
Raila pun menarik tangan Farel. Namun, baru beberapa langkah saja Angel sudah berbicara kembali dan membuat Raila menghentikan langkahnya.
"Bokap lo lagi sakit, lo mau mau jenguk apa," ucap Angel.
Raila membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Angel, "Gue udah gak punya keluarga asal lo tahu," ucap Raila.
"Cuma gara-gara suami lo, lo sampe ngelupain keluarga lo sendiri," ucap Angel.
"Asal lo tahu mereka sendiri yang ngusir gue. Mereka sendiri yang buang gue dan lo bilang gara-gara suami gue. Semuanya itu gara-gara mantan keluarga gue yang gila harta," ucap Raila.
"Harusnya lo membalas kebaikan mereka selama ini, lo harusnya bersyukur karena dilahirin ke dunia ini," ucap Angel.
"Gue gak pernah minta ke mereka buat dilahirin, mereka yang mutusin buat ngelahirin gue, gue pengen punya orangtua kayak temen-temen gue. Orangtua yang selalu ngedukung gue, orangtua yang selalu nanyain keadaan gue, tapi orangtua gue gak kayak gitu. Mereka ngedukung gue kalau itu menguntungkan bagi mereka dan mereka nanya keadaan gue karena mereka takut uang berjalannya hilang!" terima Raila dan mulai berkaca-kaca.
Farel yang melihatnya pun langsung mengusap pundak Raila ingin membuatnya tenang, "Lo kalau mau bicara itu dipikirin dulu, gue selalu sabar dengan tindakan keluarga gue sendiri karena gue masih menghargai status yang namanya keluarga, tapi setelah gue di keluarin bahan gue di hina sama keluarga sendiri dan gue masih nganggep kalian keluarga gitu, gak akan. Setelah gue di usir dari rumah disitulah gue nganggep kalau gue udah gak punya keluarga!" lanjut Raila.
"Tapi, gimanapun orangtua lo yang selama ini merawat lo," ucap Angel.
"Jadi, kalian mau minta imbalan karena telah ngerawat gue gitu. Ck, kalau tahu gitu harusnya mereka gak perlu lahirin gue ke dunia ini," ucap Raila.
"Rai! lo udah keterlaluan ya! kalau orangtua lo tahu lo ngomong kayak gitu, gue yakin mereka pasti sakit hati dan sedih!" teriak Angel.
"Lo mikirin perasaan mereka karena gue ngomong kayak gitu! sekarang gue tanya keluarga gue termasuk lo, pernah gak mikirin perasaan gue?" tanya Raila dan membuat Angel bungkam.
"Gak kan, jadi lo jangan ngajarin gue gimana cara mikirin perasaan orang kalau lo sendiri orang yang belum bisa mikirin perasaan orang," ucap Raila.
"Udah Rel, kita pergi aja. Aku bener-bener nyesel karena pergi ke sini, niatnya mau nenangin pikiran, tapi malah ketemu sama setan," ucap Raila, lalu pergi meninggalkan Angel dan juga Farel.
Farel menatap kepergian Raila lalu tatapannya berlatih pada Angel, "Saya tidak akan tinggal diam karena kamu membuat istri saya sedih, tunggu tanggal mainnya," ucap Farel lalu pergi meninggalkan Angel dan berlari mengejar Raila.
Farel melihat Raila yang sedang duduk kursi dekat parkiran, "Kenapa hm?" tanya Farel, saat melihat Raila yang meneteskan air matanya.
"Aku tadi keterlaluan ya sampe bilang kalau aku gak nganggep orangtuaku?" tanya Raila.
"Gak sayang, aku tahu kamu pasti emosi kan kalau bahas masalah keluarga kamu," ucap Farel dan diangguki Raila.
__ADS_1
"Kapan-kapan mau jenguk orangtua kamu?" tanya Farel.
"Tapi, aku kecewa sama mereka. Aku gak mau ketemu sama mereka," ucap Raila.
Farel pun memeluk Raila, "Iya, aku tahu kok kalau kamu kecewa sama mereka dan gak mau ketemu sama mereka, tapi kamu tadi denger kata Angel kan kalau Papa kamu sakit. Kamu emangnya gak mau ketemu sama Papa kamu?" tanya Farel.
Meskipun Raila membenci keluarganya. Namun, saat mendengar jika Papa Alvan sakit entah perasaan dari mana Raila juga merasakan sakit di dadanya rasanya ia ingin menangis saja.
"Tapi, kau tadi bilang gak mau ketemu sama mereka dan gak mau tahu soal mereka," ucap Raila.
"Gapapa, kita cuma anu jenguk orang sakit kok," ucap Farel.
"Kalau mereka gak mau Raila datang gimana?" tanya Raila.
"Kita usaha dulu ya, baru setelah itu kita pikirin lagi," ucap Farel.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Farel.
"Gak tahu," ucap Raila.
"Mau balik ke pantai tadi?" tanya Farel.
"Yaudah, kalau gitu mau kemana?" tanya Farel.
"Kita jalan-jalan ke bazar aja, setahuku hari ini ada bazar di deket sini deh," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu kita ke sana," ucap Farel.
Mereka berdua pun menilai sepeda motor milik Farel dan menuju tempat bazar, beberapa saat kemudian Farel dan Raila pun sampai di tempat bazar.
"Wah! rame banget tempatnya, aku gak pernah loh ke tempat kayak gini," ucap Raila.
"Ayo kita masuk ke dalam pasti seru," ajak Farel dan diangguki Raila.
Mereka berdua pun masuk ke dalam dan benar saja di dalam bukan hanya terdapat pada penjual makanan, tapi juga beragam permainan menarik, "Ayo kita main itu," ajak Raila, dengan menunjuk permainan penembak.
__ADS_1
Raila benar-benar terlarut dalam setiap permainan yang ia mainkan, bukan hanya sekali Raila memainkan setiap permainan. Tapi, lebih dari 3 kali, Raila terus memainkan permainan tersebut sama dia menang atau lelah.
Setelah bermain beberapa permainan yang ada di sana Raila akhirnya lelah dan mengistirahatkan tubuhnya. Sedangkan, Farel saat ini membeli makanan untuknya dan juga Raila.
Farel pun menghampiri Raila dan membawa beberapa makanan dan juga cemilan tak lupa dengan minuman sekaligus, tentunya Farel di bantu oleh pegawai di sana.
"Wah! banyak banget makanannya," ucap Raila, yang menatap makanan id depannya dengan mata berbinar-binar.
"Iya dong, aku tahu kamu pasti laper kan daritadi main terus sampe lupa makan, padahal ini udah mau sore loh," ucap Farel.
"Abisnya seru banget sih mainannya, aku dulu itu pengen banget ke tempat kayak gini, tapi ya gitu kalau ke tempat kayak gini pasti sama keluargaku dan aku gak boleh main, makanya sekarang aku seneng banget karena bisa main permainan yang aku mau," ucap Raila.
"Udah dimakan dulu, nanti aja ceritanya," ucap Farel dan diangguki Raila.
Raila memakan setiap makanan yang dipesankan Farel dan tanpa terasa semua makanan yang ada di atas meja tersebut habis. Bukan hanya Raila yang makan, tapi juga Farel ya.
Farel yang melihat Raila seperti anak kecil karena mulutnya yang penuh dan juga sudah makanan yang ada di wajahnya, dengan cepat Farel menghilangkan sisa makanan tersebut dengan tangannya.
"Kamu tahu gak, aku kayak lagi bawa anak kecil tahu, kamu makannya pelan-pelan gak akan ada yang ambil makanan kamu kok," ucap Farel.
Ucapan Farel sontak membuat Raila melotot dan segera membersihkan wajah dan mulutnya, "Gak ada kok ini udah aku ambil," ucap Farel.
"Ish, harusnya kamu itu bilang biar aku sendiri yang bersihin," ucap Raila dan Farel menggelengkan kepalanya.
"Gapapa, aku aja biar kelihatan romantis," ucap Farel.
"Kamu mau romantis ke aku, aneh tahu gak kalau kamu romantis," ucap Raila.
"Mungkin karena dari awal kita pacaran aku jarang nunjukkin sikap romantisku makanya kamu jadi ngerasa aneh gitu," ucap Farel.
"Ya, mungkin aja sih," ucap Raila.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.