
Disisi lain, Farel segera masuk ke dalam tempat makan tersebut dan mencari keberadaan Istrinya itu, "Maaf, apa di sini ada yang bernama Raila?" tanya Farel.
"Raila? oh iya ada, memangnya ada apa ya?" tanya salah satu pegawai di sana.
"Apa saya bisa bertemu dengan dia?" tanya Farel.
"Mungkin dia sekarang lagi kerja di belakang, jadi tidak bisa di ganggu," ucap pegawai tersebut.
"Kalau boleh tahu dia bekerja apa ya?" tanya Farel.
"Raila kerja jadi tukang cuci piring," ucapnya.
Farel merasa batu besar menghantam dadanya, sakit saat mendengar perempuan yang ia cintai harus bekerja menjadi tukang cuci piring. Farel pernah berjanji tidak akan membiarkan Raila bekerja terlalu keras, tapi saat ini Raila justru harus menderita dengan bekerja sebagai pencuci piring.
"Kira-kira pulangnya jam berapa ya?" tanya Farel.
"Mungkin sebentar lagi," ucap pegawai tersebut.
Farel pun menunggu di depan dapur dan berharap Raila cepat keluar, "Kenapa lo di sini?" tanya Joven.
"Raila lagi di belakang dan gue gak bisa ganggu dia," ucap Farel.
Cukup lama Farel menunggu hingga suara bentakan seseorang dari dalam dapur pun membuat kelima pria yang berada di depan pintu dapur melihat ke kaca yang ada di pintu tersebut.
"KAMU KALAU GAK MAU KERJA PERGI SANA!" teriak pria dengan pakaian koki.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap lirih perempuan yang sedang menunduk tersebut.
"MULAI HARI INI KAMU DI PECAT, KAMU GAK ADA GUNANYA KERJA DI SINI!" ucap pria itu lalu mendorong perempuan tersebut keluar melalui pintu belakang.
__ADS_1
"Rel, itu Raila," ucap Rafka.
"Gue bakal ikutin Raila, gue pengen tahu selama ini dia tinggal dimana, kalian juga ikutin gue pake mobil," ucap Farel dan diangguki keempat sahabatnya.
Farel pun mengikuti Raila dengan berjalan kaki, dari kejauhan Farel dapat melihat punggung lemah Raila, Farel tahu saat ini Raila sedang menangis karena bahunya yang bergetar dan terlihat jelas dari belakang. Farel ingin sekali memeluk dan menenangkan Raila, tapi ia akan menahannya dan ingin mengetahui bagaimana kehidupan istrinya itu.
Hampir 20 menit Farel mengikuti Raila, akhirnya Raila pun berhenti di sebuah jembatan lebih tepatnya di bawah jembatan yang cukup besar. Raila berjalan dan berhenti tepat di tumpukan kardus, di sana bukan hanya ada Raila, tapi juga beberapa perempuan yang sudah berumur dan anak kecil dan sedang bermain.
Farel tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, ia yakin jika Raila ke sini hanya untuk menghibur dirinya dan Farel meyakinkan dirinya jika Raila tidak tinggal di sini selama Raila di usir dari kos. Namun, Farel mendengar pertanyaan seorang ibu-ibu pada Raila dan hal itu membuat Farel harus menerima kenyataan jika Raila tinggal di sini selama ini.
"Baru pulang, Rai. Tumben biasanya kamu pulang jam 11 malam loh?" tanya salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Iya, Bu. Saya di pecat lagi," ucap lirih Raila, tapi masih dapat di dengar Farel.
"Yang sabar ya, Tuhan masih sayang sama kita makanya Tuhan ingin kita terus berusaha," ucapnya.
"Iya, Bu," ucap Raila dan duduk di kardus tempat dia biasa tidur.
Saat sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling jembatan tiba-tiba matanya bertubrukan dengan seseorang, orang tersebut menatap Raila dengan intens. Raila yang tidak terlalu jelas dengan wajah orang tersebut pun diam dan merasa risih, tapi Raila tidak ingin terllau percaya diri hingga saat cahaya mulai menampakkan wajah dari orang tersebut, Raila pun di buat terkejut.
Bagaimana tidak, orang yang sedari tadi menatap intens ke arahnya salah Farel suaminya. Ibu-ibu yang melihat keterkejutan Raila pun bertanya pada Raila, "Ada apa Rai? kok kamu kayak kaget gitu?" tanya ibu-ibu tersebut.
"Gak ada apa-apa kok, Bu. Hem, Raila tidur dulu ya kalau gitu," ucap Raila dan merebahkan tubuhnya di kardus yang biasa ia gunakan.
Raila sedang tidak ingin bertemu dengan Farel, ia malu karena Farel harus melihatnya dalam kondisi yang mengenaskan seperti ini. Raila pikir ia tidak akan bertemu dengan Farel karena mereka sudah tidak bertemu dengan Farel kurang lebih selama satu bulan.
Farel sendiri melihat jika Raila menghindarinya, ia melihat ke mobil yang baru saja datang dan Farel mengisyaratkan untuk mereka tidak keluar dari mobil yang tentunya di iyakan oleh sahabatnya. Farel melangkah mendekati Raila dan juga beberapa ibu-ibu yang sedang berbicara di sana.
Kedatangan Farel tentunya membuat ibu-ibu tersebut menatap ke arah Farel, baru saja akan bertanya, Farel sudah menghampiri Raila dan terlihatlah jika Raila pura-pura tidur. Tanpa basa-basi Farel pun segera menggendong Raila ala bridal style dan pergi dari tempat tersebut. Sedangkan, Raila yang memang memunggungi Farel pun terkejut saat merasakan seseorang mengangkatnya dan kakinya sudah tidak menapak tanah.
__ADS_1
Raila sedikit yakin jika yang melakukan ini ada Farel sebab itu Raila tidak ingin membuka matanya. Raila memberanikan diri untuk membuka matanya dan benar saja wajah tampan Farel terpampang dengan jelas.
Beberapa saat kemudian, Raila pun di dudukan di mobil yang mewah, baru saja akan keluar dari mobil. Namun, Farel sudah masuk dan berada di sampingnya lalu memeluk Raila dan menyandarkan kepala Raila pada dada bidangnya.
Raila yang di perlakukan seperti ini pun merasa terharu ia ingin sekali menangis, tapi dengan sekuat tenaga Raila menahannya, "Kemana dulu kita ini?" tanya Evan yang mengemudikan mobil tersebut.
"Ke kos," ucap Farel.
Raila yang mendengarnya pun lantas mendongak menatap Farel, "Jangan ke kos," ucap lirih Raila yang tentunya masih dapat di dengar oleh orang-orang yang ada di dalam mobil.
Raila baru menyadari jika di dalam mobil bukan hanya ada dirinya setelah melihat Joven yang tersenyum ramah padanya di kursi depan, Raila pun kembali mengedarkan pandangannya ke belakang dan ia kembali terkejut setelah melihat dua orang yang sangat Raila tahu dia adalah Rafka dan yang satunya Raila tidak tahu siapa dia.
Saat Raila lama bertanya, Farel terlebih dahulu menyelanya "Kau gak perlu khawatir kau tidak akan kenapa-napa, kita tetap ke kos," ucap Farel dan diangguki Evan.
"Tapi, nanti-," ucapan Raila di potong oleh Farel.
"Aku tahu nanti kita hadapi bersama kalau memang di kos semua penghuni tetap mengusir-mu, maka kita kan cari tempat tinggal baru," ucap Farel dan diangguki Raila.
Untuk saat ini Raila percaya saja dengan Farel, Raila yakin jika Farel tidak akan menyakiti atau membahayakannya bukan. Sesampainya di kos Raila, Farel dan semua sahabat Farel masuk ke dalam kos dan melihat para tetangga yang sedang berkumpul.
Para penghuni kos yang melihat Raila pun menatap sinis bahkan secara terang-terangan menghina dan mengejeknya, "Ngapain sih nak Farel bawa dia ke sini?" tanya Bu Farah.
"Karena Raila itu saya, jadi saya harus bawa dia ke sini," ucap Farel dengan menggenggam tangan Raila.
"Tapi, di sini kita tidak terima kalau ada pencuri lebih baik nak Farel cari kos lain saja kalau tetap membawa dia," ucap Mbak Ayu.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.