
Farel terus berusaha menenangkan Raila, "Udah mendingan?" tanya Farel, saat melihat Raila yang melepaskan pelukannya.
"Iya," jawab Raila, dengan menganggukkan kepalanya.
Tok tok tok
"Sayang," panggil Mama Aurel, dari luar kamar.
"Iya, Ma. Masuk," ucap Farel.
Mama Aurel pun masuk ke dalam kamar tersebut, "Ada apa, Ma?" tanya Farel.
"Eh, Menantu Mama udah baikan," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
"Kenapa, Ma?" tanya Farel.
"Nanti aja deh kamu ke kamar Mama sama Papa," ucap Mama Aurel.
"Mama bicara di sini aja, pasti ini masalah keluarga Raila kan," ucap Raila dan tersirat akan kesedihannya.
"Nanti biar Mama bicara sama Farel aja, kamu harus istirahat dan jaga kesehatan kamu," ucap Mama Aurel.
"Gapapa, Ma. Raila juga pengen tahu," ucap Raila.
"Huh, jadi jasad kedua orangtua kamu udah ditemukan," ucap Mama Aurel.
Raila hanya mendengarkan setiap ucapan Mama Aurel, sejujurnya Raila tidak kuat dan ingin berteriak, tapi ia masih menahan dirinya. Raila menutup matanya agar tidak terlihat kesedihannya.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Farel.
"Aku gapapa kok, kalau gitu Raila mau urus pemakaman Mama sama Papa dulu," ucap Raila dan berdiri.
"Kamu gak perlu khawatir, semuanya udah diurus sama anak buah keluarga Revion," ucap Mama Aurel.
Raila menggelengkan kepalanya, "Gak, Ma. Untuk peristirahatan terakhir Papa sama Mama, Raila harus ikut prosesnya," ucap Raila.
"Tapi, sayang. Kamu masih perlu istirahat," ucap Mama Aurel.
"Raila gapapa kok, Ma. Mama gak perlu khawatir," ucap Raila.
"Kakak kamu udah tahu dan dia gak bisa datang untuk saat ini karena tidak ada jadwal penerbangan ke Indonesia untuk hari ini," ucap Mama Aurel.
"Kalau gitu biar Raila yang urus semuanya," ucap Raila.
"Kamu beneran gapapa?" tanya Mama Aurel dan diangguki Raila.
"Biar Raila sama Farel, Ma. Mama gak perlu khawatir," ucap Farel.
"Yaudah, kalau gitu ayo," ucap Raila.
Beberapa saat kemudian, saat ini Raila dan Farel berada di rumah sakit tempat jasad Papa Alvan dan Mama Sena berada. "Kamu yakin mau lihat jasad mereka secara langsung?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Aku mau lihat mereka untuk yang terakhir kalinya, aku gak mau nyesel karena melewatkan kesempatan ini," ucap Raila.
Setelah berjalan dari parkiran menuju kamar mayat, Raila dan Farel pun masuk ke dalam kamar tersebut.
"Nona Raila?" tanya seorang perawat untuk memastikannya.
__ADS_1
"Iya, saya Raila. Saya ingin membawa jasad atas nama Alvan Laksani dan Sena Laksani," ucap Raila.
"Baik, kalau begitu mari saya tunjukan jasad mereka," ucapnya.
"Nomor 7 dan 8 ini adalah kedua jasad atas nama Alvan Laksani dan Sena Laksani," ucapnya.
"Bisa saya buka?" tanya Raila.
"Iya, silahkan," ucapnya.
Raila pun memberanikan diri untuk membuka kain tersebut dan saya membukanya Raila benar-benar terkejut karena tubuh kedua orangtuanya yang tidak lengkap dan hanya wajah mereka yang masih dapat terlihat. Jika saja wajah mereka hancur seperti tubuh mereka, maka dapat Raila pastikan ia tidak akan mengenali Papa Alvan dan Mama Sena.
"Rel, ini Papa sama Mama, hiks ... hiks," ucap Raila, yang tidak bisa menahan tangisannya.
"Jangan nangis sayang, kalau kamu nangis nanti Papa sama Mama gak tenang di sana," ucap Farel.
.
Saat ini Raila berada di makam Papa Alvan dan Mama Sena, Raila sengaja tidak mengkremasi jasad Papa Alvan dan Mama Sena meskipun tubuh keduanya hancur, karena Raila takut akan menyakiti Papa Alvan dan Mama Sena yang sudah tenang di surga.
"Sayang, ayo pulang kamu daritadi di sini loh. Padahal ini udah mulai malam," ucap Mama Aurel.
"Papa sama Mama gak ada, Ma. hiks ... hiks," ucap Raila.
"Mama tahu kamu pasti sedih, tapi kamu gak boleh terpuruk dalam kesedihan bagaimanapun kedua orangtua kamu udah bahagia di surga, nanti kalau dia melihat kamu yang sedih kayak gini pasti mereka juga ikut sedih dan gak tenang di surganya," ucap Mama Aurel.
"Kita pulang ya," ajak Farel.
"Pa, Ma. Raila pulang dulu ya, Raila janji Raila bakal sering ke sini dan Raila bakal buat kalian bahagia di surga," ucap Raila dan memeluk makam kedua orangtuanya.
"Ayo sayang," ajak Mama Aurel.
Raila tidak tahu saja jika penyebab kedua orangtuanya meninggal adalah pria yang berada di sampingnya yakni Farel suaminya sendiri.
## Flashback Off ##
Malam hari setelah Farel dan Raila mengunjungi kedua orangtua Raila di kediamannya, Farel diam-diam keluar dari kamar dan menuju taman belakang. Sebelumnya ia sudah menghubungi Evan untuk menemuinya dan benar saja saat di taman belakang Farel dapat melihat Evan di sana.
"Kenapa lo mau ketemu sama gue malam-malam kayak gini?" tanya Evan.
"Gue pengen balas dendam," ucap Farel.
"Hah! balas dendam sama siapa?" tanya Evan.
"Orangtuanya Raila," ucap Farel.
"Lo masih marah gara-gara mereka ngehina lo dulu?" tanya Evan.
"Ya, itu salah satunya, lo tahukan kalau gue orangnya susah buat memaafkan dan dengan seenaknya mereka minta maaf dan gue mau maafin mereka cuma karena Papa nya radial sakit, gue gak gitu orangnya. Kalau Papa nya Raila sakit malah lebih mudah buat gue balas dendam," ucap Farel.
"Apa yang bakal lo lakuin sama mereka? lo mau jatuhin Laksani grup juga sebenarnya gak bakal berdampak ke mereka karena mereka aja gak dianggap sama Laksani?" tanya Evan.
"Buat rekayasa kecelakaan," ucap Farel, yang tentunya membuat Evan terkejut dan menatap Farel.
"Rekayasa kecelakaan? maksud lo apa?" tanya Evan.
"Buat seolah orangtuanya Raila meninggal karena kecelakaan," ucap Farel.
__ADS_1
"Lo mau bunuh mereka?" tanya Evan.
"Hem."
"Tapi, Raila nanti sedih gimana? gue yakin Raila pasti udah maafin kedua orangtuanya," tanya Evan.
"Jangan urusi Raila, soal Raila biar gue yang ngurus semuanya. Tugas lo cuma buat gimana seolah-olah kedua orangtuanya Raila meninggal karena kecelakaan," ucap Farel.
"Sekarang kita harus cari cara supaya mereka keluar rumah bukan, supaya rekayasa kecelakaan berjalan dengan lancar," ucap Evan.
"Sehari setelah perayaan ulang tahun pernikahan Papa sama Mama, orangtua Raila bakal gue kirim ke luar negeri untuk pengobatan Papa nya Raila," ucap Farel dan mengeluarkan smirknya pada Evan.
"Huh, oke gue paham maksud lo, gue bakal urus semuanya. Lo gak perlu khawatir soal ini," ucap Evan.
"Gue percaya sama lo, lo udah pernah ngurus hal kayak gini sama Joven bukan," ucap Farel.
"Hem."
"Tapi, gue harap lo diem dan gak bilang ini ke siapapun baik itu ke Papa gue atau ke Joven, Rafka sama Marvel. Gue harap yang tahu soal ini cuma lo sama gue," ucap Farel.
"Gue tahu dan lo bisa percaya sama gue, gue gak bakal bilang hal ini ke siapapun," ucap Evan.
"Bagus, kalau gitu gue tunggu kabar perkembangannya," ucap Farel.
"Tentu, tapi tunggu kalua sehari setelah perayaan ulang tahun pernikahan Papa sama Mama lo, artinya itu hati dimana lo harusnya pindah ke Belanda kan," ucap Evan.
"Hem," jawab Farel.
"Berarti lo gak bakal pindah dong soalnya kan hari itu tepat kabar kematiannya orangtunya Raila?" tanya Evan.
"Gue bakal tetep pindah, tapi nunggu beberapa setelah kecelakaan mereka," ucap Farel.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Mama Aurel.
"Mama." Farel dan Evan benar-benar terkejut dan was-was karena takut Mama Aurel mendengar pembicaraan mereka.
"Mama daritadi di sini?" tanya Farel.
"Gak kok, baru aja Mama ke sini. Kalian kenapa ada di sini malam-malam kayak gini?" tanya Mama Aurel.
"Gapapa kok, Ma. Ada urusan pekerjaan aja, oh iya Mama denger pembicaraannya Farel sama Evan?" tanya Farel.
"Mama gak denger sih, orang kalian ngomongnya pelan banget mana denger Mama," ucap Mama Aurel dan diangguki Farel maupun Evan.
"Udah malam kalian masuk tidur," ucap Mama Aurel.
"Siap, Ma," ucap Farel dan Evan.
"Lo harus pastiin rencana balas dendam gue berjalan dengan lancar," ucap Farel dan diangguki Evan.
## Flashback Off ##
.
.
.
__ADS_1
Tbc.