yang benar-benar penasaran dengan keberadaan majikannya.


"Sayang, maafin Mama ya, selama ini Mama udah buat kamu kecewa karena udah bohongin kamu," ucap Mama Aurel dengan menangis.


Raila terkejut setelah mendengar perkataan Mama Aurel, tiba-tiba saja Aurel mengingat ucapan dari Bu Ani tadi, 'Tunggu ibu tadi manggil Papa sama Mama Tuan Aaron dan Nyonya Aurel kan, itu nama Papa dan Mama,' ucap Raila dalam hati.


"Maksud Mama apa?" tanya Raila.

__ADS_1


"Se - sebenarnya ini rumah Papa dan Mama, sayang," ucap Mama Aurel.


"Rumah Papa sama Mama, tunggu. Bukannya Papa sama Mama cuma bekerja di perkebunan teh dan hidup serba pas-pasan, tapi kenapa bisa Papa sama Mama punya rumah sebesar dan sebagus ini?" tanya Raila.


"Sayang, sebenarnya selama ini aku udah bohong sama kamu mengenai keluargaku," ucap Farel, yang berada di samping Raila dan menggenggam tangan Raila.


"Kamu bohongin aku apa, Rel?" tanya Raila.


"Sebenarnya aku dari keluarga yang berkecukupan," ucap Farel.


"Hah! terus kenapa kamu selama ini selalu bilang kalau kamu itu dari keluarga yang miskin?" tanya Raila.


"Karena aku dulu takut kalau kamu terima aku karena hartaku, makanya aku menyembunyikan identitasku dan setelah aku kenal kamu aku sadar jika kamu tulus ke aku," ucap Farel.


"Aku masih gak paham, jadi aku selama ini anak orang kaya gitu?" tanya Raila dan diangguki Farel.


"Kenapa kamu diem aja pas keluargaku ngehina kamu, harusnya kamu lawan mereka baut mereka bungkam?" tanya Raila.


"Karena aku mau mereka menerimaku apa adanya bukan karena uangku. Ya, walaupun akhirnya gagal juga mereka malah semakin gak suka sama aku, tapi aku Suak karena aku tahu bagaimana mereka memperlakukanku," ucap Farel.


"Sayang, maafkan anak Papa, padahal Papa sering mengatakan padanya untuk memberitahukan semuanya padamu, tapi Farel tetap kekeh tidak ingin memberitahukannya sampai kejadian beberapa lalu akhirnya membuat Farel sadar jika ia harus mempertahankan kamu dan memutuskan untuk memberitahukan semuanya padamu," ucap Papa Aaron.


"Raila paham maksud Farel, tapi Raila kecewa karena Farel menganggap Raila mau menerimanya karena harta karena itu Farel nyembunyiin identitasnya," ucap Raila.


"Maaf sayang aku salah," ucap Farel.


"Kamu gak salah kok, akunya aja yang gak tahu apa-apa soal kamu," ucap Raila.


"Sayang, maaf jangan marah ya," ucap Farel.


"Aku gak berhak marah ke kamu, walaupun aku ingin, tapi bagaimanapun itu pilihan kamu, Rel, untuk nyembunyiin semuanya," ucap Raila.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2