
"Jadi maksudnya saya di usir dari sini?" tanya Farel.
"Ya, karena istri kamu itu udah mencuri di sini, jadi kita takut kalau barang-barang kita hilang nantinya," ucap Mbak Ayu.
Raila yang mendengar ucapan dari Mbak Ayu sangat kecewa karena selama tinggal di sini Raila selalu menganggap Mbak Ayu dan ibu-ibu lainnya sebagai penolong, tapi kenyataannya mereka malah mengatakan hal yang menurut Raila menyakitkan.
Belum sempat Farel ataupun Raila merespon perkataan dari Mbak Ayu tiba-tiba Bu Anggi menarik tangannya Raila keluar dari kos dan saat di luar kos Bu Anggi langsung mendorong Raila hingga terjatuh di atas lumpur yang akhirnya membuat pakaian kotor.
Terlihat dengan jelas jika Farel tidak terima dengan tindakan Bu Anggi, apalagi saya Bu Anggi menghina Raila. Farel berjalan mendekat ke arah Bu Anggi dan ingin memukulnya. Namun, Marvel yang melihatnya segera mencegahnya, ia tidak ingin Farel memukul apalagi kepada seorang wanita yang berumur.
"Dasar gak tahu malu! udah nyuri perhiasan saya dan kamu masih berani datang ke sini, dasar wanita pembawa sial!" maki Bu Anggi.
"Siapa yang anda bilang wanita pembawa sial?" tanya seorang wanita yang berjalan elegan menuju Bu Anggi dan Raila.
"Siapa yang anda bilang pembawa sial?" tanya wanita tersebut yang meninggikan suaranya.
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah wanita yang sudah berada di samping Raila, wanita tersebut membantu Raila untuk berdiri, "Mama," panggil lirih Raila pada wanita yang berdiri di sampingnya.
Ya. Wanita tersebut adalah Mama Aurel orangtua Farel, sejujurnya Raila berharap jika wanita tersebut adalah orangtuanya. Namun, sayang itu tidak mungkin, tapi Raila tetap senang karena Mama Aurel datang.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Mama Aurel yang membantu Raila untuk berdiri.
Tidak ada rasa jijik bagi Mama Aurel yang membantu Raila saat ini padahal Raila benar-benar kotor karena pakaiannya terkena lumpur tadi, Farel yang melihatnya pun lantas menghampiri Raila, "Kamu antar Raila untuk membersihkan dirinya, biar Mama yang urus di sini," ucap Mama Aurel dan diangguki Farel.
Farel pun membawa Raila menuju mobil yang ia gunakan tadi, saat akan masuk ke dalam Raila menahan tangan Farel yang menggenggam tangannya. Farel yang merasa ada yang menahannya pun langsung menatap Raila seolah bertanya 'Ada apa?'.
"Hem, kita ke toilet umum dekat sini aja," ucap Raila.
Farel yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya, "Kenapa?" tanya Farel yang terlihat tidak bersahabat sama sekali.
__ADS_1
"Kalau masuk ke dalam mobil takutnya mobilnya kotor, jadi lebih baik kita ke toilet umum deket sini aja lagian aku masih bisa jalan kok, di sebelah minimarket depan gang ada toilet umum kok," ucap Raila.
Farel tidak merespon perkataan Raila justru ia hanya menatap tajam ke arah Raila, Raila merasa takut dengan tatapan tajam Farel karena selama mereka pacaran Farel tidak pernah menatapnya seperti itu.
Saat Raila sedang bergelut dengan pikirannya tiba-tiba Farel menggendongnya menuju mobil mewahnya, "Farel, nanti kotor mobilnya," ucap Raila.
"Hush, diem," ucap Farel yang mampu membuat Raila diam dan tidak mengatakan apapun.
.
Disisi lain Mama Aurel bersama dengan beberapa pengawal sudah menatap tajam ke arah penghuni kos yang berani menghina menantu kesayangannya, "Jadi kamu yang sudah menghina menantu saya tadi?" tanya Mama Aurel.
"Oh jadi anda mertuanya perempuan tadi, saya ingatkan ya kalau gak punya apa-apa itu jangan mencuri, tapi kerja," ucap Bu Anggi dengan emosi.
"Saya tidak terima karena menantu kesayangan saya kamu perlakukan seperti tadi, jadi-," ucapan Mama Aurel sengaja di jeda dan detik berikutnya Bu Anggi pun sudah terjatuh tepat di lumpur yang tadi mengenai Raila.
Semua orang yang ada di sana menatap kagum mobil yang di gunakan oleh Mama Aurel, terutama suami dari Bu Farah, ia bekerja di showroom mobil jadi dia tahu berapa harga mobil yang di gunakan oleh Mama Aurel dan di Indonesia hanya ada 4 orang yang mampu membelinya 3 diantaranya ialah keluarga Revion dan yang 1 lagi di keluarga Dante.
"Sepertinya wanita itu bukan dari kalangan biasa-biasa," celetuk suami Bu Farah.
"Maksud Bapak apa?" tanya Bu Farah yang menatap tajam suaminya itu.
"Mobil yang di pake wanita itu cuma ada 4 di Indonesia bahkan di dunia cuma ada 10, jadi udah pasti kalau wanita itu bukan wanita sembarangan dan saya sarankan untuk Bu Anggi tidak mencari masalah, saya takutnya wanita tadi dendam dan menghancurkan usaha Bu Anggi," ucap suami Bu Farah yang membuat orang yang ada di sana takut bahkan merinding.
"Bapak yang bener ah jangan bercanda gak lucu tahu," ucap Bu Farah.
"Loh Bapak gak bercanda, Ibu kan tahu kalau Bapak ini bekerja di showroom mobil, jadi Bapak tahu mobil tadi," ucap suami Bu Farah.
.
__ADS_1
Raila dan Farel saat ini berada di hotel terdekat, Raila masuk ke dalam kamar mandi, Raila sengaja berendam cukup lama, ia tidak sanggup untuk bertemu dan bertatap muka dengan Farel. Sudah lebih dari satu bukan mereka tidak bertemu tentunya suasana sangat canggung bahkan Raila rasanya ingin tenggelam saja di dasar laut.
"Rai, masih lama?" tanya Farel dari luar.
Raila tidak bisa terus menghindar dari Farel, bagaimanapun Raila masih berstatus istri dari Farel, jadi Raila harus keluar dan berbicara dengan Farel mengenai kelanjutan hubungan mereka, "Iya, sebentar," ucap Raila.
Hingga beberapa saat kemudian, Raila pun keluar dari kamar mandi dengan segar dan pakaian yang lebih bagus dari sebelumnya karena memang Raila meminjam baju dari ibu-ibu yang ada di bawah jembatan oleh karena itu pakaian yang tadi ia gunakan sangat dekil dan tidak rapi.
"Makan dulu," ucap Farel.
"Aku gak laper kok," ucap Raila.
"Aku tahu, tapi kamu bukan hanya mikirin diri kamu sendiri, tapi juga si baby," ucap Farel dengan mengusap pelan perut Raila.
Ini pertama kalinya Farel mengusap perut Raila saat tengah hamil, ada rasa bangga, senang, sedih, dan kecewa dalam hati Farel. Namun, semua itu sudah terjadi dan tidak perlu di ungkit lagi yang terpenting saat ini Raila sudah berada di sampingnya dan Farel akan berjanji untuk membahagiakan Raila dan juga calon anak mereka.
Rika sendiri terkejut karena Farel tahu jika ia hamil padahal ia belum mengatakan apapun pada Farel mengenai kehamilannya, "Ka - kamu kok bisa tahu kalau aku hamil padahal aku belum ngasih tahu kamu?" tanya Raila.
"Itu gak penting untuk saat ini, aku minta maaf karena gak ada saat kamu butuh, aku pergi dan aku nyesel, seandainya aku gak pergi saat itu aku bisa pastikan kamu gak akan mengalami semua ini, Rai. Hiks hiks hiks," ucap Farel yang memeluk Raila.
Raila yang merasakan bahu Farel bergetar pun terkejut karena ia jarang melihat Farel menangis bahkan sepertinya tidak pernah sampai sesenggukan seperti saat ini.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1