Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Si Idiot


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Evan pun masuk ke dalam ruangan Farel, "Presdir," panggil Evan.


"Farel yang awalnya menatap jalanan yang terlihat jelas melalui ruangan tersebut pun membalikkan badannya dan melihat Evan.


"Hem, masuklah," ucap Farel.


"Kenapa ada perwakilan dari Laksani grup bukankah kita tidak pernah bekerjasama dengan mereka?" tanya Farel secara to the point.


"Maaf, Presdir. Ini kesalahan saya, saya sudah ceroboh kerena tidak tahu masalah ini," ucap Evan.


"Aku tidak perlu minta maafmu, yang aku butuhkan saat ini penjelasan," ucap Farel.


"Saya sebenarnya juga baru tahu hari ini kalau pihak Lana grup menarik Laksani grup menjadi pendamping dalam kerjasama kali ini," ucap Evan.


"Pendamping? apa Lana grup tidak salah memilih pendamping, Lama grup hanya menjadi keluarga di peringkat 10 di negara ini dan mereka memilih pendamping di peringkat 9, apa tidak ada pertimbangan lagi, kenapa mereka tidak memilih keluarga yang lebih berkualitas?" tanya Farel.


"Saya juga kurang tahu soal itu, tapi saya dengar jika putra keluarga Lana akan menikah dengan salah satu putri keluarga Laksani," ucap Evan.


"Putra keluarga Lana? siapa? setahuku mer Ka tidak memiliki putra," tanya Farel.


"Lebih tepatnya anak di luar nikah keluarga Lana" ucap Evan.


"Maksudnya?" tanya Farel.


"Jadi Tuan Maulana telah menghamili salah satu asisten rumah tangganya dan setelah mengetahui hal tersebut Tuan Maulana mengasingkan perempuan tersebut dan barulah beberapa bulan yang lalu Tuan Maulana membawa kembali perempuan tersebut ke kota setelah istrinya meninggal," ucap Evan.


"Pria brengsek," maki Farel.


"Ada hak yang mungkin harus Presdir Tahu mengenai Tuan Maulana," ucap Evan.


"Apa?" tanya Farel.


"Ternyata selama ini istri sah Tuan Maulana tidak pernah melahirkan," ucap Evan yang tentunya mengejutkan Farel.


"Lalu dua anak perempuan mereka itu anak siapa?" tanya Farel.


"Dua anak perempuan mereka sebenarnya anak dari Kakak Tuan Maulana yang telah meninggal karena melahirkan," ucap Evan.


"Tunggu, aku semakin tidak mengerti dengan penjelasanmu," ucap Farel.


"Jadi Tuan Maulana merawat anak perempuan kembar dari Kakak kandungnya yang telah meninggal karena melahirkan mereka berdua karena selama pernikahan mereka Tuan Maulana dan istrinya tidak memiliki anak, karena Tuan Maulana terlalu mencintai istrinya makanya Tuan Maulana tetap setia berada di dekat istrinya dan setelah istrinya meninggal barulah Tuan Maulana membawa asisten rumah tangganya dan anak kandungnya tersebut," ucap Evan.


"Wow, sangat mengejutkan, aku kira dia pria yang sangat beruntung dalam hidupnya karena memiliki keluarga yang bahagia," ucap Farel.


"Siapa nama anak pria itu?" tanya Farel.


"Namanya Dahri Maulana," ucap Evan.


"Bahkan dia memberikan nama keluarganya pada anak haramnya," ucap Farel.

__ADS_1


"Dimana anaknya sekarang berada?" tanya Farel.


"Saat ini dia bekerja menjadi editor di salah satu penerbitan buku lebih tepatnya Gantari," ucap Evan yang tentunya membuat Farel terkejut dan menatap lekat ke arah Evan.


"Maksudmu dia rekan kerja, Raila?" tanya Farel dan diangguki Evan.


"Sepertinya aku harus melihatnya sendiri," gumam Farel.


"Oke, sekarang lo santai aja, gue mau tanya Marvel sekarang kemana? kenapa gue ngehubungin dia gak bisa?" tanya Farel.


"Lo gak tahu kalau dia lagi ke Swedia?" tanya Evan dan mendapatkan gelengan kepala dari Farel.


"Gak, ngapain emangnya dia ke Swedia?" tanya Farel.


"Dia itu ada kasus di sana, katanya biayanya lumayan buat beli tiga mobil baru," ucap Evan.


"Kenapa dia gak bilang ke gue?" tanya Farel.


"Lah, mana gue tahu, emangnya kenapa lo nyari Marvel? ada yang penting banget ya sampai lo nyariin dia biasanya juga lo gak pernah nyariin dia?" tanya Evan.


"Gue pengen konsultasi ke dia," ucap Farel.


"Konsultasi apa? tunggu! jangan bilang kalau lo mau cerai sama Raila, astaga Farel lo jangan bodoh ya, lo gak bakal dapet perempuan sebaik Raila kalau lo milih cerain dia, pokoknya gue gak setuju kalau sampai lo cerai sama Raila," ucap Evan.


"Siapa yang cerai? gak ada yang cerai sama Raila lo pikir gue mau apa ninggalin Raila?" tanya Farel dan Evan hanya menggelengkan kepalanya.


"Terus lo mau konsultasi apa ke Marvel?" tanya Evan.


"Apa tuh?" tanya Evan.


"Nanti lo juga tahu kok, gue bakal bicarain nanti pas ada Marvel," ucap Farel dan diangguki Evan.


"Oh iya, Rafka gimana katanya dia ke kos lo?" tanya Evan.


"Hem, tuh orang bener-bener ganggu gue sama Raila aja," ucap Farel dengan raut wajah kesalnya.


"Terus Raila gimana dia kaget gak?" tanya Evan.


"Pastilah, gimana gak kaget gue bawa cowok ke kos, tapi untungnya aja Raila ngerti dan mau nampung tuh orang," ucap Farel.


"Oh iya, gue untuk masalah tadi lo yang urus, gue males buat ngadepin Laksani grup, rasanya gue pengen hancurin tuh keluarga," ucap Farel.


"Gue denger tadi pas di ruang rapat katanya ada putri dari keluarga Laksani grup yang di coret dari kartu keluarga, kalau gue boleh tahu apa itu, Raila?" tanya Evan.


"Hem," jawab Farel.


"Serius lo! padahal gue cuma nebak aja," ucap Evan.


"Gue gak habis pikir sama keluarga itu, mereka cuma mentingin uang uang dan uang," ucap Farel.

__ADS_1


"Kenapa bisa Raila di usir kayak gitu?" tanya Evan.


"Raila nolak buat di jodohin dan nyerain gue," ucap Farel.


"Gila tuh keluarga, anaknya udah punya suami, tapi tetep aja di jodohin kayaknya keluarga mereka harus di tes kejiwaannya deh," ucap Evan.


"Kalau gue mah pengennya langsung masukin mereka ke ruang sakit jiwa gak usah pake tes segala karena gue yakin dia emang mereka udah gak waras," ucap Farel.


"Kejam banget lo, Rel," ucap Evan yang seolah-olah takut.


"Kalau gue kejam udah dari dulu kali mereka gue masukin ke rumah sakit jiwanya," ucap Farel.


"Hehehe, iya juga sih," ucap Evan.


Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba ponsel Farel berdering, "Siapa, Rel?" tanya Evan.


"Pemilik restoran," ucap Farel.


"Kenapa tuh dia nelpon?" tanya Evan.


"Kenapa lagi kalau bukan gara-gara si idiot tadi," ucap Farel lalu mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Dimana kamu, Farel?" tanya Pak Adam pemilik restoran tempat Farel bekerja.


"Saya sedang dalam perjalanan menuju restoran Pak, ada apa ya Pak?" tanya Farel.


"Cepat datang ke restoran, ada hal ingin saya bicarakan," ucap Pak Adam.


"Baik, Pak," ucap Farel lalu Pak Adam pun memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Gue balik dulu, ingat gue gak mau ikut campur soal Laksani grup, lo urus mereka," ucap Farel.


"Siap, lo gak perlu khawatir soal itu," ucap Evan.


Farel pun mengendarai sepeda motornya menuju tempatnya bekerja, setelah beberapa saat kemudian, Farel sampai di tempat kerjanya dan segera menuju ruangan Pak Adam.


Tok tok tok


"Masuk," ucap Pak ada dari dalam.


"Bapak ingin berbicara dengan saya?" tanya Farel.


"Iya, kamu duduk dulu," ucap Pak Adam dan Farel pun duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2