Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Rasanya Sakit


__ADS_3

Dua hari setelah liburan keluarga Revion, saat ini pekerjaan Farel benar-benar menumpuk bahkan saat baru saja sampai di rumahnya, ia melihat Evan dan dengan beraninya Evan memarahinya karena memberikan pekerjaan yang banyak kepadanya.


Saat ini ia berada di kantor dan benar saja banyak sekali pekerjaan yang menumpuk karena liburannya padahal liburannya kali ini tidak sampai seminggu.


"Rel," panggil Joven.


"Lo kalau mau masuk ketuk pintu dulu," ucap Farel.


"Hehehehe, maaflah. Soalnya di depan gak ada sekretaris lo makanya gue langsung masuk aja," ucap Joven.


"Kenapa lo nyariin gue?" tanya Farel.


"Ini masalah Raila," ucap Joven.


"Maksud lo?" tanya Farel.


"Gue udah ada bukti yang membuat Raila tidak bersalah," ucap Joven.


Farel pun menatap Joven dan ia pun berdiri lalu duduk di sofa yang ada di ruangannya, "Maksud lo, lo udah dapet buktinya, mana gue lihat," ucap Farel.


"Oke, bentar," ucap Joven, lalu mengambil laptop Farel.


Setelah itu Joven memperlihatkan sebuah video kepada Farel, "Lo kok bisa dapet video ini, katanya cctv di sana udah gak ada?" tanya Farel.


"Lo lupa siapa gue, gue ini keluarga Kernel, lo tahu gimana liciknya keluarga Kernel," ucap Joven.


"Hem,"


"Astaga, Rel. Lo puji gue kek, masa jawabnya cuma hem doang," ucap Joven.


Farel hanya melirik Joven dan kembali menatap tajam laptop yang sedang menunjukkan sebuah video kebenaran mengenai masalah yang di alami Raila di kantornya dulu.


"Apa rencana lo selanjutnya?" tanya Farel.


"Gue udah punya sendiri yang tentuanya rencana itu bakal buat si b******n itu kapok," ucap Farel.


"Apa emang rencananya?" tanya Farel.


"Gimana kalau main-main sama nyawanya," ucap Farel.


"Gila, lo Rel!" pekik Joven.


"Gue emang gila kalau ada sangkut pautnya sama Raila," ucap Farel.


"Tapi, ya jangan bunuh juga kali," ucap Joven.


"Emang gue bilang kau bunuh dia, gue kan cuma bilang mau main sama nyawanya, kalian pun dia mau gue bunuh. Gue juga gak bakal pakai tangan gue sendiri," ucap Farel.


"Udah deh Rel jangan bercanda kalau masalah kayak gitu, gue gak setuju ya kalau sampe lo main-main sama nyawa seseorang," ucap Joven.

__ADS_1


Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba Evan datang, "Kok lo ada di sini?" tanya Evan.


"Gue ada urusan kali sama bos lo nih," ucap Joven.


"Kenapa?" tanya Farel.


"Ini ada undangan dari Laksani grup," ucap Evan.


"Laksani grup? mereka mau ngadain acara apa sampe berani ngundang seorang Tuan Zergan?" tanya Farel, yang membanggakan dirinya sendiri.


"Lo gak tahu," ucap Joven.


"Tahu apa?" tanya Farel.


"Laksani grup sekarang bekerja sama dengan Lana grup untuk membangun Yayasan," ucap Joven.


"Mereka berdua kerjasama, bodoh. Apa Laksani tidak bisa bekerjasama dengan keluarga yang lebih berkuasa, yang satu ada di posisi 9 yang satu lagi 10," ucap Farel.


"Kapan acaranya?" tanya Farel.


"Acaranya tiga hari lagi, tempatnya di hotel Grand," ucap Evan.


"Mereka mau ngundang Farel ke hotel yang terkenal banyak j****g," ucap Joven.


"Bukannya semua keluarga di negeri ini di undang, jadi otomatis keluarga lo juga di undang," ucap Evan.


"Ck, pasti nanti Papa bakal nyuruh gue yang dateng soalnya bokap gue lagi enak-enak di Belanda sama nyokap gue," ucap Joven.


"Ogah gue, adik gue yang kecil aja masih 5 tahun, emang tuh aki-aki seneng banget bikin gue menderita," ucap Joven.


"Kalau lo lagi di sini, yan sama adik lo siapa?" tanya Farel.


"Gue gak miskin kalau Rel. Jaman sekarang mah baby sitter banyak," ucap Joven.


"Tapi, kan setah gue Mama lo gak pake jasa baby sitter," ucap Evan.


"Emang gak," ucap Joven.


"Terus siapa yang jadi baby sitter adik lo?" tanya Farel.


"Si Rafka lah," ucap Joven.


"Kok bisa sih model itu jadi baby sitter baut adik lo?" tanya Evan.


"Biasa dia kabur lagi dari Mamanya," ucap Joven.


"Tuh anak gak pernah berubah," ucap Evan.


"Gue cabut deh, kasihan juga gue sama Rafka mana dari tadi adik gue marah-marah terus, oke bye semuanya," ucap Joven, lalu pergi dari ruangan tersebut.

__ADS_1


.


Disisi lain Raila saat ini berada di depan kantornya dulu, "Huh, lo bisa Rai, semangat," gumam Raila.


Baru saja akan masuk ke dalam kantor tersebut tiba-tiba ucapan seseorang yang berhasil menghentikan langkah Raila, "Ada mantan pegawai di sini nih," ucap Vanya.


Raila membalikkan badannya dan melihat Vanya yang juga melihatnya, "Oh, ada mantan sahabat nih, apa kabar tan mantan?" tanya Raila, yang terkesan menyindir.


"Gue baik-baik aja, malah sangat baik," ucap Vanya.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Isna, yang berada di samping Vanya.


"Gue lagi mencari kebenaran," ucap Raila.


"Percuma lo mau cari kebenaran di sini karena kebenarannya udah pada tahu semuanya yaitu kebenaran kalau lo itu seorang pencuri," ucap Vanya.


"Gue suka julukan baru itu, tapi lo boleh panggil gue itu kalau gue udah bisa nemuin siapa yang udah fitnah gue ya walaupun gue tahu sih siapa yang fitnah gue, tapi gue perlu bukti untuk membungkam mulut busuk kalian semuanya," ucap Raila.


"Pak, usir dia. Dia ini mau nyuri di kantor ini!" teriak Dandi, yang baru saja keluar dari kantor.


"Lo kenapa ngusir gue? apa karena lo takut kalau semuanya terungkap dan akhirnya semua orang tahu siapa pelaku yang sebenarnya?" tanya Raila.


"Gue gak takut, tapi gue gak mau kantor ini nerima orang yang licik kayak lo," ucap Dandi.


"Lo bilang gue licik," ucap Raila, dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Gue gak licik, tapi karena lo bilang gue licik. Maka akan dengan senang hati gue perlihatkan gimana kelicikan gue di depan mata lo langsung," ucap Raila.


"Kayaknya hari ini bukan hari keberuntungan gue buat buktiin semuanya, gak masalah masih ada waktu kecuali kalau lo sama perempuan jahat itu gak ngebunuh gue," ucap Raila, lalu pergi.


Namun, langkah Raila kembali terhenti karena Vanya yang tiba-tiba menarik rambut Raila hingga Raila terjatuh ke belakang bahkan tanpa Raila sadari kaki sebelah kanannya yang terkena aspal pun mengeluarkan darah.


"Ngapain lo narik rambut gue, dasar gila!" bentak Raila.


Vanya sendiri hanya bengong karena selama persahabatan mereka, Raila tidak pernah membentak bahkan marah-marah padanya, tapi hari ini tiba-tiba Vanya merasakan batu besar jatuh tepat di dadanya, rasanya sakit. Vanya ingin sekali meneteskan air matanya, namun karena gengsi Vanya menahannya dan memilih pergi meninggalkan Raila.


""Rasain," ucap Dandi, lalu pergi.


Sedangkan, Isna berjalan menuju ke arah Raila. Raila terkejut karena Isna tiba-tiba saja membantunya berdiri, "Mau dianter ke rumah sakit buat bersihin luka lo?" tanya Isna.


"Gak usah, kenapa lo bantuin gue? bukannya tadi lo sama kayak Vanya, gak suka sama gue," tanya Raila.


"Gue gak pernah gak suka sama lo," ucap Isna.


"Terus?" tanya Raila.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2