Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Kelemahan Farel


__ADS_3

Farel pun masuk ke dalam ruang tunggu khusus yang ada di kantornya, Farel dapat melihat seorang pria berumur yang memakai pakaian lusuh bahkan sangat tidak mencerminkan kehidupannya terdahulu sebagai pemilik Lana grup yang masuk ke dalam 10 besar keluarga terkaya di negeri ini.


Farel pun mengeluarkan smirknya saat melihat Maulana, orang yang sangat ia benci karena kebohongan dan juga keserakahannya.


"Tuan Zergan, senang sekali bisa bertemu dengan anda," ucap Maulana, saat Farel duduk di hadapannya.


"Ada apa kau ingin menemuiku? setahuku aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Lana grup bukan?" tanya Farel.


"Saya ke sini hanya ingin menyampaikan maaf karena saya telah lancang menjodohkan istri anda dengan putra saya, saya melakukan itu juga karena putra saya menyukai istri anda. Saya tidak tahu kalau perempuan yang di sukai putra saya adalah istri anda, jika saya tahu. Saya tidak akan melakukan hal itu, sekali lagi saya minta maaf Tuan Zergan," ucap Maulana.


"Aku tidak ingin membahas hal menjijikan itu, jadi kalau tujuanmu ke sini dan menemuiku hanya untuk membahas hal itu, maka silahkan pergi," ucap Farel.


"Ada hak lain lagi yang ingin saya sampaikan pada Tuan Zergan," ucap Maulana, saat melihat Farel yang bersiap untuk berdiri.


"Hem, katakan," ucap Farel.


"Saya ingin meminta bantuan anda untuk menyelamatkan Lana grup yang sudah bangkrut," ucap Maulana.


"Apa imbalan yang akan kudapatkan saat aku membantu Lana grup?" tanya Farel.


"Tuan Zergan dapat melakukan apapun terhadap Lana grup, asalkan Tuan Zergan mau membantu Lana grup," ucap Maulana.


"Sepertinya kau benar-benar putus asa sampai kau harus meminta bantuan dariku bahkan kau sampai rela aku melakukan apapun terhadap Lana grup," ucap Farel.


"Benar Tuan, saya putus asa, saya tidak tahu harus melakukan apa saat ini," ucap Maulana.


"Baik, aku mengerti maksud tujuanmu ke sini, jadi kau tidak perlu menjelaskannya lagi," ucap Farel.


"Tuan terima kasih atas pengertiannya, saya sangat berharap Tuan Zergan mau membantu Lana grup," ucap Maulana.


"Karena tujuanmu ke sini adalah untuk meminta bantuan dariku supaya Lana grup kembali jaya seperti dulu, maka kau salah tempat karena aku tidak pernah memungut sampah yang sudah diinjak-injak orang bahkan sampah itu mungkin sudah kena kotoran manusia atau hewan, aku lebih suka sampah yang di buang di tempat pembuangan sampah, ya walaupun jorok dan kotor, tapi aku menyukainya," ucap Farel.

__ADS_1


Maulana yang awalnya menunduk langsung mendongak dan menatap Farel dengan tatapan tajamnya, Farel tahu bahwa saat ini Maulana sedang kesal padanya. Namun, hal tersebut diabaikan oleh Farel.


"Tuan Zergan tolong saya, saya sudah tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa kecuali pada anda, saya sudah beberapa kali meminta bantuan pada rekan kerja saya dulu, tapi mereka menolaknya dan satu-satunya harapan saya adalah Tuan Zergan," ucap Maulana.


"Kalau begitu jawabanku sama seperti rekan kerjamu yang lainnya yaitu menolak, kalua kau mau Lana grup kembali seperti dulu. Tapi, aku bisa bantu agar Lana grup kembali seperti dulu," ucap Farel.


"Bagaimana Tuan? saya akan melakukan apapun agar Lana grup kembali seperti dulu," tanya Maulana.


"Kalau memang kau ingin Lana grup seperti dulu itu artinya kau harus mati dulu baru aku bantu, tapi aku gak janji sih mau membantu," ucap Farel.


Maulan yang mendengar perkataan Farel tentunya terkejut bagaimana tidak, perkataan Farel sama saja menyuruh Maulana untuk lenyap dari muka bumi ini, percuma juga Lana grup kembali seperti dulu kalau dia tidak bisa menikmatinya.


'Sepertinya rencanaku gagal untuk membujuk si b******k ini,' ucap Maulana, dalam hati.


"Maaf Tuan Zergan, apa tidak ada syarat lain agar Tuan Zergan mau membantu Lana grup tanpa saya harus menghilangkan nyawa saya?" tanya Maulana.


"Sepertinya tidak ada, kalau memang kau tidak mau juga tidak apa-apa, tidak ada masalah untukku karena yang membutuhkan bantuanku itu kau bukan aku," ucap Farel.


"Berlebihan, kalau memang kau tidak mau juga tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakannya, aku masih banyak kerjaan dan menurutku berbicara denganmu tidak dapat mengurangi pekerjaanku dan justru malah membuat pekerjaanku terhenti dan semakin menumpuk," ucap Farel, lalu pergi dari ruangan tersebut dan meninggalkan Maulana yang sedang menahan amarahnya.


'Awas kau, akan kupastikan kau menyesal telah mengatakan semua itu padaku. Baik, karena kau meminta nyawaku maka aku juga akan meminta nyawamu, tapi aku rasa nyawamu bukan hanya ada di dirimu, tapi ada pada orang lain,' ucap Maulana dalam hati.


Farel sendiri saat ini berjalan menuju ruangannya dan sesampainya di ruangannya Farel pun melihat di dalam sana sudah ada Evan, tapi Evan tidak sendirian ternyata di sana juga ada Marvel yang sudah duduk manis di sofa ruang kerja Farel, "Gimana tadi? dia bilang apa aja?" tanya Evan.


"Biasa kalau orang udah putus asa," ucap Farel.


"Dia minta bantuan lo?" tanya Marvel.


"Hem," jawab Farel, lalu duduk di sofa.


"Terus lo mau bantuin dia gak?" tanya Evan.

__ADS_1


"Gue gak mungkinlah bantuin dia , sekalipun dia sujud di kaki gue," ucap Farel.


"Lo gak takut dia nekat?" tanya Marvel.


"Maksud lo?" tanya Farel.


"Gue cuma mikir aja sih, kalau si Maulana itu orangnya nekat bahkan dia aja udah khianatin istrinya terus mengasingkan anak dan asisten rumah tangganya dan yang paling penting dia orangnya gak mau terlihat kalah apalagi di depan publik," ucap Marvel.


"Mungkin dia udah berubah, lo tahu kan kalau dia udah gak punya apa-apa sekarang," ucap Evan.


"Ya, karena dia udah gak punya apa-apa makanya dia bisa aja malah nekat ngelakuin sesuatu bukan, apalagi sama keluarga lo Rel. Dia pasti punya dendam sama keluarga lo, lo harus ingat ini Rel. Keluarga lo yang udah buat Maulana kayak gini, otomatis dia akan ngelakuin sesuatu untuk menghancurkan keluarga lo," ucap Marvel.


"Vel, kalau ngomong jangan nakut-nakutin napa, kan gue jadi kepikiran kalau kayak gini," ucap Evan.


"Bene yang dibilang Marvel, mulai sekarang gue harus waspada bisa aja si Maulana itu nargetin gue atau keluarga gue lainnya," ucap Farel.


"Atau mungkin juga Raila, gue rasa Maulana udah tahu kalau kelemahan lo itu Raila," ucap Marvel.


Benar kata Marvel, ia harus berhati-hati karena saat ini Maulana pasti sudah tahu kelemahan Farel yaitu Raila.


"Bener, gue harus bisa jaga Raila. Gue juga yakin mungkin sebentar lagi si Maulana bakal melancarkan rencana," ucap Farel.


Farel yakin akan hal itu karena memang Farel teringat akan ucapannya pada Maulana saat di ruang tunggu khusus tadi, Farel yakin Maulana akan mengincarnya atau keluarga dan entahlah Farel merasa Maulana juga akan melakukan hal yang sama pada Farel atau keluarganya seperti yang dilakukan Farel tadi pada Maulana yaitu menyangkut nyawa.


'Gue akan jaga keluarga gue, gue bakal pastiin sebelum lo ngelakuin sesuatu terhadap keluarga gue, maka lo duluan yang bakal nanggung semuanya,' ucap Farel, dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2