
Setelah acara hari biru Farel, Raila pun memutuskan akan menunda apa yang harusnya ia katakan yakni mengenai hubungan mereka berdua, "Kamu istirahat aja dulu," ucap Farel dan diangguki Raila.
Farel terus menatap lekat wajah cantik Raila hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, Farel pun berjalan dan membuka pintu tersebut, "Mama, kenapa bisa di sini?" tanya Farel.
"Mama pengen lihat menantu Mama, gimana keadaannya?" tanya Mama Aurel.
"Raila baik-baik aja kok, sekarang dia udah tidur," ucap Farel.
"Kalau gitu kita ke kamar sebelah ada yang perlu Mama bicarain sama kamu," ucap Mama Aurel.
.
Farel saat ini berada di salah satu kamar yang ada di hotel tersebut, "Ada apa, Ma?" tanya Farel.
"Rel, Mama rasa kamu harus segera tunjukin identitas kamu, kamu mau istri mau di perlakukan seperti tadi, Mama gak habis pikir sama oran itu kenapa dia sampai kayak gitu ke Raila, pokoknya kamu harus ngelakuin sesuatu, Rel," ucap Mama Aurel.
"Sebenarnya Farel gak pengen identitas Farel di tunjukin, tapi bener kata Mama setelah kejadian Raila yang di hina bahkan sampai di dorong kayak tadi buat Farel sadar kalau bisa saja hal-hal buruk akan menimpa Raila," ucap Farel.
"Mama, tahu kalau kamu itu udah nyaman dengan identitas kamu, tapi kamu harus lihat Raila juga, Kan," ucap Mama Aurel.
"Iya, Ma. Farel akan secepatnya bilang semuanya ke Raila terus nanti Farel akan mulai balas dendam terhadap semua orang yang udah buat Raila terluka bahkan sedih," ucap Farel.
"Bagus memang itu sudah seharusnya," ucap Mama Aurel.
"Papa masih belum pulang dari Australia?" tanya Farel.
"Belum, Papa kamu mungkin besok baru pulang," ucap Mama Aurel.
"Tapi, tunggu kenapa Mama bisa tahu kalau Farel sama Raila ada di kos tadi?" tanya Farel.
"Kamu lupa siapa Mama, Mama tinggal suruh Joven udah selesai," ucap Mama Aurel.
"Dasar anak itu," gumam Farel.
Saat Farel dan Mama Aurel tengah berbicara santai tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, "Gak bisa ketuk pintu dulu apa," ucap Farel dengan kesal.
"Maaf, Tuan. Tapi, Nona Raila saat ini sedang berteriak di dalam kamar saya tidak apa yang harus saya lakukan sebab itu saya langsung masuk ke dalam, sekali lagi maafkan saya Tuan," ucap pengawal tersebut.
"Raila, teriak!' pekik Farel lalu keluar dari kamar tersebut dengan panik dan menuju kamar hotelnya.
Farel segera masuk dan melihat Raila yang berada dibatas ranjang dengan berteriak kesakitan, "Sayang, kenapa?" tanya Farel dan menghampiri Raila.
__ADS_1
"Sa - sakit, Rel!" teriak Raila.
"Kenapa, Rel?" tanya Mama Aurel yang tak kalah panik dengan Farel.
"Gak tahu, Ma. Kata Raila sakit, tapi Farel gak tahu yang mana yang sakit," ucap Farel yang memegang lengan Raila dan mengusapnya dengan lembut.
"Sayang, kamu kenapa nak? mana yang sakit bilang ke Mama?" tanya Mama Aurel dengan lembut.
"Perut Raila sakit, Ma," ucap lirih Raila.
"Ma, darah!" pekik Farel saat melihat pada seprei putih hotel tersebut sebuah darah.
"Darah, apa Raila hamil?" tanya Mama Aurel.
"Iya, Ma," ucap Farel.
"Astaga! Farel kenapa kamu ga bilang Mama, sekarang cepat kamu bawa Raila ke rumah sakit sebelum nyawa anak kamu gak bisa selamat," ucap Mama Aurel dan diangguki Farel.
Dengan cepat Farel menggendong Raila dan menuju rumah sakit terdekat bersama Mama Aurel tentunya.
Raila saat ini sedang ditangani oleh dokter, "Semoga Raila dan cucu Mama baik-baik aja," ucap Mama Aurel yang menenangkan Farel.
Farel tidak menjawab apapun, ia terlalu kalut dengan keadaan Raila. Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruang tersebut, Farel segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Raila.
"Keadaan istri anda saat sudah membaik, tapi kondisi pasien tadi benar-benar memprihatinkan, jadi kamu tidak bisa menyelamatkan anak yang sedang di kandung istri anda, kandungannya sangat lemah sepertinya istri anda tidak mengkonsumsi vitamin untuk ibu hamil dan beberapa kali mengkonsumsi makanan yang dilarang untuk ibu hamil, jadi kami sebagai dokter tidak bisa berbuat apa-apa," ucap dokter tersebut.
Ucapan dokter tersebut mampu membuat pertahanan Farel runtuh, matanya memanas dan akhirnya cairan yang ia tahan pun jatuh sendiri membasahi pipinya. Mama Aurel yang mendengarnya pun tak kuat menahan tangisnya apalagi saat melihat Farel yang menangis.
"Apa saya menemui istri saya?" tanya Farel.
"Silahkan, kalau begitu saya permisi," ucap dokter tersebut lalu pergi.
Farel pun masuk ke dalam kamar inap Raila dan melihat Raila yang sedang menatap atap, "Sayang, ada yang sakit gak?" tanya Farel dengan lembut.
Farel tahu bukan hanya ia yang sedih karena kehilangan anaknya, tapi juga Raila apalagi selama Raila hamil ia harus bekerja keras tanpa sepengetahuan Farel yang dengan tega meninggalkannya.
Raila tidak menjawab pertanyaan Farel dan ia masih dalam posisi awalnya, "Sayang, kamu mau makan apa biar aku beliin?" tanya Farel lagi.
"Kalau kamu udah gak kuat sama aku, kamu boleh cerain aku kok, aku gapapa," ucap Raila.
"Sayang, aku gak akan pernah cerain kamu apapun itu alasannya, aku sayang kamu, Rai," ucap Farel.
__ADS_1
"Aku udah buat anak kita gak ada, jadi aku gak pantes lagi buat kamu, Rel. Harusnya kamu tahu itu, aku ini seorang pembunuh, aku udah bunuh anak aku sendiri, hiks hiks hiks," ucap Raila yang tidak dapat menahan tangisannya.
"Gak Raila, kamu gak salah. Di sini aku yang salah karena gak bisa jaga kalian, kamu jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri ya, anggap ini ujian dari Tuhan karena Tuhan sayang sama kita," ucap Farel yang memeluk Raila dan menenangkan istrinya itu.
Setelah di rasa Raila mulai tenang Farel pun melepaskan pelukan tersebut dan menatap wajah Raila yang bengkak karena menangis, "Wajah kamu bengkak kayak gini aja cantik banget, Rai," gooda Farel.
"Apa sih gak jelas," ucap Raila yang membuat mereka berdua tertawa.
Farel senang karena Raila masih bisa tertawa meskipun tidak seperti sebelumnya.
"Menantu kesayangannya Mama," panggil Mama Aurel yang baru saja masuk.
"Mama," panggil Raila.
"Mama kangen banget sama kamu," ucap Mama Aurel yang memeluk Raila.
Raila pun tersenyum karena mendapat mertua yang sangat menyayangi Raila bahkan orangtuanya tidak pernah memeluk Raila dengan sayang yang ada di otak mereka hanya uang uang dan uang.
"Ada yang sakit gak?" tanya Mama Aurel.
"Gak ada kok, Ma. Mungkin cuma agak ngilu, tapi Raila masih bisa tahan kok," ucap Raila.
"Perlu aku panggilan dokter gak?" tanya Farel yang khawatir saat mendengar jika Raila merasakan ngilu.
"Gak usah, aku gapapa kok lagian gak terlalu juga," ucap Raila dan diangguki Farel.
"Ma," panggil Raila.
Mama Aurel pun melepaskan pelukan tersebut dan melihat ke arah Raila, "Ada apa sayang?" tanya Mama Aurel.
"Maafin, Raila ya," ucap lirih Raila.
"Maaf kenapa?" tanya Mama Aurel.
"Karena Raila gak bisa jaga cucu Mama," ucap Raila.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.