Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Makan Kepiting


__ADS_3

"Sayang, Mama tahu aku pasti kecewa sama Farel," ucap Mama Aurel, lalu menghampiri Raila dan memeluk Raila.


Raila yang sedari tadi menahan tangisnya pun akhirnya menangis di pelukan Mama Aurel, "Raila keliatan murahan ya, Ma. Sampai Farel harus bohongin Raila soal keluarganya?" tanya Raila.


"Hush, kamu gak kayak gitu ya, Farel melakukan ini dia ingin tahu bagaimana orang-orang menganggapnya karena dia merasa orang-orang hanya mau kenal dengannya karena uang, mungkin karena itu akhirnya Farel ngelakuin ini semua," ucap Mama Aurel.


"Sayang, maaf," ucap Farel lalu memeluk Raila dari belakang.


"Kenapa kalian jadi peluk-pelukkan gini sih," ucap Papa Aaron dan beberapa saat kemudian memeluk Mama Aurel dari belakang.


"Udah ah jangan peluk-pelukkan kayak gini gak bisa napas mama," ucap Mama Aurel.


"Udah tenang?" tanya Mama Aurel dan menghapus air mata Raila.


Raila yang mendapat pertanyaan tersebut pun menganggukkan kepalanya, "Kamu mau makan atau bersih-bersih dulu?" tanya Mama Aurel.


"Raila, mau bersih-bersih dulu aja, Ma," ucap Raila.


"Yaudah, kalau gitu, Rel, anterin menantu Mama ke kamar kamu," ucap Mama Aurel.


"Ayo sayang," ajak Farel dan mengulurkan tangannya.


"Aku bisa jalan sendiri," ucap Raila dan mempersilahkan Farel untuk berjalan terlebih dahulu.


"Huh, yaudah, Ma. Farel sama Raila ke kamar dulu," ucap Farel, lalu pergi meninggalkan Mama Aurel.


Mama Aurel yang melihat penolakan Raila merasa kasihan dengan Farel. Namun, bagaimanapun semua terjadi karena keinginan Farel sendiri sejak awal.


Farel membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Raila masuk. Raila merasa seperti di dalam istana bagaimana tidak kamar yang ia masuki ini benar-benar besar dan megah bahkan kamar tersebut lebih luas daripada ruang tamu di kediaman keluarga Laksani.


"Ayo katanya kamu mau bersih-bersih dulu," ajak Farel.


Raila tidak melihat ke arah Farel sama sekali dan saat berjalan menuju kamar mandi pandangan Raila tertuju pada beberapa foto yang di pajang di dinding kamar dengan pigora cantik yang membuat foto tersebut semakin indah untuk di pandang dan bagaimana cara merawat foto tersebut membuat Raila terharu.


"Ada apa sayang?" tanya Farel, yang melihat Raila terus menatap pajangan foto yang ada di dinding kamarnya.


"Gapapa," ucap Raila lalu berjalan menuju kamar mandi.


Saat akan masuk ke dalam kamar mandi, Raila terkejut dengan keberadaan Farel yang sudah berada di belakangnya, "Kamu kenapa ikutin aku?" tanya Raila.

__ADS_1


"Kamu kan mau mandi," ucap Farel.


"Yah terus kenapa kalau aku mau mandi?" tanya Raila.


"Loh kamu ini gimana sih kita kan mandi bareng, ayo," ucap Farel dan benar-benar masuk ke dalam kamar mandi bersama Raila.


Raila ingin sekali protes, namun belum sempat hal itu terjadi Farel sudah menanggalkan semua pakaiannya yang tentunya membuat Raila memekik keras, "Kamu apaan sih, Rel? kalau mau buka itu bilang!" protes Raila dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Gak usah di tutup gitu lagian juga udah biasa kita kayak gini, ayo buka baju kamu atau mau aku yang buka hem," goda Farel.


"Apa sih, aku bisa buka sendiri kok, tapi aku mandinya nanti aja setelah kamu mandi, sekarang aku keluar nunggu kamu aja," ucap Raila.


Baru akan memegang gagang pintu tiba-tiba tangannya di tarik dan saat ini Raila berada dalam dekapan Farel yang full naked. Raila merasakan bahaya yang akan datang dengan cepat meronta-ronta dalam dekapan tersebut. Namun, sayang kekuatannya kalah jauh dari Farel.


"Kita udah lama gak mandi bareng, masa kamu mau biarin aku mandi sendiri, lagian dari dulu kan kita selalu mandi bareng, Rai," ucap Farel dan memulai menanggalkan pakaian Raila.


Hingga saat ini mereka berdua full naked, "Kamu jangan kurang ajar ya, Rel!" peringat Raila.


"Aku janji hanya mandi bareng gak minta lebih, aku tahu kamu masih sakit," ucap Farel.


Memang benar Farel dan Raila hanya mandi saja dan tidak melakukan apa yang mereka biasa lakukan, mungkin karena Farel takut Raila kesakitan apalagi Raila baru saja mengalami masa sulit dalam hidupnya sebagai istri dan juga calon ibu.


Meskipun hal biasa bagi Raila, tapi tetap saja Raila kadang malu jika harus melihat Farel apalagi mereka pernah tidak bertemu kurang lebih selama satu bulan tentunya Raila semakin canggung berada di dekat Farel. Mungkin karena itu sejak tadi Raila terus menghindar dari Farel apalagi karena tahu rahasia yang Farel sembunyikan dari Raila sejak duku mengenai keluarganya.


Farel dan Raila pun selesai mengenakan pakaian mereka, "Rel, ini gak terlalu berlebihan buat aku?" tanya Raila, yang menatap gaun yang ia gunakan pada kaca besar yang ada di kamar tersebut.


"Gak sayang, malah menurutku gaun ini masih sederhana buat kamu," ucap Farel.



"Oh," jawab Raila lalu keluar dari kamar meninggalkan Farel.


"Kayaknya aku harus berusaha lagi buat kamu seperti dulu lagi, Rai," ucap Farel.


Raila berjalan terlebih dahulu menuju meja makan, saat sampai di sana Raila melihat Mama Aurel dan Papa Aaron.


"Astaga! menantu Mama cantik banget sih!" pekik Mama Aurel dan menghampiri Raila.


"Mama bisa aja, Ma. Raila gak kelihatan aneh kan pake baju ini?" tanya Raila.

__ADS_1


"Gak dong sayang, kamu malah kelihatan cantik banget," ucap Mama Aurel.


"Tapi, ini terlalu berlebihan, Ma. Raila bisa kok pake baju yang tadi Raila pake," ucap Raila.


"Gak bisa sayang, kamu harus pake ini. Lagian sekarang kamu udah tahu siapa Farel, kan," ucap Mama Aurel.


"Yaudah, sekarang kita makan," ucap Papa Aaron, saat melihat Farel yang baru saja turun dari tangga dan menuju meja makan.


Saat ini mereka tengah memakan makan malam yang sudah tersedia di meja makan, ralat bukan mereka semua kecuali Raila. Raila hanya menatap makanan yang tersaji di atas meja makan.


'Ini gak salah makanannya kok mahal-mahal gini, mana ada kepiting sama gurita, gue gak pernah makan mereka berdua,' ucap Raila dalam hati.


"Kenapa sayang kok gak makan? kamu gak suka makanannya? mau Mama suruh Bi Ani siapin makanan yang lain?" tanya Mama Aurel.


"Eh, gak usah, Ma. Raila suka kok," ucap Raila, lalu memakan makanan yang sudah tersaji rapi di piringnya.


'Aduh gimana ini, nanti gue malah kelihatan norak lagi soalnya gak bisa makan kepiting,' ucap Raila dalam hati.


Farel yang melihat Raila kebingungan untuk memakan kepiting pun segera mengambil kepiting yang ada di piring Raila dan mengambil dagingnya lalu menaruhnya di piring Raila.


"Selamat makan, Tuan putri," ucap Farel dengan senyum manisnya.


'Raila jangan sampe lo luluh, inget lo harus marah ke Farel,' ucap Raila dalam hati.


"Makasih, aku bisa sendiri kok," ucap Raila.


"Gapapa, kamu makan aja biar aku yang ambil dagingnya," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Makan yang banyak ya, ini semua di masak khusus untuk kamu," ucap Mama Aurel.


"I - iya, Ma," ucap Raila.


'Kok gue semakin ngerasa bersalah sama keluarganya Farel ya,' ucap Raila dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2