Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Lupain Semuanya


__ADS_3

"Lo juga pasti tahulah kalau suami lo itu sayang banget sama lo dan kayaknya dia rela bertaruh nyawa selama lo baik-baik aja, dalam hubungan suami istri itu lo harus bersikap lebih dewasa jangan kekanak-kanakan. Ada masalah langsung minta pisah atau pergi kalau lo masih pacaran sih gak masalah, tapi ini beda," ucap Marvel.


"Makasih Vel, gue jadi ngerasa bersalah sama Farel. Selama ini gue kayak gak ngertiin dia sebagai suami gue," ucap Raila.


"Ucapan gue itu bukan hanya buat lo, tapi juga buat Farel. Kalau emang lo udah ngerti maksud dari ucapan gue sih yaudah kalau gitu gue pergi dulu," ucap Marvel.


Marvel pun pergi meninggalkan Raila yang sedang berpikir keras dengan semua yang dibicarakan Marvel tadi, "Kenapa di sini?" tanya Mama Aurel.


"Loh, Mama bukannya tadi di kamar," ucap Raila.


"Iya, terus Mama haus dan pas mau ambil minum, Mama lihat kamu di sini," ucap Mama Aurel.


"Kenapa sayang?" tanya Mama Aurel.


"Gapapa kok, Ma. Raila cuma pengen di sini aja," ucap Raila.


"Kamu lagi gak ada masalah sama Farel kan?" tanya Mama Aurel.


"Gak ada sama sekali, Ma.? Mama kayak gak tahu Farel aja masalah dikit dia pasti langsung nyelesain semuanya ya gak semuanya sih," ucap Raila.


"Mama denger kemarin kamu marah ke salah satu pegawai kantor Farel ya?" tanya Mama Aurel.


"Iya, Ma. Maafin Raila yang gak dewasa dalam menyikapi semuanya, Raila yakin pasti Farel malu kalau harus bawa Raila lagi ke kantor," ucap Raila.


"Kenapa gitu? Farel gak pernah malu sayang lagian nih ya apa yang kamu lakukan itu udah bener kok, Mama juga pasti marahlah kalau seandainya Mama dibanding-bandingkan sama perempuan yang menyukai pasangan Mama," ucap Mama Aurel.


"Loh, Mama tahu masalahnya?' tanya Raila dan diangguki Mama Aurel.


"Kedua perempuan itu udah mengakui semuanya dan dia juga sangat menyesal, tapi peraturan perusahaan tetaplah peraturan dan harus di lakukan," ucap Mama Aurel.


"Emangnya ada peraturannya, Ma?" tanya Raila.


"Gak ada sih, tapi kan Farel itu peraturan perusahaan, jadi apapun yang dikehendaki Farel maka itu adalah peraturan di perusahaan," ucap Mama Aurel.


"Mereka dikasih hukuman sama Farel?" tanya Raila.


"Iya," jawab Mama Aurel.


"Apa, Ma?" tanya Raila.


"Mereka dipecat," ucap Mama Aurel.


"Bukannya itu berlebihan ya Ma kalau sampai mereka di pecat lagian nih ya Ma pasti mereka juga salah satu tulang punggung keluarga dan kalau mereka dipecat gimana caranya mereka memenuhi kebutuhan keluarga mereka," ucap Raila.


"Itu sudah keputusan Farel sayang," ucap Mama Aurel.


"Semoga aja merek segera dapat pekerjaan lagi," ucap Raila.


"Mama gak yakin mereka bakal dapat pekerjaan yang lagi apalagi di perusahaan besar," ucap Mama Aurel.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Raila.


"Karena mereka dipecat dari perusahaan yang dimiliki keluarga Revion secara tidak hormat, jadi akan sulit bagi mereka untuk mencari pekerjaan yang gajinya diatas UMR," ucap Mama Aurel.


"Kasihannya mereka, apa gak bisa Farel buat batalin semuanya aja, Ma? terus Farel kerjakan lagi mereka berdua?" tanya Raila.


"Farel gak pernah menerima kembali karyawan yang udah dia pecat," ucap Mama Aurel.


"Radial jadi ngerasa bersalah sama mereka berdua, gara-gara radial mereka jadi gak punya pekerjaan," ucap Raila.


"Kamu gak salah sama sekali sayang. Itu semua udah takdir mereka lagipula ini juga karena kecerobohan mereka yang membicarakan kamu," ucap Mama Aurel.


.


Setelah berbincang dengan Mama Aurel tadi, Raila memutuskan untuk kembali ke kamar, baru saja Raila menutup pintu tiba-tiba pintu kamar tersebut kembali terbuka dan memperlihatkan suaminya.


"Loh, kok udah pulang perasaan kamu baru berangkat deh?" tanya Raila.


"Masa sih kayaknya aku udah lama deh keluarnya," ucap Farel.


"Nenek juga udah pulang?" tanya Raila.


"Nenek nunggu ibunya Tante Calista di rumah sakit," ucap Farel.


"Ibunya Tante Calista itu sakit apa? katanya dia gangguan jiwa, tapi kok dirawat di rumah sakit umum," tanya Raila.


"Aku juga gak tahu, tapi dokter bilang kalau ibunya Tante Calista harus di rawat di rumah sakit umum," ucap Farel dan diangguki Raila.


## Flashback On ##


Farel saat ini berada di rumah sakit tempat Bu Hana, ibunya Tante Calista di rawat bersama Nenek Vina dan Papa Aaron.


"Itu dia," ucap Nenek Vina.


"Ternyata dia sangat memprihatikan dengan banyak alat bantu," ucap Nenek Vina.


"Nenek ingin masuk?" tanya Farel.


"Iya, Nenek ingin melihat dia secara langsung," ucap Nenek Vina.


Mereka pun masuk ke dalam ruang inap tersebut dengan dokter tentunya, "Ini kenapa dia begini, dok?" tanya Nenek Vina.


"Jantung yang dimiliki pasien bermasalah dan yang lebih parahnya setiap pasien bangun maka dia akan berniat untuk bunuh diri, jadi kami membiusnya hingga tidak sadarkan diri," ucap Dokter.


"Apa dia bisa sembuh?" tanya Nenek Vina.


"Kemungkinannya sangat tipis bahan sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa pasien dapat sembuh," ucap Dokter.


"Hana, ini aku," ucap Nenek Vina dan menghampiri Hana.

__ADS_1


Dokter hanya melihat apa yang dilakukan oleh Nenek Vina dan pandangannya tertuju pada Farel dan menganggukkan kepalanya sayang secara tidak langsung menyuruh dokter untuk melakukan apa yang harusnya dilakukan.


"Apa anda ingin berbicara dengan pasien?" tanya Dokter.


"Iya," ucap Nenek Vina dengan semangat.


"Kalua begitu anda harus menunggu kurang lebih 1 jam lagi, maka pasien akan sadar," ucap Dokter dan diangguki Nenek Vina.


Setelah menunggu kurang lebih 1 jam akhirnya Hana bangun dan Nenek Vina pun segera menghampiri Hana dengan pengawasan dokter, Farel dan Papa Aaron.


"Hana," panggil lirih Nenek Vina.


"Vina," panggil Hana, yang tak kalah lirih dari Nenek Vina.


"Apa kabar?" tanya Nenek Vina, dengan pelan lalu memegang dan mengusap lembut tangan Hana.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Nenek Vina, Hana justru meneteskan air matanya dan memalingkan wajahnya dari Nenek Vina, "A ... aku sakit, ya seperti yang kamu lihat," ucap Hana.


"Kenapa kamu gak ngelihat aku?" tanya Nenek Vina.


"Aku terlalu malu buat tatap kamu, Vin. Aku banyak kesalahan sama kamu," ucap Hana.


"Aku udah lupain semuanya, lagipula sekarang pria itu sudah tidak ada. Aku tidak ingin memiliki dendam pada siapapun," ucap Nenek Vina.


"Tapi, aku gak bisa, rasa bersalahku terlalu besar untuk aku bisa ngelupain semuanya. Seandainya aku gak datang ke hubungan kalian, aku pasti saat ini memiliki pasangan hidup yang lebih baik dan ada bersamaku dan aku gak akan kayak gini, hiks ... hiks, aku memang pantas mendapatkan hukuman ini," ucap Hana.


"Aku udah maafin semuanya, jangan lagi berpikiran kayak gitu," ucap Nenek Vina.


"Kamu lihat kondisiku, dengan kondisi seperti ini kamu pikir aku bisa apa? gak ada! aku gak bisa apa-apa!" bentak Hana.


"Bu, sepertinya emosi pasien mulai tidak terkontrol," ucap Dokter.


"Nenek, ayo kita pulang. Kapan-kapan kita ke sini lagi," ajak Farel.


"Nenek hari ini di sini aja, kalian berdua bisa pulang," ucap Nenek Vina.


"Tapi, Nek ... ," ucapan Farel terhenti lantaran Nenek Vina menyelanya.


"Gapapa, kan ada pengawal," ucap Nenek Vina.


Mau tidak mau Papa Aaron dan Farel pun mengizinkan Nenek Vina untuk tetap berada di sini.


## Flashback Off ##


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2