
Disisi lain saat ini para laki-laki berada di tama belakang, "Kapan Papa balik ke London?" tanya Farel.
"Papa rencananya bakal tinggal di sini kok," ucap Om Alex.
"Terus perusahaan di London gimana kalau Papa tinggal di sini?" tanya Rafka.
"Papa kan punya asisten, jadi nanti Papa akan berikan suruh asisten Papa untuk mengurus semuanya, tapi Papa sesekali juga akan ke sana untuk memeriksa semuanya," ucap Om Alex.
"Kenapa tiba-tiba lo mutusin buat tinggal di sini? dulu aja gak mau soalnya perusahaan lo di London takut ada masalah," tanya Om Zack.
"Duku itu gue rasa perusahaan di London masih banyak kendala dan masalah internal, makanya susah berkembang. Tapi, sekarang semuanya udah mulai lancar dan udah bisa ditinggal makanya gue mutusin buat tinggal di sini, gue juga gak tega kalau ninggalin istri gue sendirian," ucap Om Alex.
"Denger tuh Vel, kasihan loh Mama lo di ruang sendirian eh lo malah milih tinggal di apartemen," ucap Joven.
"Tempat kerja Marvel juga jauh dari rumah, jadi wajar sih kalau Marvel tinggal di apartemen," ucap Om Alex.
"Papa sih milih rumah di pinggiran kota, kan jadi jauh," ucap Marvel.
"Ye, Papa mah udah tinggal di rumah itu sebelum kamu lahir, ya kamulah yang salah kenapa kerjanya jauh dari rumah," ucap Om Alex.
"Lex, biasanya lo jarang banget bicara panjang lebar loh dan sekarang gue denger biacra panjang lo kayak gimana gitu," ucap Om Zack.
"Gimana apanya?" tanya Om Vano.
"Ya, gitulah pokoknya," ucap Om Zack.
"Ck, udah gak usah bahas gue sekarang kita bahas masalah Farel," ucap Om Alex.
"Hah! masalah Farel? emangnya Farel punya masalah apa? kayaknya gak ada masalah apa-apa deh sama Farel?" tanya Farel.
"Ini masalah orang yang udah nuduh Raila mencuri di kantornya dulu," ucap Om Alex.
"Hah! darimana Papa tahu masalah itu kayaknya Farel gak pernah bilang ke siapa-siapa deh?" tanya Farel dan melihat kearah Papa Aaron.
Papa Aaron yang ditatap Farel pun mengangkat bahunya pertanda jika ia juga tidak tahu menahu masalah itu, "Papua juga gak tahu, Papa gak ngasih tahu apa-apa ke Alex kok," ucap Papa Aaron.
Farel lun mengedarkan pandangannya ke para sahabatnya, hingga tatapan tajam Farel tertuju pada seseorang yang sedang mengindari tatapan matanya, Farel lun dapat melihat kegelisahan pada sikap orang itu.
"Cl, punya sahabat ember banget mulutnya, jadi males gue cerita kalau kayak gini," ucap Farel.
"Eh, jangan dong. kalau lo gak cerita kan gue jadi gak tahu apa-apa dong soal gosip," ucap Joven.
__ADS_1
Farel memang sengaja memancing Joven agar mengatakan semuanya sendiri, sebelum Farel yang menanyakannya secara langsung.
"Eh, keceplosan," ucap Joven dan menutup mulutnya.
"Jadi gimana rencana kamu? Papa yakin kamu gak mungkin biarin mereka yang udah nuduh Raila bakal hidup dengan tenang bukan, apalagi sekarang hampir semua orang tahu bagaimana rupa seorang Tuan Zergan," ucap Om Alex.
"Farel udah ada beberapa rencana yang jelas Farel tidak ingin melakukan kekerasan karena menurut Farel itu tidak gentle," ucap Farel.
"Telur apa rencana kamu kalau gak pake kekerasan?" tamat Om Ferdi.
Farel bakal hancurin mental mereka," ucap Farel.
"Menurut Farel orang akan lebih susah bertahan saat mentalnya hancur daripada saya fisiknya hancur karena apa, karena jika fisiknya hancur maka mereka bisa mengobati luka itu. Sedangkan, mental. Mereka akan ketakutan dalam hidup mereka, mereka akan dipenuhi rasa bersalah dan yang terpenting mereka akan mengingat bagaimana terpuruknya mereka dan untuk penyembuhan pun akan sangat sulit," ucap Farel.
"Memangnya kamu udah tahu siapa pelakunya?" tanya Om Vano.
"Iya, Farel udah tahu pelakunya, tapi Farel masih belum tahu motif dari tindakannya itu," ucap Farel.
"Apa dia punya masalah sebelumnya sama Raila?" tanya Marvel.
"Gue juga gak tahu, tapi dari penjelasan Raila. Kayaknya gak mungkin deh dia ada dendam pribadi dengan Raila," ucap Farel.
"Maksudnya?" tanya Joven.
"Ck, jadi saat pelaku ini ngambil uang di ruangan biasnya Raila dulu itu, Raila tidak sengaja melihat dan pergi gitu aja," ucap Farel.
"Itu artinya si pelaku gak tahu kan kalau ia ketahuan sama Raila, tapi kok si pelaku tahu kalau dia udah kepergok sama Raila," ucap Marvel.
"Itu gue juga gak tahu, tapi kalau menurut gue ada orang lain yang ngebantu si pelaku, karena gak mungkin si pelaku tahu kalau dia udah kepergok bukan," ucap Farel.
"Bener kata lo pasti ada yang bantu si pelaku ini," ucap Evan.
"Btw, siapa pelakunya?" tanya Joven.
"Dandi, editor di Gantari grup," jawab Farel.
"Siapa tuh? gak kenal gue," kata Rafka.
"Kayanya lo dulu pernah beberapa kali kerjasama Gantari grup kan, masa lo gak tahu sih sama tuh orang," ucap Joven.
"Ye, kalau gue kerjasama Gantari grup pun juga gak sama dia, gue juga bakal kerjasama sama tim lain," ucap Rafka.
__ADS_1
"Kalau kamu butuh apa-apa langsung hubungin kita loh ya," ucap Om Vano dan diangguki Farel.
.
Setelah percakapan yang panjang sejak tadi, akhirnya semua sahabat dari keluarga Revion pun kembali rumah masing-masing. Untuk Farel dan Raila saat ini kedua pasangan suami istri itu sedang asik bercerita. Lebih tepatnya Raila, padahal ia seharusnya masih marah pada Farel, tapi karena ia sudah tidak betah untuk tidak bercerita pada Farel pun akhirnya dia memutuskan untuk bercerita semua yang ingin ia ceritakan.
Mulai dari obrolannya tadi saat bersama para ibu-ibu yang sangat random, mulai dari membahas saat-saat memalukan para suami-suami dan juga anak-anak mereka masing-masing.
"Kayaknya tadi kamu bahagia banget sampe gak berhenti ketawanya, udah jangan ketawa terus nanti perutnya sakit loh" ucap Farel.
Padahal cerita Raila sudah selesai, tapi Raila tetap tertawa bahkan Raila sampai menangis karena ulahnya sendiri, "Aduh perutku kok sakit sih ish," rintih Raila, dengan memegang perutnya.
"Ck, kan aku udah bilang jangan ketawa terus, jadi kayak gini kan sekarang perutnya sakit," omel Farel.
"Ya, kamu sih doain perutku sakit, kan sekarang jadi beneran sakit," ucap Raila.
"Yaudah iya deh," ucap Farel
"Farel tidak ingin memperpanjang masalah, ia ke ih memilih diam dan mengiyakan saja perkataan Raila. Kalian tahu sendiri bagaimana perempuan itu tidak mau kalah.
"Kalau gitu aku panggil dokter ya kalau emang masih sakit," taco Farel.
"Gak usah aku gapapa kok, ini mah kram biasa cuma gara-gara aku ketawa terus," ucap Raila dan menghapus air matanya.
"Beneran gapapa?" tanya Farel, dapat dilihat dengan jelas jika saat ini Farel benar-benar khawatir dengan Raila.
"Iya, aku gapapa," ucap Raila.
"Oh iya, Rel. Aku denger katanya kamu pernah ke kantor buat jemput aku kan waktu itu, terus kamu tahu aku di pecat dan kamu marah-marah ke semua orang yang ada di sana," ucap Raila, yang kembali teringat akan ucapan Isna.
"Kamu tahu darimana kalau aku marah-marah di kantor kamu?" tanya Farel, karena setahunya ia tidak pernah mengatakannya pada Raila.
"Ada deh," ucap Raila.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1