Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Jadi Asisten Pribadi


__ADS_3

Pagi harinya Raila dikejutkan dengan kabar mengenai Gantari grup yang menerima banyak hujatan dan kebencian dari masyarakat hal itu dapat dilihat melalui sosial media mereka.


Raila yang penasaran pun membuka ponselnya dan melihat sosial media kantor tempatnya dulu bekerja, Raila dapat melihat segala hujatan dan kalian dari para pengguna media sosial, "Ini kenapa kayak gini? emangnya mereka lagi ada masalah apa?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


Saat Raila sedang mencari informasi mengenai permasalahan yang sedang dihadapi Gantari grup tiba-tiba saja seseorang meneleponnya. Raila mengerutkan keningnya karena ia tidak mengenal nomor telepon tersebut.


"Ini siapa?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


Raila tidak mengangkat sambungan telepon tersebut hingga ponselnya berhenti bergetar dan beberapa saat kemudian nomor tersebut kembali muncul di layar ponsel Raila. Karena penasaran akhirnya Raila pun mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Good job, lo udah berhasil buat seorang Zergan bertekuk lutut sama lo," ucap seorang perempuan.


"Ini siapa ya?" tanya Raila.


"Lo gak perlu tahu gue siapa yang jelas lo udah berhasil buat Zergan keluar dari persembunyiannya, gue bakal kasih lo hadiah karena lo, akhirnya gue tahu Zergan," ucapnya.


"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda," ucap Raila.


Batu saja akan mematikan sambungan telepon tersebut, tiba-tiba perempuan tersebut kembali mengatakan sesuatu yang membuat Raila menghentikan niatnya untuk memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Lo harus segera kasih tahu Zergan jika Nerakanya sebentar lagi akan datang menjemputnya," ucapnya.


"Nerakanya? maksudnya apa sih? siapa nerakanya Farel?" tanya Raila.


"Oh, jadi mama samarannya itu Farel," ucapnya.


"Kenapa anda tahu soal samaran Farel?" tanya Raila.


"Lo tanya ke Farel sendiri yang jelas lo harus kasih tahu ke suami lo bawah orang yang dia tunggu-tunggu sebentar lagi akan datang," ucapnya dan memutuskan sambungan telepon tersebut.


Setelah mendapatkan telepon tersebut, Raila terus teringat perkataan perempuan yang tadi menelponnya, "Nerakanya Farel? maksudnya apa sih?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


Saat Raila sedang memikirkan mengenai penelpon tadi, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamarnya dan hal tersebut itu tentu saja membuat Raila kaget.


"Sayang, kamu kemana aja?" tanya Mama Aurel.

__ADS_1


"Maksud Mama apa, orang daritadi Raila di kamar kok," kata Raila.


"Farel daritadi itu coba nelpon kamu, tapi gak kamu angkat terus dia udah ngirim pesan ke kamu dan gak kamu bales, makanya Farel nelpon Mama buat manggil kamu," ucap Mama Aurel.


"Oh, mungkin Raila tadi masih di kamar mandi makanya Raila gak tahu kalau Farel nelpon Raila," ucap Raila dan diangguki Mama Aurel.


"Kalau gitu Mama cuma mau sampein pesan dari Farel tadi, katanya kamu disuruh ke Gantari grup secepatnya," ucap Mama Aurel.


"Hah! tapi buat apa Raila ke Gantari grup? Raila kan udah gak kerja di sana lagi," ucap Raila.


"Mama juga gak tahu, tadi Farel nelpon cuma nyuruh Mama sampein itu doang," ucap Mama Aurel.


"Yaudah, kalau gitu Raila mau siap-siap dulu ya, Ma," ucap Raila.


"Iya, kamu juga setelah ini turun ke bawah buat sarapan," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.


Setelah Mama Aurel keluar dari kamar, Raila pun mulai bersiap-siap, namun selama bersiap-siap Raila merasa ada hal yang tidak ia tahu dan hal itu tentunya membuat Raila penasaran.


"Kenapa Farel nyuruh aku ke Gantari? apa jangan-jangan semua ini ada sangkut pautnya sama Farel?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


Ya, Farel memang sudah berangkat sejak pagi buta, bahkan Raila saja masih tidur. Farel tadi sempat pamitan pada Raila karena Raila merasa terganggu dengan Farel yang terus saja mengecupi seluruh wajahnya.


Saat ditanya pun Farel hanya menahan ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Raila yang tahu bagaimana sibuknya Farel pun hanya mengiyakan saja dan membiarkan Farel pergi.


Raila selesai bersiap-siap dan setelah itu Raila pun keluar kamar dan menuju meja makan, di sana ternyata ada Lea yang sedang asik mengoleskan selai kacang ke rotinya.


"Kakak, hari ini Kak Farel nyuruh Lea untuk nemenin Kak Raila, jadi khusus hari ini Lea bakal jadi asisten pribadi Kak Raila," ucap Lea, dengan semangat.


"Hah! kenapa Kakak harus di temenin? Kakak udah gede kali gak usah kamu temenin" kata Raila.


"Tapi, kata Kak Farel, Lea harus nemenin Kak Raila, kalau gak nanti vitaminnya Lea diambil sama Kak Farel," ucap Lea.


Raila lupa jika adik iparnya itu sangat muda di bujuk, hanya dengan dikasih vitamin saja Lea sudah mengiyakan apapun yang diperintahkan Farel.


"Emangnya berapa Kakak kamu ngasih vitaminnya?" tanya Raila, yang penasaran jumlah vitamin Lea.

__ADS_1


"10 juta Kak," ucap Lea, dengan santai.


"Hah! banyak banget, padahal kamu cuma nemenin Kakak doang loh, tapi vitaminnya sampe 10 juta," ucap Raila.


Raila tidak habis pikir dengan Farel yang suka menghambur-hamburkan uangnya, padahal masih ada hal lain yang lebih penting daripada tindakan gak jelas Farel.


"Kan Kak Farel minta Lea buat seharian nemenin Kak Raila makanya vitaminnya juga banyak, kalau cuma sebentar ya mungkin vitaminnya gak sampe segini, tapi ini juga udah Raila diskon Kak Farel," ucap Lea.


"Apa coba pake diskon segala, kamu pikir kami lagi jualan apa sampe di diskon segala," ucap Raila.


"Iya dong, Kak. Kita itu hidup harus bisa mencari kesempatan untuk menghasilkan pundi-pundi uang," ucap Lea.


"Kakak bingung sama kamu, Le. Padahal kamu dari keluarga yang berada bahkan Kakak yakin uang di kartu kredit kamu gak akan habis walaupun kamu beli rumah, mobil dan barang-barang bermerek lainnya, tapi kenapa kamu suka banget cari kesempatan buat menghasilkan uang?" tanya Raila.


"Kak Raila bener, sebenarnya Lea gak usah minta ke Papa atau pun ke Kak Farel pun Lea udah uang, tapi Lea pengen aja gitu uang yang ada di kartu kredit Lea nanti buat masa depan Lea. Kita gak ada yang tahu nantinya Lea bakal masih bisa hidup berlimpah harta kayak gini atau gak, Lea hanya mengantisipasi saja. Lagi pula karena sekarang Lea masih ada Papa sama Kak Farel yaudah Lea harus maksimalkan itu, sebelum nantinya Lea harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan Lea sendiri," ucap Lea.


Raila yang mendengarnya merasa kagum, bagaimana bisa Lea memiliki pemikiran seperti ini, "Kamu keren Kakak sampe kagum loh," ucap Raila.


"Iya dong, Lea gituloh. Kalau gitu sekarang kita Lea bakal jadi asisten pribadinya Kak Raila," ucap Lea.


"Harus dong kan kamu udah dapet vitamin," ucap Raila.


"Ma, Raila sama Lea pamit dulu ya," pamit Raila, pada Mama Aurel yang baru saja datang.


"udah selesai sarapannya?" tanya Mama Aurel dan diangguki Raila dan Lea.


"Yaudah, kalau gitu hati-hati ya," ucap Mama Aurel dan keduanya kembali menganggukkan kepalanya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2