
"Orang baru yang anda maksud adalah menantu sah dari keluarga Cartwright dan status saya sah di mata hukum dan negara..sementara hem siapa itu nama nya apa dia memiliki surat-surat kelengkapan A-DOP-SI..saya rasa anda tidak memiliki nya jadi sebenar nya di sini yang orang baru itu adalah anak angkat mu bibi Malena sayang" Genie berujar dan membalas ucapan Malena dengan sangat santai tanpa gas atau gigi.
Malena tampak kesal dan tak menyangka Genie tau bahwa dia tidak punya surat-surat itu..sialan tau dari mana wanita sialan itu..dia tidak boleh kalah karena dia tidak menerima kekalahan.
"Kau..lancang sekali kau mencampuri urusan ku..siapa kau hingga berani sekali mencari tau mengenai kehidupan ku hah?" bentak Malena menatap tajam Genie.
Ray tak tahan lagi..dia tidak bisa melihat Genie di hina dan di bentak seenak nya..dia tak bisa membiarkan nya lagi.
"CUKUP..kau sudah keterlaluan bibi..kau benar-benar membuatku tak tahan untuk merobek mulut lancang mu itu..sekali lagi kau menghina istri ku maka kau akan siap menerima resiko nya" ancam Ray memperingati bibi nya yang sudah kelewatan.
"Kau..kau sudah berani melawan ku Ray..hahaha aku tak menyangka kau bahkan tak menghormati bibi mu lagi hanya demi wanita itu..kalian sudah di cuci otak nya oleh gadis itu..apa kalian tidak sadar" Malena berteriak kesal karena keluarga nya bahkan tak ada yang memihak pada nya.
"Cukup Malena..nikmati saja waktu mu dan jangan ganggu atau mengurusi urusan kami..hidup lah seperti orang asing..anggap kita tak saling mengenal satu sama lain..ayo semua nya kita pergi" ayah Ray angkat bicara karena tak tahan lagi dengan ocehan Malena.
Dan mereka meninggalkan Malena sendirian dengan amarah yang meluap-luap..namun tanpa mereka sadari Malena mengambil vas bunga yang ada di atas meja dan langsung melemparkan nya pada Genie yang dia anggap biang dari masalah ini.
"Mati saja kau wanita sialannnn" ujar Malena berteriak dan melemparkan vas itu pada kepala Genie.
Belum sempat vas itu mengenai kepala Genie dengan santai nya Genie menangkap vas itu tepat sebelum vas itu mengenai kepala nya.
"Ck..kau benar-benar menguji kesabaran ku rupa nya nenek tua..baiklah rasakan apa yang akan aku lakukan terhadap mu" ujar Genie dingin menatap tajam Malena.
"Jangan ada yang berani melerai ku karena aku akan membuatnya bungkam" ujar Genie pada keluarga Ray.
Setelah berucap seperti itu Genie langsung menjatuhkan tas tangan nya kemudian berjalan sedikit cepat ke arah Malena dan tanpa Malena duga Genie dengan gesit melayangkan satu tendangan bebas pada perut Malena.
Bughhhh.....
"Arghhhhhh..kau ssshhh" Malena meringis merasakan sakit di perutnya akibat tendangan Genie.
__ADS_1
"Kenapa..bukan nya kau ingin menghabisi ku..lakukan lah jangan sungkan" tantang Genie tak kenal takut.
"Wanita sialan..berani nya kau berbuat kasar padaku..lihat lah akan aku laporkan kau pada polisi" Malena mengancam Genie akan melaporkan kepada pihak berwajib.
"Silahkan.. sebelum kau melaporkan ku maka aku jamin kau sudah ada di kandang macam milik keluarga ku.. bagaimana mau mencoba nya?"Genie tak takut pada ancaman Malena karena dia yakin keluarga nya tak akan membiarkan Genie kenapa-kenapa.
"Kau mengancam ku?" ujar Malena menatap nyalang Genie.
"Tidak..aku hanya berkata apa adanya.. bagaimana masih mau melaporkan nya..atau mau aku laporkan sendiri?" tantang Genie pada Malena karena dia yakin Malena tak akan melaporkan nya jika iya pun dia tidak akan kenapa-kenapa karena ada keluarga nya yang akan membela nya.
"Sialan kau..akan aku habisi kau" Malena benar-benar marah pada Genie.
Plakkkk.....
"Jangan banyak omong dan lawan aku" Genie berkata dengan dingin dan disusul pukulan pada pipi Malena.
"Arkhhhhhhh..berani nya kau sialan" teriak Malena yang merasakan sakit di pipi nya
Bughhhh....
"Cih hanya segitu kekuatan mu..lemah" Genie mengejek Malena karena tak mampu menghajar diri nya.
"Kau..arkhh awas ka__" ujar Malena hendak berucap namun sudah Genie potong lebih dulu.
"Apa..kau mengancam ku nenek tua..kau belum tau siapa aku karena jika kau tau siapa aku sebenar nya maka kau akan berlutut di depan kaki ku serta memohon ampun..jangan sekali-kali nya kau menggertak keluarga ku atau kau akan menyesali nya seumur hidup mu" ujar Genie dengan tatapan tajam nya memperingati Malena.
plakkkk....
Terakhir Genie menampar Malena dengan kencang hingga sudut bibir Malena berdarah..sementara ketiga orang yang lain nya hanya diam tak Melaka apapun karena mereka tau Genie seperti apa.
__ADS_1
"Ayo mom,dad, honey" ajak Genie pada ketiga orang lain nya.
Mereka tak banyak bicara dan langsung meninggalkan rumah.. Genie menggandeng lengan Ray dan menoleh ke belakang tanpa Malena duga Genie mengacungkan jari tengah nya pada Malena.
"Dasar wanita sialan..arghh lihat saja aku akan membalas mu" gumam Malena menatap nyalang Genie.
Malena masuk ke kamar dan menemui anak nya..Revya terkejut melihat ibu nya babak belur lebih tepat nya pipi Malena yang memar akibat tamparan Genie.
"Mommyyy..astaga mommy kenapa?" tanya Revya terkejut melihat keadaan ibu nya.
"Bantu mommy mengompres bibir mommy..sshhh" ujar Malena meminta anak nya membantu mengompres luka nya.
"Iya mom"
Revya segera mengambil kompresan air dingin agar darah di bibir ibu nya berhenti..dia masih bertanya-tanya mengapa mommy nya bisa terluka seperti ini..apa dia melewatkan sesuatu..ck dia menyesal tidak keluar tadi.
"Mommy kenapa sebenarnya?" tamat Revya di sela-sela mengompres bibir ibu nya.
"Semua gara-gara wanita sialan itu sayang..dia kasar pada mommy..mommy tidak terima" ujar Malena menceritakan inti dari kejadian tadi.
"Tunggu.. tunggu..wanita sialan itu.. istri ka Ray?" tebak Revya menatap ibu nya.
"Hm..kau benar" Malena membenarkan tebakan anak nya.
"Berani sekali dia..tidak bisa di biarkan..dimana dia mom?" Revya tak terima ibu nya di aniaya oleh Genie.
"Ck dia sudah pergi sayang bersama paman,bibi dan Ray juga entah lah kemana mereka akan pergi" Malena memberitahu bahwa mereka sudah pergi entah kemana.
"Pergi.. benar-benar tidak tau sopan santun..lihat saja nanti jika mereka pulang.. Revya akan membuat perhitungan pada nya" uajr Revya berjanji dengan emosi.
__ADS_1
Revya melanjutkan mengompres luka ibu nya dengan perlahan takut malah menyakiti ibu nya.