
Raila berhenti di depan Farel, "Aku mau pulang sekarang," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu aku juga mau pulang," ucap Farel.
"Gak perlu, kamu di sini aja ajarin karyawan kamu supaya bisa jaga omongan mereka," ucap Raila.
"Gak aku ikut pulang, aku gak mau kamu pulang sendirian ya," ucap Farel.
"Aku udah minta Pak Diki buat jemput kok lagian Pak Diki sekarang udah di bawah," ucap Raila, lalu pergi meninggalkan Farel.
Namun, sebelum pergi Raila terlebih dahulu menghampiri kedua perempuan yang tadi membicarakannya saat di kamar mandi, "Saya memang b aja gak ada yang istimewa dari saya, saya juga bingung bagaimana bisa seorang Tuan Zergan yang terhormat menyukai saya. Terima kasih atas ucapan kalian berdua yang membaut saya sadar diri karena berada di samping Tuan Zergan dan menjadi istrinya," ucap Raila.
Setelah mengatakan hal itu Raila pun pergi meninggalkan kedua perempuan tersebut yang sedang ketakutan, Farel yang melihat Raila pergi pun menahannya.
"Ada apa, Yang? apa mereka berbuat jahat sama kamu?" tanya Farel.
"Aku mau sendiri dulu, aku pulang kasihan Pak Diki udah nunggu di bawah," ucap Raila dan menarik tangannya yang sedang di pegang Farel.
Setelah Raila benar-benar pergi, Farel menatap seluruh karyawannya yang ada di ruangan tersebut dan pandangannya tertuju pada dua perempuan yang tadi dihampiri Raila.
"Apa yang kalian berdua bicarakan sebenarnya hah? kenapa karena kalian berdua istri saya jadi seperti itu?" tanya Farel, dengan nada yang benar-benar menakutkan bagi karyawan yang ada di sana.
Bukan hanya nada bicaranya yang terkesan dingin dan ketus bahkan tatapan matanya yang tajam pun begitu menakutkan. Selama ini mereka tidak tahu bagaimana rupa dari seorang Tuan Zergan, karyawan di perusahaan Farel yang tahu hanya para petinggi yang tentunya hanya beberapa saja. Meskipun wajah Farel terbilang tampan, tapi tetap saja mereka takut.
"Apa yang kalian bicarakan mengenai istri saya hah?" tanya Farel, dengan lantang karena dua perempuan tersebut tidak menjawab pertanyaannya tadi.
__ADS_1
"Ma - maafkan kami Tuan, saya salah. Ka - ka - kami tidak tahu jika Nona Raila berada di toilet," ucap perempuan kedua.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Farel.
"Maaf Tuan, maafkan kami, hiks hiks," ucap perempuan pertama.
"Ck, saya tidak butuh maaf kalian, kalau pun kalian ingin meminta maaf itu kepada istri saya bukan pada saya di sini saya tanya apa yang kalian bicarakan?" tanya Farel, yang mulai emosi karena kedua perempuan tersebut tidak mengatakan permasalahan yang sebenarnya.
"Ka - kamu membanding-bandingkan Nona Raila dengan Bu Natasya, maafkan kami Tuan," ucap perempuan pertama.
"Kalian berdua ya benar-benar keterlaluan, kenapa harus Natasya. Raila pasti marah karena ini," ucap Farel.
"Kenapa Raila bisa marah sama Natasya? emangnya Raila tahu siapa Natasya?" tanya Evan, yang entah sejak kapan berada di ruangan tersebut.
"Raila pernah cemburu dan hampir minta pisah sama gue gara-gara Natasya," ucap Farel, yang tentunya membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Bahkan sejelas Tuan Zergan pun Raila ingin menceraikannya.
"Tu - tuan ma - ma - maafkan kami," ucap perempuan pertama.
"Van, urus dia. Gue mau pulang," ucap Farel, lalu pergi dari ruangan tersebut.
"Astaga! kalian berdua itu ya. Asal kalian tahu bos kalian itu bucin banget sama istrinya dan ini apa kalian justru buat istrinya marah," ucap Evan.
"Pak Evan maafkan kami, kamu salah. Kami akan meminta maaf secepatnya pada Nona Raila," ucap perempuan kedua.
"Tapi, sayang hari ini adalah hari terakhir kalian di perusahaan ini. Kalian tahukan kalau seseorang yang dipecat dari perusahaan keluarga Revion, baik itu Revion grup atau Hiravy, maka kalian akan sulit mendapatkan pekerjaan dimanapun," ucap Evan.
__ADS_1
Kedua perempuan tersebut tentunya tahu bahwa seseorang yang sudah dipecat dari perusahaan ini maka akan dipastikan ia akan menganggur karena tidak ada perusahaan kain yang mau menerimanya.
"Pak Evan maafkan kami, kamu mengaku salah. Tolong jangan secara kami, tidak tahu lagi harus bekerja dimana setelah ini," ucap perempuan pertama.
"Kalian tidak perlu bingung bekerja dimana karena apa karena tidak ada perusahaan yang mau menerima kalian kecuali kalau kalian di jalanan, hem ngamen misalnya," ucap Evan, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Makanya, lain kalian itu harusnya hati-hati kalua kayak gini siapa juga yang rugi, kalian sendirikan," ucap salah satu karyawan di sana.
.
Disisi lain Raila data ini tidak pulang ke kediaman Revion, Raila justru saat ini berada di danau dekat sekolahnya dulu. Danau ini sering ia kunjungi bersama Vanya dan juga Mona.
Saat mengingat masa-masa sekolahnya tiba-tiba saja matanya memerah dan Raila pun menangis dalam diam, "Gimana keadaan lo di sana Na? lo pasti bahagia ya di sana? lo pasti di sana ketemu sama Nenek lo ya? lo pasti di sana lagi kejar-kejaran sama malaikat ya? atau lo di sana lagi ngelihat gue yang kayak gini?" tanya Raila, dengan menatap langit yang tampak cerah.
"Gue yakin, Na. Lo pasti bakal sedih kalau tahu gue sama Vanya udah gak sahabatan lagi. Gue sama Vanya sekarang kayak musuh bahkan gue udah gak punya kontak Vanya. Nomor gue di blokir sama dia, yaudah gue juga blokir dia, maaf ya Na, gue masih belum bisa buat mampir ketemu sama lo, gue kangen banget pengen ketemu sama lo," ucap Raila.
"Dulu sebelum lo gak ada lo pernah bilang kalau lo gak ada dan lo mau kalau gue atau Vanya ketemu sama lo, kita harus bareng dan gak boleh sendiri-sendiri, tapi kayaknya gue gak bisa kalua ke sana bareng sama Vanya, hiks hiks hiks," lanjut Raila.
Radial benar-benar tidak bisa menahan tangisannya saya mengingat sahabatnya yaitu Mona. Mona adalah sahabat Raila sejak SMP sama seperti Vanya, mereka kenal karena satu kelas bahkan saat SMA pun mereka satu kelas dan mereka juga mengambil jurusan yang sama saya kuliah, karena mereka bertiga selalu bersama sehingga banyak yang mengatakan jika mereka bertiga akan sulit mendapatkan jodoh, bagaimana tidak saat seseorang mendekati salah satu dari mereka maka dua lainnya akan meneror pria yang mendekati sahabatnya itu. Mereka bertiga juga berjanji akan lulus bersama saat itu dan menikah juga bersama. Tapi, tuhan berkehendak lain, Mona harus berhenti saya menginjak semester 2 karena sakit yang dialaminya.
Mona mengalami kanker otak dan dokter sudah mengupayakan semuanya, tapi Tuhan memang benar-benar tidak mengabulkan doa sahabat dan keluarga Mona. Mona dinyatakan meninggal satu bulan setelah di rawat di rumah sakit. Raila dan Vanya sangat terpuruk, tapi karena melihat keluarga Mona yang begitu tegar akhirnya mereka juga mencoba untuk tetap tegar dan tidak menampakkan kesedihannya agar keluarga Mona tidak merasa sedih juga.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.