
Seperti perkataan Raila tadi pagi, ia siang ini sudah bersiap-siap pergi ke kantor Farel, "Semoga aja Farel udah gak marah lagi," gumam Raila.
"Ayo, Pak kita ke kantornya Farel," ucap Raila.
"Baik, Nona," ucap Pak Diki.
Raila pun ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian Raila sampai di Revion grup, "Wah! besar banget kantornya Farel, kayaknya ini pertama kalinya deh gue masuk ke gedung sebesar ini," gumam Raila.
Raila pun masuk ke dalan gedung tersebut, beberapa pegawai yang Raila jumpai menunduk hormat pada Raila karena mereka tahu siapa Raila. Tapi, ada juga pegawai menatap rendah Raila dan tentunya mereka tidak tahu siapa Raila.
Raila berjalan menuju resepsionis, "Maaf Mbak, saya ingin bertemu dengan Pak Zergan apa beliau ada di ruangannya?" tanya Raila dengan sopan.
Dapat Raila lihat wajah tidak Suak dari resepsionis tersebut, "Maaf, kalau boleh tahu apa mbaknya ada janji temu dengan Tuan Zergan atau ada keperluan yang mendesak?" tanya resepsionis tersebut.
"Iya, saya sudah janji dengan Tuan Zergan," ucap Raila.
"Baik, kalau begitu di tunggu sebentar ya, kalau boleh tahu nama mbaknya siapa ya?," tanya resepsionis.
"Oh nama saya Raila," ucap Raila dan diangguki resepsionis.
Raila tersenyum karena resepsionis tersebut bersikap sopan padanya, walaupun terlihat dengan jelas bahwa ia tidak menyukai Raila.
Beberapa saat kemudian, resepsionis tersebut pun menelpon seseorang dan beberapa menit setelah itu ia mengakhiri panggilan tersebut.
"Maaf Mbak, tapi tadi sudah saya konfirmasi pada sekretaris Tuan Zergan jika Tuan Zergan hari ini tidak ada janji temu dengan siapapun dan kalau memang mbaknya ingin menemui Tuan Zergan, mbaknya bisa menunggu nanti akan saya tanyakan lagi pada sekretaris Tuan Zergan," ucapnya.
"Yasudah, kalau gitu saya menunggu saja," ucap Raila dan memilih duduk di kursi yang ada di lobby kantor tersebut.
Hampir satu setengah jam Raila menunggu dan tidak ada tanda-tanda namanya akan dipanggil, "Apa Farel bener-bener marah ya sama aku sampe dia gak bolehin aku ke kantornya?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.
"Ini udah jam setengah dua dan jam istirahat juga hampir selesai," lanjut Raila.
Raila pun kembali menuju resepsionis untuk menanyakannya kembali, "Maaf, Mbak. Bagaimana Mbak? apa saya masih belum bisa bertemu Tuan Zergan?" tanya Raila.
"Maaf, Mbak. Saya sudah menanyakannya pada pihak sekretaris, tapi tetap tidak memperbolehkan Mbak untuk bertemu Tuan Zergan karena Tuan Zergan saat ini sedang sibuk dan sekretarisnya juga mengatur kemungkinan Tuan Zergan tidak akan keluar ruangannya," ucap resepsionis.
Raila benar-benar kesal dengan jawaban resepsionis tersebut, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Raila yakin resepsionis tersebut hanya menjalankan tugasnya dan tidak memperbolehkan sembarangan orang untuk menemui aset perusahaan.
__ADS_1
"Mbak tahu siapa saya?" tanya Raila.
"Maaf." Resepsionis tersebut tampak kaget saat Raila menanyakan hal yang cukup aneh bagi resepsionis tersebut.
"Lupakan saja Mbak, dari respon Mbak saya yakin Mbak tidak tahu saya," ucap Raila.
"Maaf, Mbak," ucap resepsionis.
"Iya, gapapa kok, mbak," ucap Raila.
"Kalau begitu apa Mbak mau menunggu lagi nanti akan saya katakan lagi pada sekretaris Tuan Zergan?" tanya resepsionis.
"Gak perlu Mbak, lebih baik saya balik saja mungkin lain kali saya akan kembali," ucap Raila dan diangguki resepsionis.
Baru saja Raila akan membalikkan tubuhnya tiba-tiba Raila dapat melihat resepsionis tersebut menoleh ke samping kanan dan merubah raut wajahnya menjadi serius, Raila pun mengikuti arah pandang resepsionis tersebut.
Raila dapat melihat Farel yang baru saja keluar dari lift khusus para petinggi, "Katanya Tuan Zergan tidak keluar ruangannya, tapi dia justru keluar," ucap Raila.
"Maaf, Mbak, saya juga kurang tahu, tadi sekretaris Tuan Zergan yang mengatakan hak tersebut," ucap resepsionis.
"Bukan Mbak, tapi sekretaris yang perempuan di samping kiri Tuan Zergan," ucap resepsionis.
"Apa sekretaris itu suka sama Tuan Zergan?" tanya Raila.
"Hah! maaf Mbak maksudnya?" tanya resepsionis.
"Apa sekretaris perempuan itu suka sama Tuan Zergan?" tanya Raila kembali.
"Menurut kabar yang beredar iya Mbak," ucap resepsionis.
'Huh, gue udah bisa nyingkirin si Natasya, eh malah di kantornya ada aja yang aku embat suami gue, ternyata jaman sekarang bibit pelakor itu dimana-mana,' ucap Raila dalam hati.
"Kalau begitu terima kasih atas informasinya Mbak," ucap Raila dan diangguki resepsionis tersebut.
Raila pun berjalan mendekat ke arah Farel dan dua sekretarisnya dan kebetulan mereka bertiga juga hampir dekat dengan posisi Raila saat ini.
Farel sendiri terkejut melihat Raila yang ada di kantornya, ia tahu jika Raila akan ke kantornya sebab itu ia tidak pergi keluar untuk mencari makan. tapi, istirahat hampir selesai sebab itu Farel memutus untuk keluar mencari makan, tapi ia justru bertemu Raila di lobby kantor.
__ADS_1
"Ini makan," ucap Raila dan memberikan sebuah bingkisan ke Farel dan setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan Farel.
Farel merasa aneh dengan tindakan Raila yang seolah-olah marah dengannya, bukannya yang seharusnya marah itu Farel, tapi kenapa sekarang justru Raila yang marah.
"Mau kemana?" tanya Farel.
"Pulang," ucap Raila.
"Aku daritadi nungguin kamu yang katanya mau ke kantor dan bawa makan siang, tapi jam istirahat hampir selesai dan kamu belum datang dan sekarang saat aku mau keluar mencari makan siang kamu datang dan ngasih makan siang lalu pergi begitu saja," ucap Farel.
"Kamu tanya ke sekretaris cewek kamu itu udah dari jam berapa aku nungguin kamu di lobby kantor kamu, tapi aku gak di bolehin ketemu sama kamu," ucap Raila, yang mulai emosi.
"Maksud kamu apa?" tanya Farel.
"Aku daritadi nungguin kamu udah hampir dua jam mungkin, tapi sekretaris kamu yang ini gak ngebolehin aku ketemu sama kamu, kamu pikir aku gak capek apa nungguin kamu!" teriak Raila.
Raila tidak peduli dengan keadaan sekitarnya yang saat ini banyak orang yang berkumpul dan melihat Raila yang sedang berteriak pada Farel.
Resepsionis yang tadi menghentikan radial agar tidak berteriak pada Farel, "Mbak jangan teriak begitu di depan Tuan Zergan, nanti yang ada Mbaknya bisa terkena masalah," ucap resepsionis tersebut dengan suara pelan.
"Saya gak peduli," ucap Raila dan menatap tajam Farel.
Farel pun menatap tajam Raila. Namun, detik berikutnya benar-benar membuat semua orang yang ada di sana terkejut terutama mereka yang tidak tahu hubungan Raila dan Farel.
Bagaimana tidak Farel tiba-tiba saja memeluk Raila, "Kenapa sih marah-marah terus harusnya itu aku yang marah bukannya kamu?" tanya Farel.
Raila pun membalas pelukan Farel, "Ya, kamu sih bikin marah terus kenapa aku gak boleh masuk ke ruangan kamu? emangnya ada yang kamu sembunyiin dari aku ya?" tanya Raila, yang berada di pelukan Farel.
"Aku gak tahu kalau kamu datang, lagian sekretarisku juga gak bilang ke aku kalau ada tamu," ucap Farel.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1