Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Sikap Dingin Farel


__ADS_3

Pagi harinya Farel bangun dan melihat istri tercintanya yang sedang tidur berada di pelukannya, bukannya bangun Farel justru mengeratkan pelukannya pada Raila.


Raila yang merasa terganggu pun membuka matanya, "Ish, aku gak bisa napas tahu," ucap Raila, dengan suara khas bangun tidurnya.


"Hehehehe, bangun yuk sekarang kita ke kantor," ucap Farel.


"Ya, kamu aja yang bangun aku mah gak ke kantor, aku di rumah aja," ucap Raila.


"Hari ini kamu ke Revion grup ya, kamu kan gak pernah ke sana," ucap Farel.


"Emangnya aku ke sana ngapain? kalau gak ngapa-ngapain mendingan aku di rumah aja nemenin Mama," tanya Raila.


"Mama hari ini ada acara sama Papa, jadi kamu bakal sendirian Laguna Lea juga bakal pergi sama temen-temennya, jadi gimana kalau kamu ikut ke kantor aja," ucap Farel.


"Ck, tapi aku males," ucap Raila.


"Yaudah, kalau gitu aku gak Balla maksa kamu, kalau emang kamu gak mau ke kantorku gapapa," ucap Farel.


Raila yang mendengar perkataan Farel pun menatap Farel dan merasa bersalah karena menolak ajakan Farel, "Hem, gini aja. Aku ke kantor kamu nanti sia pas istirahat sekalian aku bawain makanan gimana?" tanya Raila.


Farel tersenyum mendengar perkataan Raila, "Yaudah, aku tunggu nanti siang ya," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Iya, sekarang kamu cepetan siap-siap nanti telat lagi," ucap Raila.


"Kan aku bosnya sayang, jadi gapapa kok kalau aku telat," ucap Farel.


"Mulai deh, gak kamu gak Lea sama aja. Aku tahu kamu bosnya, tapi kamu harus mencontohkan sikap yang baik ke pegawai kamu, kalau kamu sebagai bos aja males-malesan kayak gini gimana sama pegawai kamu," ucap Raila.


"Ck, yaudah ayo," ajak Farel.


"Hah! ayo kemana?" tanya Raila.


"Mandilah," ucap Farel.


"Gak mau ya, aku mandinya nanti aja kalau mau berangkat ke kantor kamu. Sekarang aku masih males bangun," ucap Raila.


"Tadi katanya aku gak boleh males-malesan lah ini istrinya bos malah males-malesan," ucap Farel.


"Ya, kalau aku mah gapapa, kan aku gak punya pegawai," ucap Raila.


"Ayo mandi bareng biar aku semangat kerjanya," ajak Farel.


"Kamu kalau mandi itu sendiri bisa kan kenapa harus ngajakin aku sih," ucap Raila, dengan kesal.


"Soalnya lebih seru kalau mandi sama kamu," ucap Farel.

__ADS_1


"Udah sana mandi sebelum akunya ngambek ke kamu loh," ucap Raila.


Farel yang mendapat ancaman seperti itu pun diam dan akhirnya berjalan lesu ke kamar mandi. Raila menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang kelewat manja, Raila seperti memiliki anak saja jika harus menghadapi sifat Farel yang seperti tadi.


Saat Farel sudah masuk ke dalam kamar mandi, Raila pun bangun dan merapikan kamarnya tak lupa Raila juga menyuap baju yang akan di kenakan Farel untuk bekerja. Setelah semuanya selesai Raila memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju meja makan.


Saat di meja makan Raila melihat Mama Aurel sendirian, "Mama sendirian, Papa mana, Ma?" tanya Raila.


"Eh, sayang udah bangun kamu, Papa kamu baru aja berangkat kerja," ucap Mama Aurel.


"Loh! kata Farel Mama ada acara sama Papa," ucap Raila.


"Iya, tapi acaranya nanti jam 9-an, jadi Papa cuma ngurus kerjaan bentar terus pulang deh," ucap Mama Aurel.


"Acara apa emangnya, Ma?" tanya Raila.


"Itu anak rekan kerjanya Papa kamu ada yang nikah makanya Papa sama Mama mau dateng," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.


Disisi lain Farel yang selesai mandi dan keluar dari kamarnya pun menggerutu tidak jelas karena tidak melihat keberadaan istri tercintanya di kasur.


"Ck, tadi katanya males bangun, tapi malah keluar kamar," omel Farel.


Setelah bersiap, Farel pun keluar kamar dan menuju meja makan. Farel dapat melihat ada Mama Aurel dan Raila yang mengobrol.


"Gapapa," ucap Farel dan memakan makanannya yang telah di siapkan Raila. Selesai dan sarapan Farel memutuskan untuk pergi ke kantor.


Raila sendiri tahu jika Farel saat ini tengah marah dengannya, Raila sedikit takut karena sedari tadi Farel tidak menatapnya bahkan Farel tidak berpamitan padanya.


Setelah melihat mobil Farel pergi dari rumah, Raila hanya menghela napas panjang, "Apa Farel marah gara-gara aku gak mau mandi sama dia terus aku malah keluar dari kamar?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


Raila sadar jika semua sikap dingin Farel padanya lagi ini karenanya, tapi mau bagaimana lagi Raila benar-benar sedang tidak ingin mandi bersama Farel karena Farel selalu minta lebih saat mereka mandi bersama, Raila juga merasa masih pagi dan ia belum siap tentunya.


"Tau ah pusing," ucap Raila dan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya


Saat sedang santai di dalam kamar tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo, Na. Kenapa?" tanya Raila.


"Hem, Rai. Gimana sama kelanjutan usaha lo yang katanya mau buat kantor itu soalnya ini Nenek gue nanyain terus?" tanya Isna.


"Gue juga masih bingung," ucap Raila.


"Bingung kenapa?" tanya Isna.


"Huh, sebenarnya gue itu mau pindah," ucap Raila.

__ADS_1


"Pindah, memangnya lo mau pindah kemana?" tanya Isna.


"Gue sama Farel rencana bakal pindah ke Belanda," ucap Raila.


"Hah! Belanda, gak salah lo mau pindah ke sana. Terus nanti gue gak punya temen dong kalau lo pindah," ucap Isna.


"Apa sih lo, tapi jujur gue bingung sama rencana gue. Gue gak pernah ngebayangin bakal pindah, padahal gue udah dapet tempat yang bagus buat kantor gue nantinya," ucap Raila.


"Kalau emang lo mau pindah saran gue sih mendingan lo gak usah buka kantor penerbitan soalnya takut gak ke urus pas lo di Belanda," ucap Isna.


"Tapi, kan ada lo, Na," ucap Raila.


"Gue emang mau jadi pegawai lo kalau seandainya lo buka kantor penerbitan, tapi gue gak mau sampai harus bertanggungjawab atas semuanya apalagi lo gak ada di sana," ucap Isna.


"Terus kalau lo kerja apa kalau lo gak kerja bareng gue? gue juga udah janji kan bakal rekrut lo jadi pegawai gue kalau Gantari bangkrut," ucap Raila.


"Lo gak usah khawatir soal itu, kan masih ada Revion grup yang nerima gue," ucap Isna.


"Lo yakin kalau Revion grup bakal nerima lo?" tanya Raila.


"Iya dong, kan lo denger sendiri apa yang dibilang sama pewaris Revion grup kan," ucap Isna.


"Lo ngapain percaya sama omongannya Farel," ucap Raila.


"Harus dong, tapi gue seneng banget karena gue bakal masuk Revion grup lewat jalur vvvvvvip," ucap Isna.


"Jalur apaan itu banyak banget v nya?" tanya Raila.


"Ya, pokonya jalur langsung lah, ini yang rekrut gue pewarisnya Revion grup loh, kalau HRD atau manager sih gue gak terlalu bangga. Tapi, ini pewaris Rai, pewaris," ucap Isna, dengan heboh.


"Terserah lo deh, jadi lo nelpon gue cuma tanah soal tadi kan?" tanya Raila.


"Yup," jawab Isna.


"Oke, karena lo udah dapet jawaban kalau gitu gue matiin dulu, gue masih ada beberapa urusan yang harus gue lakuin, dah," ucap Raila, lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.


'Apa gue batalin aja buat kantor penerbitan, tapi sia-sia dong Gantari hancur kalau gue gak buat kantor penerbitan?' tanya Raila, dalam hati.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2