
"Gimana udah ketemu?' tanya Pak Gibran, pada Dahri dan Dandi yang menggeledah meja para pegawai.
"Gak ada, Pak," ucap Dahri.
"Iya, Pak gak ada," ucap Dandi.
"Terus siapa yang ngambil uang saya?" tanya Pak Gibran.
"Gimana kali kita cari ke loker tim editor Pak, siapa tahu uang Bapak ada di sana," ucap Dandi.
"Masa sampai sana, Dan," ucap Isna.
"Ya, bisa aja kan gak ada yang tahu, apalagi loker kan cuma bisa di buka sama yang punya kunci," ucap Dandi.
"Benar kata Dandi, ayo kita pergi ke loker," ucap Vanya.
Mereka pun mulai membuka loker para tim editor hingga Dandi saat ini berada tepat di depan loker Raila dan tanpa semua orang tahu Dandi mengeluarkan smirknya, 'Mampus lo, Rai,' ucap Dandi dalam hati.
Dandi pun membuka loker Raila, "Ini kok ada uang di sini," ucap Dandi, dengan raut wajah terkejut.
"Hah! uang? mana coba saya lihat ini yang saya atau bukan," ucap Pak Gibran, lalu mengambil uang yang ada di loker Raila.
"Ini uang saya, lihat ada pembatasnya yang saya buat, jadi kamu Raila yang udah ngambil uang saya," ucap Pak Gibran.
"Bukan Pak, saya gak pernah ngambil uang Bapak," cap Raila.
"Alah, mana ada orang ngambil uang mau ngaku, Rai," ucap Dahri.
"Hush, diem gak usah ikut campur," ucap Isna, dengan suara pelan.
"Hehehe,"
"Saya tanya lagi ke kamu, Rai. Jadi kamu yang udah ngambil uang saya?" tanya Pak Gibran.
"Bukan Pak, saya berani sumpah kalau bukan saya yang ambil uang Bapak," ucap Raila.
"Saya gak percaya buktinya yang sayang yang hilang ada di loker kamu, terus ini apa, kenapa uang saya cuma 7 juta yang 20 juta mana?" tanya Pak Gibran.
"Saya gak tahu, Pak. Bukan saya yang ngambil uang Bapak," ucap Raila.
"Mulai hari ini kamu saya pecat, karena kamu udah berjasa buat kantor ini makanya saya gak lapor polisi, tapi kamu harus kembalikan uang saya yang 20 juta," ucap Pak Gibran.
__ADS_1
"Tapi, saya beneran gak ngambil uang Bapak sama sekali, jadi untuk apa saya kembalikan uang Bapak," ucap Raila.
"Oke, kalau gitu kamu gak akan dapat gaji dan pesangon kamu, sekarang kamu pergi kantor saya, saya gak mau ada maling di kantor saya," usir Pak Gibran.
"Pak bukan saya yang ambil uang Bapak, tapi Dandi saya lihat tadi pagi dia masuk ke ruang kerja Bapak dan mengambil uang Bapak," ucap Raila.
"Rai, lo nuduh gue padahal udah jelas uangnya ada di loker lo, lo mikir gak sih sebelum nuduh orang," ucap Dandi, dengan mendramatisir.
"Tapi, emang lo yang ngambil uangnya Pak Gibran, gue lihat sendiri," ucap Raila.
"Udah cukup Rai, lo itu udah ketahuan harusnya lo malu mana sampe nuduh Dandi lagi," ucap Vanya.
"Van, lo percaya kalau gue yang ngambil uang itu"? tanya Raila.
"Iyalah, buktinya udah jelas kali, gak usah nuduh cowok gue," ucap Vanya.
"Van-," belum sempat Raila melanjutkan perkataannya tiba-tiba Pak Gibran menyelanya.
"Kamu harus pergi dari sini sekarang," ucap Pak Gibran dan menarik lengan Raila menuju pintu masuk kantor.
Saat di pintu kantor Pak Gibran pun dengan tega mendorong Raila ke depan hingga Raila oleng, untung saja Raila dengan segera menyeimbangkan tubuhnya. Pak Gibran juga melempar tas Raila ke sembarang arah.
Raila pergi dari kantor yang sudah berjasa bagi Raila selama ini, bagaimana tidak Raila adalah pegawai pertama yang di rekrut oleh Pak Gibran sendiri, tapi justru Raila di pecat dengan tidak hormat bahkan Raila tidak mendapatkan apapun.
"Kenapa jadi kayak gini sih, gue kira gue bakal bahagia setelah ini, tapi malah apes kayak gini," gumam Raila.
Raila pun menilai bus yang biasanya ia gunakan setelah itu Raila pun pulang ke kos. Namun, saat Raila sampai di kos, Raila mendapat tatapan tajam dari para penghuni kos bahkan ibu-ibu yang biasanya mengobrol dengannya.
Hal yang membuat Raila semakin terkejut adalah saat melihat kamarnya terbuka dan di kerumunan banyak orang, "Ada apa ya ini?" tanya Raila, saat berhasil masuk ke dalam kamarnya.
Raila semakin terkejut saat melihat kamarnya dan Farel yang sudah tidak berbentuk, "Ini ada apa ya? kenapa Bu Anggi masuk ke dalam kamar saya dan berantakin semua barang-barang saya?" tanya Raila.
Plak.
Pipi Raila terasa panas karena tamparan keras dari Bu Anggi, Raila menatap Bu Anggi seolah meminta penjelasan.
"Dasar tidak tahu diri kamu, berani-beraninya kamu ngambil perhiasan saya dan Bu Farah!" teriak Bu Anggi.
"Hah! saya gak pernah ngambil apapun, ini saya baru pulang kerja," ucap Raila.
"Alah mana ada maling mau ngaku, ini saya temukan perhiasan saya di bawah tumpukan baju kamu," ucap Bu Farah dan menunjukkan perhiasannya.
__ADS_1
"Tapi, saya gak pernah ngambil," ucap Raila.
"Udah Bu, usir aja dia dari kos ini, kalau dia di biarin di sini takutnya banyak lagi perhiasan orang-orang yang hilang," ucap Bu Dira.
"Iya bener kita usir dia dari sini," ucap Bu Farah lalu menarik tangan Raila.
Raila ingin mengambil tasnya yang berada di meja. Namun, tarikan dari Bu Farah yang cukup kencang hingga Raila sulit mengambilnya dan pasrah saat di bawa keluar oleh Bu Farah dan dilihat oleh beberapa warga
Dengan kejamnya Bu Farah mendorong Raila, "Sekarang kamu pergi dari sini dasar pencuri," maki Bu Farah.
Raila yang ingin membela diri pun tidak bisa karena Bu Anggi yang menyiramnya dengan air bekas mengepel.
Raila benar-benar malu karena ia dilihat oleh banyak orang, dengan cepat Raila pun pergi dari kos tersebut tanpa membawa apapun.
Disisi lain seorang perempuan sedang menelepon seseorang, "Dia udah di usir," ucap orang tersebut yaitu Clara.
"Hem, kerja bagus Clara, uangnya udah gue kirim ke rekening lo," ucap Angel.
"Thanks, Angel," ucap orang tersebut.
.
Saat sedang berjalan mencari tempat untuk tidur malam nanti, tiba-tiba Raila dikejutkan dengan suara klakson di sampingnya. Raila dengan cepat pun melihat sebuah mobil berhenti. Raila terkejut saat melihat Kakek Daffa yang membuat jendelanya mobil tersebut.
"Ck, dasar cucu tidak berguna, ini ambil amplopnya," ucap Kakek Daffa.
"Untuk apa, Kek?" tanya Raila.
"Ambil jangan banyak tanya," taco Kakek Daffa.
Mau tidak mau Raila pun mengambil amplop tersebut, "Ini di dalamnya ada yang gunakan untuk apapun, anggap ini uang terakhir untukmu yang bukan lagi anggota keluarga Laksani, kau terlihat sangat menyedihkan. Kau pantas mendapatkannya karena kau lebih memilih pria miskin itu," ucap Kakek Daffa, yang benar-benar menyakitkan bagi Raila.
Saat akan mengatakan sesuatu pada Kakek Daffa tiba-tiba Kakek Daffa memanggil seorang ibu-ibu, "Hei, kemarilah!" panggil Kakek Daffa.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1